Jakarta, (Antara) - Masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Jembrana, Bali yang difasilitasi oleh TNI Angkatan Laut mengusulkan Kapten Laut Markadi sebagai pahlawan nasional karena perannya dalam perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI di Bali pada tahun 1945-1949. "Usul tersebut tidaklah berlebihan karena Kapten Laut Markadi bersama pasukan-M yang dipimpinnya merupakan bagian yang terpisahkan dari sejarah perjuangan mempertahankan Kemerdekaan RI, khususnya di tanah Bali," kata KSAL Laksamana TNI Marsetio. "Perjuangan dan pengorbanan beliau membangkitkan persatuan antara rakyat dan pejuang, sehingga memberikan andil yang besar terhadap eksistensi Bali dalam pangkuan NKRI," kata Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio dalam amanatnya yang dibacakan Asrena KSAL Laksamana Muda TNI Ade Supendi dalam Seminar Nasional "Peran Kapten Laut Markadi dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan RI Tahun 1945-1949", di Wisma Elang Laut TNI AL, Jakarta, Selasa. Menurut dia, peristiwa Operasi Lintas Laut Jawa-Bali yang terjadi 67 tahun yang lalu di Selat Bali itu telah mengukir sejarah pertempuran laut pertama dalam perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari penjajahan pemerintah Belanda. "Hal ini tentu semakin menguatkan kecintaan kita kepada para pejuang yang memiliki semangat yang tinggi dan telah ikut andil dalam upaya menyatukan NKRI. Oleh karena itu, TNI AL berkepentingan ikut mengupayakan lahirnya penghargaan dari negara kepada para pejuang, seperti Markadi," kata KSAL. Kapten Laut Markadi dalam memimpin pasukan-M telah mengekspresikan nilai-nilai penting dari seorang pemimpin sejati. Pasukan M yang dipimpinnya telah mampu melewati pertempuran laut melawan kekuatan Angkatan Laut Kerajaan Belanda dengan gemilang. "Peristiwa ini telah dicatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia," ujarnya. Kapten Markadi selama pengabdiannya pernah menjadi seorang prajurit AL dengan pangkat Mayor, namun karena keputusan pemerintah Kapten Markadi harus legowo untuk menjadi seorang prajurit Angkatan Darat dan pangkatnya diturunkan menjadi Kapten. "Baginya (Markadi, red), tidaklah penting seorang anak bangsa berbaju abu-abu atau hijau karena ada yang lebih penting karena ada yang lebih penting dari sekedar identintas, yakni pengabdian terhadap bangsa dan negara," kata Marsetio. Melalui seminar ini, pihaknya mengajak untuk mengkaji dan memikirkan ulang bagaimana selayaknya negara memberikan apresiasi atas jasa-jasa para pejuang, seperti Markadi. Melalui forum ini diharapkan kiprah perjuangannya dapat teruji secara akademis dan kredibel guna memperkuat usulan menjadi pahlawan nasional. Pemberian gelar pahlawan nasional itu, tambah KSAL, diharapkan bukan sekedar simbolis, namun memiliki dimensi yang lebih luas, yakni menghidupkan sang tokoh dalam keseharian dan menjadikannya sebagai suri teladan dan panduan yang mencerahkan bagi generasi penerus bangsa dalam menghadapi tantangan jaman. Bervisi maritim Sementara itu, Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Muda Ade Supandi mengatakan Indonesia masih sangat miskin dengan pahlawan nasional yang bervisi maritim. "Kapten Markadi dikenal sebagai pejuang pertempuran laut pertama di masa kemerdekaan," kata Ade. Menurut dia, Markadi layak menjadi pahlawan karena berjuang persis enam bulan setelah kemerdekaan. "Dinobatkannya Markadi sebagai pahlawan nasional nantinya akan membuat prajurit TNI AL dan kaum muda secara umum bisa terinspirasi atas perjuangannya," katanya. Oleh karena itu, TNI AL membantu mengupayakan agar Markadi menjadi pahlawan nasional. Saat ini TNI AL sedang menyiapkan detail data kepahlawanan Markadi sebagai syarat pengakuan. Beberapa waktu lalu tim TNI AL bahkan berkunjung ke Belanda untuk mengetahui detail perjuangan Markadi selama di Bali. Kapten Markadi dikenal sebagai prajurit TNI AL yang berani menghadapi pasukan Belanda dalam pertempuran jarak dekat. Markadi dan pasukannya menyeberangi Selat Bali dari Jawa Timur dalam Operasi Lintas Laut Jawa-Bali untuk bisa menyusup ke Bali yang saat itu dikuasai Belanda. "Markadi dan pasukannya memakai perahu jukung (perahu kayu) dan membawa senjata dan granat, namun mampu menenggelamkan satu kapal patrolu Belanda yang jauh lebih canggih," kata Ade. Aksi heroik Markadi dan pasukannya ini diapresiasi masyarakat Jembrana dengan membuat monumen khusus untuk dia. "Masyarakat di sana mengakui bahwa Markadi merupakan pahlawan," ujarnya. (*/sun)
Berita Terkait
Hiu paus dan laut yang diuji
Senin, 19 Januari 2026 11:08 Wib
RI upayakan penyelamatan WNI ABK yang diculik bajak laut di Gabon
Selasa, 13 Januari 2026 15:49 Wib
BMKG: Kota Padang diprakirakan hujan berintensitas ringan pada Kamis
Kamis, 8 Januari 2026 10:41 Wib
Universitas Bung Hatta dan UMT Gelar International Lecture Series Bahas Eko-Arkeologi Maritim di Kawasan Konservasi Laut
Selasa, 23 Desember 2025 11:17 Wib
BMKG peringatkan gelombang tinggi dipicu Bibit Siklon Tropis 93S
Selasa, 23 Desember 2025 11:10 Wib
KKP bersihkan pesisir Kota Padang pascabanjir
Senin, 22 Desember 2025 16:46 Wib
Kemenimipas RI kirim bantuan bencana Sumbar lewat jalur laut
Senin, 8 Desember 2025 18:37 Wib
Basarnas distribusikan logistik jalur laut ke warga terdampak bencana
Minggu, 7 Desember 2025 13:56 Wib
