Legislator Solok dorong kembalikan kejayaan jeruk kacang

id Limau kacang,Jeruk Kacang,Kabupaten Solok

Kelompok pembudidaya Limau Kacang di X Koto Singkarak. (Antara Sumbar/ Tri Asmaini)

Arosuka, (Antaranews Sumbar) - Anggota DPRD Kabupaten Solok, Sumatera Barat Patris Chan mendorong petani daerah itu kembali membudidayakan Limau atau Jeruk Kacang, Kecamatan X Koto Singkarak karena dulu merupakan buah yang terkenal di kabupaten tersebut.

"Selain tanaman padi dan buah markisa, Kabupaten Solok dulunya juga terkenal sebagai penghasil jeruk manis yang disebut limau Kacang, Namun, saat ini hanya beras dan buah markisa yang dikenal di daerah lain," ujar Anggota DPRD Kabupaten Solok, Patris Chan di Arosuka, Rabu.

Ia menjelaskan Limau Kacang pernah menjadi jeruk primadona Sumatera Barat bahkan nusantara. Akibat penyakit pada 1970 an, Limau Kacang ini nyaris punah, uniknya Limau ini hanya tumbuh di Nagari Kacang, Kecamatan X Koto Diatas, yang mempunyai cita rasa yang khas.

"Limau kacang itu paling manis dan banyak di Kabupaten Solok. Tapi, sekarang untuk kebutuhan sehari-sehari saja, saya tidak menemukan lagi jeruk kacang," katanya.

Ia menilai, hilangnya budidaya limau kacang di Kabupaten Solok merupakan dampak dari lemahnya inovasi yang seharusnya dikembangkan Dinas Pertanian. Sehingga, komoditas unggulan tersebut tidak dapat dilanjutkan untuk bisnis pertanian.

Seharusnya, Dinas Pertanian memiliki strategi bagaimana memgembangkan buah-buahan yang bisa dipatenkan sebagai hasil pertanian Kabupaten Solok.

"Jangankan untuk mengembangkan hasil pertanian baru, menjaga keberadaan saja tidak bisa. Padahal, kita punya tiga balai pusat penelitian. Seharusnya, Dinas Pertanian dapat menjalin komunikasi guna mengembangkan potensi buah-buahan ini," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok Admaizon mengatakan Limau Kacang punah karena diserang penyakit CVPD (Citrus VeinPhloem Degeneration), suatu bakteri tanaman yang mematikan.

"Beberapa tahun yang lalu kalau tidak salah Pemkab Solok sudah membudidayakannya, namun tetap saja sulit menghindari penyakit tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM), sudah ada peneliti dari Unand yang melakukan penelitian dan pengembangan Limau Kacang tersebut bekerja sama dengan Balitbu Tropika Aripan, Solok. Saat ini sudah ada belasan orang yang kembali membudidayakan limau kacang.

"Kalau dari Pemkab, saat ini kita belum ada program pembudidayaan," katanya.

Salah seorang warga yang membudidayakan kembali Limau Kacang, Yunasman menyebut ia mengambil peluang menjadi petani buah lokal, serta komitmen melakukan budidaya.

Ia menanam bibit limau Kacang dihamparan kebun buah Naga. Apalagi, pihak Unand yang bersemangat mengembalikan kejayaan Limau Kacang, juga turut menumbuhkan keyakinannya untuk berkebun.

"Saya mengumpulkan kawan-kawan pensiunan dengan mengusung semangat berkebun, sudah empat bulan kami menanam bibit limau Kacang, di 16 titik lahan seperti di Nagari Aripan, Singkarak, Saniangbaka, hingga ke Sulit Air," kata mantan Asisten II Pemkab Solok tersebut.

Menurutnya, saat ini ada sekitar 12 orang yang tergabung dalam group Pengembang Limau Kacang. Pihaknya mengajukan permintaan bantuan bibit pada 2019 sebanyak 2500 batang, sehingga luas budidaya limau Kacang mencapai 10 hektare.

Tahun ini, pendistribusian bibit kepada 12 petani Limau Kacang dilakukan pada Maret 2018. Masing-masing melakukan penanaman sekira 50 sampai 450 batang bibit di kebun masing-masing.

"Tidak sekedar mencari kesibukkan, tetapi kami melakukan ini sebagai upaya memberi semangat kepada masyarakat sekitar agar ikut berkebun dengan menanam komoditi Limau Kacang ini," jelasnya. (*)
Pewarta :
Editor: Mario Sofia Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar