Pengamat IPB Usulkan Kenaikan BBM untuk Mobil
Minggu, 16 November 2014 14:02 WIB
Jakarta, (Antara) - Pengamat Ekonomi IPB Iman Sugema mengusulkan pemerintah tidak perlu mencabut subsidi BBM (menaikkan harga BBM) untuk pengguna sepeda motor, melainkan bagi pengguna mobil, baik mobil pribadi maupun pemerintah.
"Skenario pencabutan subsidi BBM untuk mobil pribadi dan mobil pemerintah merupakan pilihan yang paling bijak. Sementara untuk pengguna sepeda motor tidak perlu dicabut," katanya di Jakarta, Minggu.
Usulkan itu juga dilontarkan pada acara Focus Group Discussion di Sekretariat Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) bertema "Quo Vadis Kebijakan Pengalihan Subsidi BBM?" yang dihadiri aktivis PB HMI, PB PMII, PP GMNI dan lain sebagainya.
Dia juga mengungkapkan ada empat besaran angka atau skenario yang bisa dilakukan pemerintah saat mengambil kebijakan menaikkan harga BBM subsidi.
"Ada empat besaran kenaikan harga BBM, pertama harga naik Rp1.000 dengan perkiraan dampak kenaikan kemiskinan sebesar 0,21 persen dan inflasi 0,94 persen," katanya.
Kedua, harga naik Rp2.000 dengan perkiraan dampak kenaikan kemiskinan sebesar 0,38 persen dan inflasi 1,89 persen. Ketiga, harga naik Rp3.000 dengan perkiraan dampak kenaikan kemiskinan sebesar 0,49 persen dan inflasi 2,83 persen.
Keempat, pencabutan subsidi BBM untuk mobil pribadi dan mobil pemerintah dan bisa menghemat lebih dari separuh subsidi BBM, dan mengalihkannya untuk program pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pertanian dan nelayan.
Skema keempat itu dengan perkiraan dampak kenaikan kemiskinan 0,01 persen dan inflasinya hanya sebesar 0,91 persen.
"Konsumsi BBM bersubisidi oleh motor hanya sebesar 19,5 persen, dibandingkan dengan konsumsi BBM mobil solar sebesar 75,6 persen dan mobil bensin sebesar 89,8 persen," katanya.
Dengan presentase konsumsi BBM tersebut, penghematan subsidi BBM dari skenario pencabutan subsidi BBM untuk mobil pribadi dan mobil pemerintah bisa mencapai 68,8 persen pengguna kendaraan mobil pribadi.
Sementara itu, Pengurus PB PMII, Ada Suci, menyatakan strategi kebijakan tersebut diperlukan upaya pengawasan yang intensif oleh pemerintah, sehingga penyimpangan subsidi yang terjadi selama ini bisa ditekan.
"Masyarakat membutuhkan kepastian kebijakan subsidi BBM oleh pemerintah, sehingga kegiatan ekonomi masyarakat tidak terganggu akibat dari kenaikan harga-harga barang yang sudah terjadi, bahkan sebelum kebijakan tersebut dibuat," katanya. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gubernur Mahyeldi Dorong Alumni IPB Jadi Penggerak Pertanian Sumatera Barat
25 October 2025 14:59 WIB
Guru Besar IPB sebut mega potensi ekowisata harusnya masuk program unggulan
21 September 2025 15:50 WIB
Sakti Wahyu Trenggono: Perguruan tinggi harus didukung dana yang kuat
31 October 2023 18:31 WIB, 2023
Guru besar IPB ingatkan penggunaan minyak jelantah tingkatkan risiko kanker hingga obesitas
22 March 2023 9:40 WIB, 2023
Lawalata IPB rekomendasikan Danau Laut Tinggal Pasaman Barat jadi ekowisata
17 January 2023 14:58 WIB, 2023
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018