Mewujudkan Padang Menjadi Pusat Kunjungan "MICE" di Sumatera

id Mewujudkan Padang Menjadi Pusat Kunjungan "MICE" di Sumatera

Tidak pernah ada yang menduga musibah gempa yang menguncang kota Padang berkekuatan 7,6 Skala Richter, pada 30 September 2009 menyimpan hikmah berlimpah bagi ibukota provinsi Sumatera Barat tersebut.

Meski ada yang menyebut hal itu adalah sengsara membawa nikmat, jelas ada yang berubah di Kota Padang sebelum dan sesudah musibah itu terjadi.

Kendati musibah besar itu menyebabkan 1.117 korban meninggal dunia serta 135.448 rumah dan bangunan rusak berat , empat tahun setelah peristiwa itu terjadi , Padang tumbuh dan menjelma menjadi salah satu pusat kunjungan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition" (MICE) atau Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran.

"MICE" merupakan wisata konvensi yang menyediakan jasa pertemuan, perjalanan insentif, dan pameran dengan memberikan pelayanan bagi pertemuan sekelompok orang baik dalam skala besar maupun kecil mulai dari transportasi, akomodasi dan tempat untuk melakukan kegiatan.

Bentuk sederhana "MICE" adalah ketika suatu perusahaan yang memiliki kantor cabang diseluruh Indonesia ingin melakukan pertemuan rutin selama tiga hari. Maka pertemuan tersebut dilakukan di salah satu hotel, kemudian satu hari digunakan oleh peserta untuk berwisata dengan mengunjungi sejumlah objek wisata yang ada didaerah itu.

"MICE" menjadi fenomena baru khususnya dalam industri pariwisata yang memberi jasa pelayanan bagi pertemuan dalam jumlah besar baik bisnis, pemerintahan, ilmu pengetahuan dan lainnya. "MICE" juga akan terkait langsung dengan usaha pariwisata lainnya seperti transportasi, akomodasi, hiburan, dan kunjungan wisata peserta konvensi.

Salah satu syarat utama suatu daerah layak dijadikan pusat kunjungan "MICE" adalah tersedianya kamar hotel yang cukup, ruang pertemuan besar dapat menampung orang dalam jumlah banyak, transportasi yang memadai, objek wisata yang menarik serta sejumlah sarana pendukung lainnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumatera Barat pada 2009, sebelum terjadi gempa bumi 30 September, jumlah kamar hotel di Padang mencapai 1.500.

Namun, ketika gempa 30 September terjadi, peristiwa itu membuat sejumlah fasilitas publik termasuk hotel menjadi porak poranda dan tidak dapat digunakan lagi. Tercatat pascagempa jumlah kamar hotel yang masih dapat digunakan hanya bersisa 800 atau hampir 50 persen rusak akibat gempa.

Artinya, pascagempa, kondisi perhotelan di Padang dapat dikatakan kembali ketitik nol, akibat dahsyatnya musibah itu. Bahkan, sejumlah hotel yang tidak roboh tetap harus melakukan perbaikan akibat kerusakan ringan.

Tetapi, diluar dugaan setelah empat tahun berlalu hingga triwulan II 2013, jumlah kamar hotel yang ada di Padang mencapai 2.800. Kemudian, saat ini juga sedang dibangun beberapa hotel besar yang diperkirakan akan selesai pada 2014.

Ketua PHRI Sumbar Maulana Yusran menilai pesatnya pembangunan hotel di Sumatera Barat pascagempa merupakan bukti, Padang memiliki potensi besar dalam pengembangan industri pariwisata kedepan.

Pascagempa sempat ada kekhawatiran dan rumor yang muncul, Padang adalah daerah yang berbahaya karena rawan gempa, kata dia.

Namun, lanjutnya, ada pertanyaan besar kenapa investor terus berlomba-lomba membangun hotel di Padang.

Artinya ada peluang investasi di kota ini khususnya dibidang industri perhotelan yang selama ini belum tergarap maksimal, kata dia.

Potensi

Maulana melihat Padang memiliki peluang untuk menjadi daerah tujuan favorit "MICE" di Sumatera dimana selama ini, dimana sebelumnya daerah yang lazim dijadikan kunjungan "MICE" hanya berkutat di Jawa dan Bali.

Hal itu didukung oleh ditetapkannya Padang oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai salah satu daerah tujuan "MICE" di Tanah Air dari 16 daerah yang ada.

Ini merupakan modal awal, ditambah pesatnya pertumbuhan hotel sehingga menjadikan Padang sebagai salah satu pusat tujuan "MICE" di Sumatera dapat diwujudkan, kata dia.

Selain itu, ia melihat ada sejumlah faktor pendukung yang dapat diandalkan untuk mewujudkan Padang sebagai salah satu daerah kunjungam "MICE" di Sumatera.

Pertama, Padang memiliki akses yang strategis karena posisinya tepat berada di tengah pulau Sumatera dan dekat dengan Singapura dan Malaysia.

Keberadaan Bandara Internasional Minangkabau di Padangpariaman sebagai pintu masuk ke daerah ini dinilai strategis karena dekat dengan Kuala Lumpur dan Singapura.

Jika ada pertemuan yang bersifat internasional, tidak perlu harus ke Jakarta dulu karena telah tersedia rute Kuala Lumpur -Padang.

Kedua, Padang telah memiliki sejumlah tempat acara yang dapat menampung orang dalam jumlah besar hingga 2.000 pengunjung. Apalagi dalam waktu dekat juga akan dibangun Minangkabau Internasional Convention Center.

Dengan demikian, untuk melaksanakan acara pertemuan dalam skala besar dari aspek akomodasi sudah dapat terpenuhi baik jumlah penginapan maupun ruangan acara.

Bahkan, pada 2013 tercatat dua acara nasional yang diselenggarakan di Padang dengan melibatkan peserta dalam jumlah ribuan. Acara itu antara lain Gelar Teknologi Tepat Guna Nasional pada 26-30 September, dihadiri delegasi dari seluruh kabupaten kota di Tanah Air.

Kemudian, pada 31 Oktober juga digelar peringatan hari pangan sedunia yang dihadiri langung oleh Presiden SBY di Padang .

Berikutnya, Padang juga memiliki Pelabuhan Teluk Bayur yang menjadi pintu masuk dari pantai barat Sumatera. Dalam dua tahun terakhir pelabuhan Teluk Bayur telah disinggahi kapal pesiar dari luar negeri yang membawa penumpangnya menikmati perjalanan wisata di Sumbar.

Secara langsung hal ini jelas akan semakin mempromosikan keindahan wisata alam di Sumatera Barat di luar negeri, kata dia.

Lalu,faktor lainnya adalah nama Padang menjadi terkenal didunia internasional sejak dinobatkannya rendang sebagai makanan terlezat didunia oleh CNN.

Hal ini merupakan nilai jual yang potensial karena masyarakat dunia penasaran dan ingin menikmati kelezatan rendang Padang.

Tidak hanya itu, potensi dan pesona sejumlah objek wisata yang ada di Sumbar menjadi menarik untuk dikunjungi oleh peserta "MICE" mulai dari pantai, wisata alam dan pegunungan, Danau Maninjau, Singkarak dan lainnya.

Manfaat

Sejumlah manfaat akan dapat diperoleh oleh Kota Padang jika daerah ini dikelola dengan serius menjadi pusat wisata konvensi.

Wakil Wali Kota Padang Mahyeldi melihat salah satu manfaat yang diperoleh adalah meningkatnya pendapatan asli daerah.

Pariwisata merupakan salah satu penyumbang pendapatan asli daerah yang cukup besar melalui pajak hotel dan restauran, kata dia.

Selain itu, Mahyeldi melihat, jika hunian hotel penuh akan memiliki manfaat bergulir yang signifikan. Ia mencontohkan jika hotel penuh, tentu untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tamu, pihak hotel akan membeli kebutuhan pokok lebih banyak dan yang mendapat manfaat langsung adalah pedagang.

Belum lagi bagi tamu yang hendak membeli oleh-oleh dan jasa transportasi menjadi lebih hidup, kata dia.

Tidak hanya itu, ketersedian hotel baru akan menambah lapangan kerja baru dan mengurangi pengangguran yang ada di daerah ini.

Hal ini juga menjadi peluang bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan dimana lulusan yang siap bekerja, dapat langsung terserap melalui industri pariwisata yang berkembang didaerah ini, kata dia.

Pada bagian lain ia melihat wisata konvensi bersifat padat karya, karena membutuhkan banyak tenaga kerja pendukung mulai dari hulu sampai hilir. Tentunya ini menjadi salah satu solusi mengurangi kemiskinan, penggangguran dan menghidupkan ekonomi kerakyatan

Dengan demikian, kata dia, secara keseluruhan semua itu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berujung pada kesejahteraan masyarakat.

Tantangan

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Padang Muharlion yang membidangi bagian kesejahteraan masyarakat melihat terdapat sejumlah tantangan yang harus dikelola untuk mempersiapkan Padang sebagai pusat kunjungan "MICE" di Sumatera.

Menurutnya, hal utama yang harus diperhatikan adalah kesiapan sumber daya manusia karena industri pariwisata adalah bisnis pelayanan.

"Jika sumber daya manusia tidak siap, ini akan menjadi evaluasi dan catatan bagi pihak yang hendak berkunjung ke daerah ini," kata dia.

Oleh sebab itu ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk memberikan pembinaan bagi pelaku usaha bidang pariwisata, agar dapat memberikan pelayan terbaik dan maksimal.

Tidak hanya itu, masyarakat juga perlu dihimbau agar sadar wisata sehingga menjadi tuan rumah yang ramah dan menyenangkan ketika daerah ini dikunjungi pihak luar, kata dia.

Apalagi, pada 2015 akan diberlakukan Asean Free Trade Area (AFTA), dimana jika sumber daya manusia kota Padang tidak siap dalam mengelola industri pariwisata dengan profesional, dikhawatirkan akan menjadi penonton dinegeri sendiri.

Kemudian, tantangan lain yang harus ditaklukan adalah memaksimalkan promosi keseluruh Indonesia. Para agen dan biro perjalanan wisata bersama pemerintah kota, harus gencar mengkampanyekan Padang sebagai pusat kunjungan "MICE".

Kepala daerah harus melakukan lakukan lobi dan pendekatan di pusat , agar berbagai even nasional diusulkan digelar di Padang, kata dia.

Dengan sejumlah peluang, potensi dan tantangan tadi tentunya perlu peran serta semua pihak yang ada di Padang untuk mewujudkan daerah ini menjadi pusat kunjungan "MICE" di Sumatera, sehingga dengan semarak dan berkembangnya industri ini di Padang akan membawa manfaat berlimpah bagi masyarakat.

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.