Padang (ANTARA) - Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) memotivasi calon jamaah haji di daerah itu untuk memperbanyak latihan fisik menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.
"Ibadah haji merupakan ibadah fisik sehingga calon jamaah haji harus mempersiapkan diri sebaik mungkin," kata Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Sumbar Mahyudin di Padang, Senin.
Hal tersebut disampaikan Kakanwil Kemenag Sumbar saat melakukan pembinaan manasik haji di Kabupaten Pesisir Selatan. Hingga saat ini pelaksanaan manasik terus dilakukan menjelang keberangkatan kelompok terbang perdana pada 3 Mei 2025 melalui Bandara Internasional Minangkabau di Kabupaten Padang Pariaman.
"Setidaknya calon jamaah haji melatih fisik dengan berjalan kaki agar lebih siap menjalani seluruh rangkaian ibadah setibanya di Tanah Suci," ujar Mahyudin.
Ia menjelaskan saat melakukan tawaf (mengelilingi Kabah) dan posisi jamaah dengan Kabah lumayan jauh, setidaknya bisa memakan waktu sekitar satu jam. Belum lagi ditambah dengan ibadah sa'i yang juga memakan waktu sekitar satu jam.
"Jika kita melakukan tawaf berdekatan dengan Kabah itu jaraknya sekitar 500 meter satu putaran, dikalikan tujuh putaran maka sekitar 3,5 kilometer. Kalau jaraknya agak jauh ditambah kondisi berdesakan bisa jadi satu kilometer satu putaran. Artinya kita akan berjalan tujuh kilometer satu kali tawaf," jelas dia.
Begitu juga dengan ibadah sa'i (lari-lari kecil) antara Safa dan Marwa sekitar 400 sampai 450 meter dikalikan tujuh kali putaran. Maka jamaah akan berjalan sekitar tiga kilometer. Ini butuh fisik yang kuat dan sehat.
"Atas dasar itulah membutuhkan fisik yang kuat serta sehat. Caranya harus melatih dan membiasakan diri berjalan kaki dari sekarang," ujar dia.
Menurut dia, apabila calon jamaah haji tidak membiasakan diri melatih fisik seperti berjalan kaki maka akan terasa sangat melelahkan ketika menjalankan rangkaian rukun Islam kelima tersebut.
"Jadi, karena kita tidak terbiasa berjalan jauh, kita akan merasa lelah sehingga harus dilatih dari sekarang," pesan dia.
Begitu juga dengan ibadah lainnya seperti melontar jumrah. Calon jamaah haji harus berjalan kaki dari tenda Mina menuju Jamarat (tempat melontar jumrah) sekitar tiga hingga empat kilometer.
Bagi calon jamaah haji yang kondisinya benar-benar tidak memungkinkan untuk melakukan tawaf dan sa'i secara mandiri, terdapat fasilitas seperti kursi roda dan skuter namun dikenai biaya tambahan.
Ia juga berpesan agar setiap calon jamaah haji mengikuti manasi dengan sebaik mungkin. Sebab, jangan sampai waktu belasan tahun dan biaya besar yang sudah dikeluarkan mendapatkan hasil yang tidak maksimal.
"Ilmu manasik ini sangat penting untuk menambah wawasan dan memperkuat pengetahuan kita. Tanpa ilmu pengetahuan yang cukup, akan sulit bagi bapak ibu melaksanakan ibadah haji dengan baik," ujar dia.
