Ini permintaan Dinas Kesehatan Riau pada masyarakat

id makanan kaleng

Makanan Kaleng (ANTARA SUMBAR FOTO/Muhammad Arif Pribadi)

Dalam mengkonsumsi makanan kaleng baik buah, ikan, sayur, daging dan sebagainya memang harus diperhatikan kemasan dan isinya.
Pekanbaru, (Antaranews Sumbar) - Dinas Kesehatan Riau meminta masyarakat provinsi itu agar mewaspadai berbagai makanan kemasan dalam kaleng karena bisa berdampak tidak baik pada kesehatan.

"Masyarakat harus faham tips saat membeli aneka makanan yang telah dikalengkan, agar tidak terdampak ketika ada kerusakan pada bahan dalam kaleng, " kata Kepala Dinas Kesehatan Riau, Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru, Selasa.

Ia menyebutkan ini menyikapi temuan kasus ikan kaleng yang mengandung cacing pita di Meranti, Riau beberapa waktu lalu.

Menurutnya dalam mengkonsumsi makanan kaleng baik buah, ikan, sayur, daging dan sebagainya memang harus diperhatikan kemasan dan isinya.

Pertama ujar dia menyampaikan tips, secara kemasan produk olahan kaleng harus dipastikan utuh tidak rusak atau penyok apalagi bocor.

Selanjutnya perhatikan izin edar BBPOM dan Diskesnya, kemudian tanggal kedaluwarsa.

Kemudian jika poin tersebut dalam kondisi baik dan aman, saat membuka kemasan isinya hal yang terpenting diperhatikan.

"Walau secara fisik kemasan dan tanggal kedaluwarsa aman bukan jaminan isinya juga tidak ada masalah, " ujar Mimi.

Makanya, tambahnya tips melihat isi makanan kaleng bisa dari warna dan baunya.

Kalau warnanya sudah berubah tidak selayaknya makanan tersebut saat kondisi baru, semisal ada tanda-tanda rusak itu patut dicurigai.

"Kemudian bisa dicek dengan mencium baunya, jika aneh tidak segar bisa dipastikan makanan tersebut sudah rusak jangan dikonsumsi, " saran Mimi.

Ia menilai rusaknya sebuah makanan dalam kaleng bisa dikarenakan saat proses pengolahan kurang bersih, dan higenis.

"Kemudian bisa juga akibat proses penyimpanan mempengaruhi, suhu yang panas dan dingin membuat makanan itu berulat, karena untuk makanan kaleng ada aturan penyimpanan harus sesuai standar," pungkasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti Irwan Suwandi, melalui Kasi Kefarmasian Alkes dan PKRT Refiadi menyebutkan bahwa sangat berbahaya jika makanan yang bercampur cacing pita terkonsumsi.

"Jika sempat dikonsumsi itu tentu sangat berbahaya, dan biasanya berawal dari sakit perut kemudian juga bisa menimbulkan gejala-gejala lainnya," kata Refiadi.

Dijelaskan Refiadi, menindaklanjuti persoalan temuan cacing pada ikan kaleng beberapa waktu lalu di Meranti, pihaknya telah berkoordinasi dengan Disperindag Kepulauan Meranti.

Hanya saja dari pihak Diskes belum bisa bertindak lebih jauh karena barang bukti berupa ikan sarden tersebut telah dibuang oleh si penemu awal.

"Kita siap turun dan mengecek kelapangan, namun barang buktinya telah tiada, jadi kita belum bisa menindaklajuti lebih jauh, seharusnya dilakukan pengecekan di labor baru bisa tahu hasilnya seperti apa," tambah Refiadi.

Sebelumnya diberitakan Lili warga Jalan Puskesmas Desa Alahair, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kamis (15/3/2018) telah menemukan cacing pita didalam ikan kaleng merek mackarel yang dibelinya pada sebuah warung kelontong milik Abun.

Dari tempat kejadian tim Disperindag setempat berhasil menemukan 45 ikan kaleng merek yang sama.
Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar