Batang, (Antara) - Menteri Pertanian Suswono menyatakan pemerintah harus selektif dalam membuat daftar penerima raskin karena hingga kini masih banyak warga berkategori mampu masih menerima jatah bantuan berupa beras itu. "Sekitar 60 persen petani Indonesia merupakan penerima beras untuk warga miskin (Raskin). Ironisnya, warga kaya juga ikut meminta jatah raskin sehingga mengurangi bantuan pada mereka yang berhak menerima beras itu," katanya di Batang, Sabtu. Menurut dia, untuk mengantisipasi adanya warga yang tidak berhak menerima raskin tetapi kenyataannya menerima jatah maka pemerintah harus selektif dan perlu menempelkan stiker pada rumah mereka. "Warga berstatus kaya yang tetap meminta raskin, bila perlu dipasang stiker dengan kalimat tegas "menerima raskin saya siap bertanggungjawab di akhirat," katanya. Menurut dia, pemerintah ingin pertanian maju sebagai upaya menyokong ketahanan pangan dan menyejahterakan masyarakat. Apalagi, kata dia, lembaga pangan dunia (Food and Agriculture Organizationor/FAO) sudah memberikan peringatan pada seluruh negara agar memperkuat ketahanan pangan karena hal ini sudah menjadi persoalan dunia dan sudah ada yang memprediksi akan adanya konflik antarnegara mengenai persoalan pangan. "Oleh karena itu, peringatan FAO sangat penting dan sejak dini harus direspon. Kita usahakan masalah komoditas pangan bisa dihasilkan dari dalam negeri sendiri," katanya. Ia menambahkan bahwa pada 2045, penduduk diperkirakan sudah mencapai sembilan miliar dan kebutuhan pangan akan meningkat padahal tantangan semakin berat terutama karena perubahan iklim. Terkait mengenai rencana kenaikan BBM, Mentan Suswono mengatakan bahwa para petani tidak usah khawatir mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak itu karena pemerintah sudah menyiapkan sejumlah strategi. "Dampak kenaikan harga BBM, pemerintah akan memberikan kompensasi apakah dalam bentuk raskin atau bantuan langsung pada masyarakat, dan bantuan siswa miskin (BSM)," katanya. (*/sun)