Bahagia janda tua pencari siput saat rumahnya "dibedah" taruna Latsitardanus XLIII

id Latsitardanus XLIII, Solok Oleh Miko Elfisha

Bahagia janda tua pencari siput saat rumahnya "dibedah" taruna Latsitardanus XLIII

Rumah Eni setelah direhabilitasi peserta Latsitardanus XLIII. (ANTARA/ist)

Solok (ANTARA) - Raut bahagia tergambar jelas pada wajah tua Eni (67), janda tua warga Parak Anau, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok saat memperlihatkan rumahnya yang telah "mengkilat" setelah "dibedah" para taruna peserta Latsitardanus XLIII.

Dengan suara agak keras ia menunjukkan bagian rumahnya yang semakin lapang setelah diperbaiki. Ruang tamu yang sebelumnya tidak ada, sekarang sudah tertata rapi.

Memiliki rumah yang layak tidak pernah terbayangkan oleh wanita tua itu. Setelah berpisah dengan suaminya puluhan tahun lalu, ia tidak punya penghasilan tetap.

Anak satu-satunya yang diharapkan untuk membantu ekonomi keluarga juga sudah lama meninggal bersama menantunya belasan tahun lalu. Mereka meninggalkan tiga orang anak yang harus menjadi tanggungan janda tua itu.

Satu-satunya barang berharga yang mereka miliki hanya sepetak rumah reot itu. Rumah semi permanen yang hanya berdinding terpal.

Setelah cucu pertamanya pergi untuk mencari pekerjaan dan cucu keduanya dibawa oleh suami, ia hanya tinggal berdua dengan cucu bungsunya, Zahra (16) yang saat ini sudah menginjak bangku kelas dua SMA 1 Kota Solok.

Untuk biaya hidup, Eni mencoba menjual minyak eceran. Minyak jenis pertalite itu dikemas dalam botol minuman dan susun pada rak kayu di samping rumah. Sayangnya usaha itu tidak memberikan penghasilan yang baik. Seringkali dalam satu hari itu tidak ada orang yang singgah untuk membeli.

Ia juga berusaha mencari siput di sawah Solok yang luas. Mengumpulkan siput juga bukan hal yang mudah. Ia harus pergi beberapa hari. Biasanya pergi hari Rabu hingga Jumat. Kemudian hari Sabtu menjualnya ke Kabupaten Sijunjung, sekitar 75 kilometer dari Kota Solok.

Ia memilih menjual ke Sijunjung karena harganya lebih baik dibanding dijual di Kota Solok. Di Sijunjung satu liter siput sawah bisa dijual dengan harga Rp25 ribu-30 Ribu per liter.

Jika bisa mengumpulkan hingga lima liter dan terjual habis, uangnya cukup untuk membeli beras dan belanja cucu bungsunya untuk pergi sekolah.

Selain mencari siput, Eni juga mencoba membuat kerajinan tas menggunakan bahan botol plastik bekas minuman. Ia pernah mendapatkan pelatihan membuat tas tersebut dan mencoba membuatnya.

Namun bahan untuk membuat tas itu juga susah di dapat. Ia harus mencari selama beberapa hari untuk membuat satu buah tas yang dijual dengan harga Rp20 ribu.

"Tidak banyak, tetapi bisa untuk tetap bertahan hidup," katanya.

Karena itu saat tahu rumah reotnya akan diperbaiki oleh peserta Latsitardanus XLIII, ia sangat bahagia. Betapa tidak, saat cucu perempuannya mulai beranjak besar, perasaan was-was selalu menghantui wanita tua itu. Rumahnya yang hanya berdinding terpal tidak cukup aman untuk melindungi ia dan cucunya jika ada orang yang berniat jahat.

Sekarang rasa was-was itu sudah hilang. Rumah semi permanen yang dulu hanya berdinding terpal saat ini telah berdinding Glassfiber Reinforced Concrete (GRC) dengan ornamen cat biru muda yang rapi. Rumah itu seperti disulap menjadi rumah yang layak huni dalam waktu dua minggu.

Meski secara ekonomi kehidupan mereka masih jauh dari kata cukup, setidaknya sudah memiliki rumah yang lebih layak untuk ditinggali.

Rumah Eni merupakan satu dari beberapa rumah tidak layak huni yang direhabilitasi oleh taruna yang mengikuti kegiatan Latsitardanus di Kota Solok berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Solok melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Rumah Eni setelah direhabilitasi peserta Latsitardanus XLIII. (ANTARA/MikoMiko Elfisha)


Hanya dalam dua minggu, dengan bahu membahu dan didukung masyarakat setempat, rumah reot itu berubah menjadi rumah yang bersih ran rapi sehingga layak untuk ditinggali.

Wali Kota Solok Zul Elfian Umar mengapresiasi Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) XLIII tahun 2023 yang digelar di kota itu.

Ia menyebut para taruna calon pemimpin bangsa itu tidak gagap saat berinteraksi dengan masyarakat. Ia meyakini kegiatan itu akan berdampak positif bagi calon perwira itu untuk mengasah jiwa kepedulian terhadap sesama.

Selain rumah Eni, bedah rumah juga dilakukan di Kelurahan Nan Balimo, Kecamatan Tanjung Harapan. Bedah rumah juga dilakukan oleh anggota Latsitardanus XLIII/2023 Yontarlat 4/ Kijang.

Selain program bedah rumah, 309 peserta Latsitardanus XLIII juga melakukan kegiatan pengecatan pinggiran Sungai Batang Lembang, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, agar terlihat lebih indah dan rapi.

Selama kegiatan Latsitardanus XLIII di Kota Solok, para peserta Latsitardanus XLIII juga membangun tugu di di Simpang Lima Jalan Lingkar Utara, Kelurahan Laing, Kota Solok.

Tugu Latsitarda XLIII ini dibangun dengan bentuk lima pilar yang melambangkan pancasila, dengan ukuran tinggi kurang lebih 3,5 meter.

Peserta Latsitarda XLIII juga melaksanakan kegiatan sosialisasi, penyuluhan, serta promosi sekolah kedinasan selama berada di Kota Solok.

Latsitardanus merupakan kegiatan integrasi yang dilaksanakan setahun sekali pada akhir pendidikan oleh taruna tingkat IV (akhir) Akademi Militer (Akmil), Akademi Angkatan Udara (AAU), Akademi Angkatan Laut (AAL) dan Akademi Kepolisian, Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara (PSSN).

Latsitadarnus berlangsung dari tanggal 19 Mei hingga tanggal 8 Juni 2023 di Sumbar.

Penempatan pelaksanaan kegiatan terdiri dari Kompi BS/Kijang di Kota Padang. Yontarlat II/HIU di Kota Pariaman, tersebar pada empat Kecamatan 55 Nagari atau Desa.

Kemudian, Yontarlat III/Elang di Kabupaten Pasaman tersebar pada 12 kecamatan 62 nagari. Untuk Yontarlat IV/Kijang di Kota Solok dengan 2 kecamatan 13 nagari. Untuk Yontarlat 1/Macan di Pesisir Selatan dengan 15 kecamatan 182 nagari.*