Hot Water Boom Sapan Maluluang Kesulitan Air

id Objek, Wisata, Kesulitan, Air

Hot Water Boom Sapan Maluluang Kesulitan Air

Objek wisata Hot Water Boom Solok Selatan. (ANTARA SUMBAR)

Padang Aro, (AntaraSumbar) - Objek wisata air panas Hot Water Boom Sapan Maluluang, Kabupaten Solok Selatan kesulitan air untuk mengisi kolam renang akibat kemarau, kata Kepala Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) Dedi Setiawan.

"Kesulitan air ini sudah terasa sejak beberapa minggu yang lalu. Minggu lalu kami sempat mengeringkan kolam untuk mengganti airnya, namun ketika air baru akan dimasukan ternyata debetnya sudah surut sehingga tidak bisa masuk," katanya di Padang Aro, Selasa.

Kini, sebutnya, air kolam untuk orang desa hanya diatas mata kaki. "Kami sengaja tidak mengeringkannya. Jika dikeringkan, lantai kolam akan retak," katanya.

Ia menyebutkan, objek wisata itu memiliki tujuh kolam renang, namun yang digunakan hanya lima kolam.

Selain air panas yang bersumber dari mata air panas yang berada dalam kawasan objek wisata itu, katanya, kolam renang juga diisi air dingin. Pasokan air dingin selama ini bersumber dari irigasi di daerah itu. Sebelum dialirkan ke kolam renang, air itu terlebih dahulu masuk ke bak penyaringan.

"Kondisi kini harus berbagi dengan sawah masyarakat. Karena menyusut, air yang bisa dimasukan ke kolam tidak bisa maksimal seperti sebelumnya," tambahnya.

Sulitnya ketersediaan air ini, katanya, berpengaruh terhadap kunjungan ke objek wisata yang memanfaatkan potensi air panas itu. Sebelumnya, dalam seminggu bisa meraup pendapatan sebesar Rp3 juta, namun sekarang Rp1 juta susah.

"Bahkan ada pengunjung mengembalikan tiket masuk karena tidak bisa mandi di kolam renang," katanya.

Pada tahun ini UPTD Hot Water Boom Sapan Maluluang mendapatkan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp114 juta, namun hingga Oktober capaiannya sudah Rp170 juta.

Untuk mengatasi kondisi kesulitan air ini, sebutnya, pemerintah setempat pada tahun 2016 berencana mencari sumber air lain dan membangun pipa sepanjang empat kilometer dari sumber air tersebut. "Rencananya air dingin akan diambil diirigasi Pinang Awan yang saat ini dijadikan sumber PLTMH Pinang Awan," katanya.

Opsi lain, katanya, bisa dengan bangun sumur bor di lokasi tersebut. "Sumber air ini sudah sangat mendesak karena selama ini, sebelum kemarau, kami juga sudah kekurangan air," katanya.

Ia menyebutkan, selain membangun pipa, tahun depan rencananya juga dibuat bak penyaringan yang kapasistasnya lebih besar dari yang ada kini.

Kondisi berbeda dialami oleh PDAM Solok Selatan. Kendati sumber air mulai menyusut, kata Direktur PDAM Solok Selatan, Yalfis, hal itu belum berpengaruhi terhadap pasokan air ke perusahaan itu.

"Memang ada penyusutan air, tapi belum berpengaruh terhadap ketersediaan dan penyaluran air ke pelanggan," katanya

Ia menyebutkan, satu dari dua mata air, yakni di Sungai Cangkar, yang menjadi sumber air dalam kondisi terancam kekeringan. Namun begitu, katanya, itu tidak mempengaruhi ketersediaan air PDAM karena sumber air terbanyak berasal dari sungai. "Setidaknya ada 14 sungai yang menjadi sumber air kami," katanya.

Ia mengatakan, meskipun telah terjadi penyusutan air, pihaknya tidak melakukan pembagian air. "Air mengalir 24 jam. Tidak ada pembagian air," katanya. (*)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.