Saw (ANTARA) - Wali Kota Sawahlunto, Sumatera Barat Riyanda Putra mendukung dan meninjau kegiatan International Documentation Camp of Vernacular Architecture (Indonesia Vernadoc) yang meneliti dan mendokumentasikan teknologi tradisional kincir air atau 'kincia lasuang' untuk penumbuk kopi di Kenagarian Silungkang.
Program Indonesia Vernadoc 2025 ini menjadi wadah kolaborasi ilmiah internasional, melibatkan 27 mahasiswa dan dosen dari lima negara ; Indonesia, Malaysia, Thailand, Austria, dan Swedia. Kegiatan berlangsung selama dua pekan, sejak 14 hingga 28 Juli 2025, dengan fokus pada dokumentasi arsitektur vernakular melalui pendekatan manual yang akurat secara arsitektural.
Dengan mengusung tema kincir air, Indonesia Vernadoc 2025 mendokumentasikan “kincia lasuang”—teknologi lokal khas masyarakat Silungkang yang digunakan untuk menumbuk biji kopi. Mekanisme ini memanfaatkan aliran air sebagai sumber energi mekanis, menjadi bukti kearifan lokal dalam pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Wali Kota Riyanda menyampaikan apresiasi mendalam atas peran seluruh peserta dan panitia dalam mengangkat teknologi tradisional ke ranah ilmiah dan internasional.
"Program ini bukan sekadar kegiatan akademik, tapi juga misi pelestarian warisan budaya lokal. Dokumentasi visual yang dilakukan secara ilmiah ini akan menjadi referensi berharga lintas generasi dan lintas negara,” kata dia.
Lebih lanjut, Wali Kota menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Sawahlunto membuka ruang kolaborasi lanjutan dengan para peserta dan institusi asal mereka, baik dari dalam maupun luar negeri. Hasil dokumentasi ini akan menjadi bagian dari strategi pelestarian dan revitalisasi teknologi tradisional, serta pengembangan wisata edukatif berbasis budaya lokal.
“Kita ingin menjadikan teknologi lokal seperti kincia lasuang ini tidak hanya sebagai objek warisan, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dan daya tarik wisata berkelanjutan,” ujar Wali Kota.
Metodologi Vernadoc (Vernacular Architecture Documentation) merupakan pendekatan ilmiah dalam mendokumentasikan bangunan tradisional secara manual dan langsung di lapangan (on site), menggunakan media pensil, pena, dan tinta, berdasarkan pengamatan terhadap bentuk dan fungsi bangunan.
Pendekatan ini telah diterapkan secara luas di berbagai negara sebagai metode yang sensitif terhadap nilai historis dan estetika dari arsitektur vernakular.
