Padang, (Antara) - Salah satu peninggalan sejarah pada zaman penjajahan Jepang yang kini menjadi tempat wisata andalan Kota Bukittinggi, Sumatera Marat, adalah Lobang Jepang di Panorama Ngarai Sianok. Pembangunan Lobang Jepang itu pada zamannya mengorbankan ribuan romusha dan pekerja paksa oleh tentara Dai Nippon Jepang. Kejadian itu mengilhami rencana pembangunan monumen romusha tersebut ditegaskan Wakil Menlu Dr Dino Patti Djalal saat dialog dengan sejumlah tokoh masyarakat Minang yang juga dihadiri Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis membahas ide pembuatan monumen tersebut di Jakarta (25/8), kata Humas UBH Indrawadi di Padang, Selasa. Pada kesempatan itu, Dino menjelaskan gagasan pembangunan monumen tersebut berdasarkan pemikiran bahwa banyak putra bangsa yang menjadi korban kerja paksa pada zaman penjajahan Jepang dan tidak kembali pada keluarganya. Tidak ada yang tahu keberadaan mereka hingga saat ini, tegasnya. "Karena itu, monumen tersebut perlu didirikan untuk mengenang pengorbanan ratusan ribu romusha yang meninggal sebagai pahlawan, dan kami khawatir minimnya dokumentasi mengenai hal itu akan membuat mereka terlupakan dari catatan sejarah," katanya. Sementara itu, Rektor UBH, Prof Niki Lukviarman, SE, AKt,MBA yang ikut hadir dalam dialog tersebut menyebutkan bahwa Dino bercerita tentang para romusha atau pekerja paksa pada zaman penjajahan Jepang yang membangun Goa Jepang. Para Romusha itu, katanya, juga dibawa dan dipekerjakan secara paksa tentara Jepang untuk membangun rel kereta api yang menghubungkan Sumatera bagian Selatan hingga ke Riau. Ia menjelaskan Dino merasa janggal melihat di situs sejarah lobang Jepang Bukittinggi tersebut terdapat patung tentara Jepang, artinya seakan-akan menyiratkan bahwa lobang Jepang itu adalah hasil karya tentara Jepang. Padahal para pekerja romusha-lah yang bekerja keras dan menjadi korban pembangunannya dan romushalah yang seharusnya dikenang melalui pembangunan monumen yang didedikasikan khusus untuk mereka, katanya. "Namun demikian, monumen romusha yang akan dibangun diproyeksikan tidak untuk menggantikan monumen tentara Jepang yang sekarang masih berdiri. sebutnya. Namun langkah pembangunan monumen romusha adalah bagian dari usaha untuk mengoreksi sejarah. Ia mengatakan Indonesia mempunyai utang sejarah yang belum dilunasi untuk mengakui dan menghargai pengorbanan dan penderitaan ratusan ribu romusha bangsa sendiri. Dino menyebutkan pihaknya juga telah membicarakannya dengan Wali Kota Bukittinggi dan telah memberikan dukungan penuh terhadap ide pembangunan monumen tersebut. Pihaknya juga telah menemukan pematung yang mempunyai kemampuan yang sangat baik untuk membangun monumen tersebut. Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS) itu menjelaskan selain menjalin dukungan dari masyarakat Minang dan rencana aksi pembangunan monumen tersebut, juga perlu ada penggalangan dana untuk pembangunan monumen romusha yang diperkirakan memakan waktu satu tahun. "Kalau ide dan gagasan pembangunan monumen tersebut banyak mendapat tanggapan dari masyarakat, mungkin perlu diseminarkan dengan mengundang ahli sejarah, akademisi, tokoh masyarakat dan semua pihak yang terkait khususnya Dino Patti Djalal sebagai penggagas untuk terwujudnya pelaksanaan ide tersebut, kata Rektor UBH. (*)
Berita Terkait
Kiriman kepala kambing dikira kepala anjing, dugaan motifnya teror
Sabtu, 3 Januari 2026 23:03 Wib
MU hadapi Leeds United, Amorim: Itu derbi besar
Sabtu, 3 Januari 2026 20:19 Wib
Rice diragukan, Calafiori dan Mosquera absen kontra Bournemouth
Sabtu, 3 Januari 2026 20:11 Wib
Jalan provinsi di Maninjau Agam sudah bisa dilalui kendaraan Sabtu sore
Sabtu, 3 Januari 2026 19:49 Wib
Awal tahun, BKSDA Sumbar terima laporan kemunculan harimau dipemukiman warga di Agam (Video)
Sabtu, 3 Januari 2026 18:46 Wib
Sejumlah rumah warga kembali terendam banjir di Kabupaten Solok
Sabtu, 3 Januari 2026 18:35 Wib
Jelang hari jadi Pasbar ke-22, Bupati dan Wakil Bupati pimpin ziarah ke makam tokoh yang berjasa bangun daerah
Sabtu, 3 Januari 2026 18:33 Wib
Gubernur Sumbar instruksikan pengerukan sungai cegah banjir berulang
Sabtu, 3 Januari 2026 18:32 Wib
