Padang Aro, (AntaraSumbar) - Sebanyak 20.000 warga Kecamatan Sangir Balai Janggo, Kabupaten Solok Selatan menderita kekeringan karena kemarau panjang yang melanda daerah itu selama empat bulan terakhir.
"Selain kemarau kekeringan juga disebabkan oleh luasnya perkebunan sawit baik yang dikelola oleh perusahaan maupun masyarat sekitar," kata Camat Sangir Balai Janggo, Muslim di Padang Aro, Senin.
Ia menjelaskan, satu batang sawit bisa menghabiskan 40 liter air dalam satu hari sementara luas perkebunan di Sangir Balai Janggo mencapai puluhan ribu hektare.
Untuk perkebunan yang dikelola perusahaan saja, kata dia, minimal satu perusahaan memiliki 10 ribu hektare kebun kelapp sawit, dan di Sangir Balai Janggo terdapat tujuh perusahaan besar.
Selain itu, katanya, juga luas perkebunan sawit milik masyarakat sebab rata-rata warga setempat memiliki perkebunan baik sawit ataupun karet.
Ia menyebutkan, untuk saat ini warga setempat mengandalkan beberapa aliran sungai yang masih ada sedangkan untuk sumur sebagian besar sudah kering.
"80 persen sumur warga Sangir Balai Janggo dengan kedalaman hingga 20 meter sudah mengering dan hanya beberapa yang masih ada airnya," kata dia.
Ia mengatakan, ada juga sumur galian yang dibuat baru oleh warga tetapi tetap juga kering walaupun sudah dibuat di rawa-rawa.
Ia menyebutkan, beberapa waktu lalu memang ada bantuan air oleh pemerintah setempat dengan tangki tetapi itu dinilai tidak efektif.
"Setidaknya pemerintah harus menyediakan 16 tangki air dalam satu hari sedangkan yang disalurkan sebelumnya hanya dua tangki sehari sehingga banyak warga yang tidak kebagian," ujarnya.
Sementara itu warga Sungai Kunyit Afrimen mengatakan, selain kekeringan warga juga harus menghadapi tebalnya debu jalan serta kabut asap.
"Banyak pengerjaan jalan yang belum selesai sehingga debunya sangat tebal ditambah lagi kabut asap yang semakin pekat," katanya. (*)
