Penjual Bendera di Padang Alami Penurunan Omset

id berita sumbar,berita padang,harga bendera padang

Penjual Bendera di Padang Alami Penurunan Omset

Penjual Bendera di Padang Alami Penurunan Omset

Padang (ANTARA) - Penjual bendera merah putih di sekitar jalan-jalan raya di Kota Padang yang banyak ditemui menjelang hari kemerdekaan RI mengaku mengalami penurunan omset dari tahun-tahun sebelumnya.

Iwan, seorang penjual bendera di sekitar Simpang Karya dan mengaku sudah menjual bendera selama dua puluh tahun lebih saat ditemui Senin (16/8) menyatakan dagangannya mengalami penurunan omset sebanyak delapan puluh persen tahun ini.

“Pada tahun lalu transaksi penjualan bendera saya kurang kebih sebesar Rp20 juta, namun sampai hari ini penjualan turun sekitar delapan puluh persen. Penurunan penjualan juga disebabkan karena saya telat mulai jualan, tahun-tahun sebelumnya saya mulai jualan 10 Juli tapi karena PPKM saya baru mulai pada akhir Juli,” ujar Iwan yang berjualan selama 24 jam itu.

Pedagang bendera yang merupakan pekerjaan musiman itu menjadi ikon unik menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia setiap tahunnya. Kegiatan pemasangan bendera dan atribut kemerdekaan di setiap rumah menjadi tradisi wajib masyarakat menyambut hari kemerdekaan.

Jenis bendera yang dijual beragam, yaitu bendera kapal, bendera tiang, umbul-umbul bendera, dan dijual berbagai macam ukuran.

Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai dari Rp15 ribu sampai Rp125 ribu. Iwan mengaku memproduksi sendiri bendera-bendera yang ia jual. Selain di sekitar Simpang Karya, bendera-bendera buatannya juga dijual disamping masjid Nurul Iman, Sawahan, dan Khatib Sulaiman.

Menurut Iwan, penyebab turunnya minat masyarakat membeli bendera tahun ini adalah pedagang bendera yang telat berjualan dan masyarakat lebih memilih memakai bendera yang lama. “Saya perhatikan orang lebih banyak memasang bendera yang sudah lama dan sedikit yang membeli bendera baru,” jelasnya.

Pewarta :
Editor: Maswandi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.