Tiang Tabuik Pariaman Dicari Ke Pulau Gosong

id Tiang Tabuik Pariaman Dicari Ke Pulau Gosong

Pariaman, (ANTARA) - Tiang untuk puncak Tabuik, sebuah keranda berbentuk menara yang dibuat dan dipertunjukkan setiap bulan Muharram di Pariaman, Sumatera Barat, dicari ke Pulau Gosong dengan waktu tempuh 2,5 jam dari kota itu. "Tonggak atau tiang puncak atau biasa disebut 'Gomaik' itu memang diperlukan kayu khusus, kuat dan memerlukan daya lentur jika diayun saat Tabuik dihoyak," kata Pengamat Budaya Pariaman, Abrar Khairul Ikhirma di Pariaman, Jumat. Pesta Budaya Tabuik Pariaman tahun ini akan digelar dari tanggal 15 hingga 25 November 2012. Abrar menjelaskan, tiang puncak menyangga "bungo" berbentuk payung dan berada di bagian bangunan tertinggi Tabuik. Pulau Gosong, katanya, ditempuh dengan waktu 2,5 jam menggunakan perahu bercadik mesin 9 pk jika cuaca dan arus laut normal. "Pulau itu satu dari lima pulau yang terletak di lepas pantai Pariaman, kini masuk dalam wilayah Kota Pariaman dan nyaris tak dikunjungi oleh masyarakat umum kecuali nelayan," jelas Abrar yang ikut ke pulau bersama tim pembuat Tabuik Nagari Pasa beberapa waktu lalu. Kendati demikian, tidak semua nelayan yang berminat mampir, karena pulau itu dikelilingi hamparan karang dan berbahaya bagi keselamatan perahu sebab susah untuk mendekati bibir pantai. Maka itu, kata Abrar, tahun ini sengaja ana Nagari Pasa membuat tiang penyangga puncak Tabuik dari Pulau Gosong yang dianggap sebagai pulau mistis. Sebagai tiang puncak itu, diambil urat gantung batang "Jawi-jawi" atau biasa disebut beringin yang usianya sudah tua berada di pulau itu. Selain mendapatkan kayu untuk tonggak puncak, juga diambil kayu untuk tonggak peti-peti atau kamar-kamar yang terdapat di bagian pinggang Tabuik. "Pengambilan sampai berlangsung selama dua jam, karena kesulitan untuk memotong dan mengeluarkannya dari kerimbunan pohonnya. Satu dua orang harus memanjat ke atas pohon ke dahan setinggi 7 sampai 8 meter dari permukaan tanah itu," terangnya. Azwar, pembuat Tabuik Nagari Pasa yang ikut dalam upaya pencarian kayu untuk tiang puncak tersebut mengaku, proses pengambilan tidak mudah. Ia bersama tim kerjanya, harus melakukan ritual tersendiri sebagai bentuk izin atas penunggu pulau yang masih asri tersebut agar tidak berimbas buruk di kemudian hari. Selama ini, pulau tersebut sudah membuat banyak perahu nelayan hancur karena kondisi karangnya. Tabuik tahun ini, katanya, Nagari Pasa akan membuatnya setinggi 12,5 meter. Ia berharap, dengan dipakainya kayu dari urat gantung beringin Pulau Gosong itu, akan membuat puncak Tabuik kokoh dan tidak patah saat dihoyak. Dua Tabuik tahun lalu puncaknya patah sebelum sampai ke bibir pantai untuk dilarung. Tabuik terdiri atas beberapa bagian, yang mana di setiap bagian tersimpan makna tersendiri, seperti bagian puncak (mahkota) Tabuik, melambangkan kepemimpinan dan merupakan tempat untuk mendapatkan perlindungan Kemudian, Gomaik yaitu penyangga bawah mahkota tabuik, yang merupakan cerminan suatu tindakan yang berlandaskan pada kebenaran. Paling bawah terdapat Bouraq adalah ilustrasi seekor kuda yang memiliki sayap dan berwajah manusia, yang melambangkan arak-arakan membawa peti yang dalam filosofi Minangkabau sebagai Ninik Mamak yang mencerminan kearifan dan kemampuan. Pesta Budaya Tabuik digelari sebagai perayaan memperingati Hari Asyura (10 Muharram) mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW. (*/igy/sun)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.