Ada tradisi maanta marapulai di Festival Pasa Harau

id Tradisi, budaya, minang

Ninik mamak melakukan panitahan (berunding) dalam prosesi maanta marapulai di Nagari Harau Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, Sabtu (14/7). Prosesi tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian kegiatan Pasa Harau Culture and Art Festival 3 yang digelar dari tanggal 13 hingga 15 Juli 2018. (Antara Sumbar/Syahrul R/18.)

Limapuluh Kota, (Antaranews Sumbar) - Rangakaian kegiatan Pasa Harau Culture and Art Festival 3 yang digelar di nagari Harau Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) hadirkan tradisi Alua Maanta Marapulai untuk disaksikan oleh para pengunjung.

"Dari sekian banyak tradisi yang ada, kami sengaja memilih tradisi Alua Manjapuik Marapulai karena dinilai unik dan menarik," kata Direktur Pasa Harau, Dedi Novaldi di Harau, Sabtu.

Kegiatan Pasa Harau Culture and Art Festival merupakan sebuah perhelatan seni dan budaya yang digelar di tengah-tengah perkampungan masyarakat pada tanggal 13 hingga 15 Juli 2018 di Kenagarian Harau.

Ia menyebutkan, prosesi Maanta Marapulai atau mengantar mempelai pria tersebut sengaja dihadirkan untuk disaksikan oleh seluruh pengunjung Pasa Harau, terutama yang berasal dari luar daerah dan luar negeri untuk memperkenalkan tradisi Minangkabau.

Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Harau, Defendi Datuak Patiah Nan Gamuak mengatakan prosesi Maanta Marapulai merupakan salah satu dari beberapa prosesi dalam rangkaian pernikahan dan pesta di Minangkabau.

Ia mengatakan Maanta Marapulai dapat dikatakan sebagai prosesi terakhir dalam rangkaian acara pesta perkawinan, setelah dilakukannya prosesi pernikahan.

Pada kesempatan tersebut si mempelai pria atau marapulai awalnya dijemput oleh perwakilan pihak mempelai wanita dengan sebutan Manjapuik Marapulai.

Menurut dia, setelah itu baru dilanjutkan dengan arak-arakan mempelai pria bersama pihak keluarganya menuju ke rumah mempelai wanita.

Arak-arakan tersebut juga dimeriahkan dengan kesenian khas Minang yaitu Talempong Pacik yang mengiringi rombongan.

"Arak-arakan ini bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat luas bahwa di daerah tersebut terdapat sepasang pria dan wanita yang telah melepas masa lajang," ujarnya.

Ia menambahkan, dengan ditampilkannya salah satu tradisi yang ada pada masyarakat Harau ini diharapkan dapat melestarikan tradisi tersebut dan dapat dikenal oleh masyarakat luas.***4***
Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar