Padang, (ANTARA) - Produk kerajinan yang dihasilkan perempuan yang menjalankan masa rehabilitasi di Panti Sosial Karya Wanita (PSKW) Andam Dewi Sukarami, Solok, Sumatera Barat sulit mendapatkan pemasaran. Berbagai jenis produk yang dihasilkan di antaranya bordiran, sulaman, keset, dan jenis lainnya susah mendapatkan pemasaran, kata Kepala Seksi Pelayanan, Pembinaan Mental Kependidikan PSKW Adam Dewi, Sukarami, Solok, Syahbana di Aro Suka, Kamis. PSKW Adam Dewi, Sukarami, Solok, merupakan tempat rehabilitasi bagi perempuan malam (Pekerja Seks Komersial) yang ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) di wilayah Sumbar. Panti itu dibawah Dinas Sosial provinsi, selama menjalankan proses rehabilitasi enam bulan, para perempuan yang ada di PSKW diberi kecakapan hidup sesuai dengan keinginan masing-masing. Menurut dia, kendala untuk pemasaran produk yang dihasilkan warga binaan PSKW Adam Dewi, tak ada instansi dan pihak terkait yang mau menampung. Meskipun ada hanya sampai ke luar, hanya ketika tamu datang dan tertarik sehingga mereka membeli di panti, kondisi tersebut jarang pula terjadi. Ia menilai, produk kerajinan yang dihasilkan tak kalah pula dibandingkan dengan home industri lainnya, tapi bagaimana untuk meningkatkan produksi terkendala pasaran. Padahal, jika ada instansi dan organisasi terkait mau menampung produk kerajinan tersebut, tentu dapat menambah pembiayaan pembinaan dan uang saku bagi warga binaan. Sebab, setiap harinya masing-masing warga binaan diberi uang saku Rp5.000/orang yang bersumber dari APBD provinsi. Justru itu, apabila ada pemasukan dari penjualan keterampilan mereka, tentu dapat menambah variasi dasar kain untuk keterampilan warga binaan tersebut, karena mengandalkan biaya APBD terbatas. "Kita berhadap adanya dukungan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), baik kabupaten maupun provinsi membantu dalam pemasarannya," ujarnya. Selain itu, ketika mereka keluar nanti diharapkan mendapat dukungan pula dari Dinas Koperasi di setiap daerah, terkait keterampilan yang ditekuni selama proses rehabilitasi dapat jadi bekal untuk usaha mandiri. Menurut dia, ada PSK yang berulang kali masuk ke panti itu, ketika ditanya karena terkendala modal untuk berusaha mandiri sesuai dengan kemampuan dimiliki. Perempuan yang menjalankan rehabilitasi, setelah keluar dibekali pula dengan paket 17 item, mulai dari mesin jahit, benang, kain dan Al-quran. Sisi lain, kondisi dan fasilitas PSKW Andam Dewi butuh ada pembehanan dari segi infrastrukturnya, terutama musalla yang dijadikan pusat pembinaan metal di lingkungan panti tersebut. Jika semua warga binaan rehabilitasi (40 orang) menjalankan shalat berjemaah dan ditambah dengan pegawai panti, jelas tidak muat dengan ukuran sekarang. Kepala Dinas Sosial Sumbar, Abdul Gafar ketika dikonfirmasi, mengatakan pihaknya telah berupaya untuk meningkatkan fasilitasi di PSKW Andam Dewi. Namun, dukungan dalam penganggaran sampai di legislatif kurang mendapatkan prioritas, meskipun sudah disetujui tim anggaran pemerintah daerah. "Guna membenahi dan melengkapi sarana prasarana panti, tentu butuh dukungan dari berbagai pihak, terutama dalam penganggarannya," ujarnya. (*/sun)