
Pemkab Pasaman Barat dorong petani manfaatkan limbah menjadi karbon dioksida

Simpang Empat (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat mendorong petani memanfaatkan berbagai limbah menjadi karbon dioksida sebagai sumber pendapatan baru sekaligus upaya pelestarian lingkungan.
"Kita tidak hanya berbicara soal pertanian, tetapi juga tanggung jawab moral dalam memperbaiki iklim global. Pemkab Pasaman Barat mendukung penuh upaya pengurangan efek rumah kaca," kata Bupati Pasaman Barat Yulianto di Simpang Empat usai menghadiri peluncuran produk, dan sosialisasi biochar digital berbahan limbah pertanian, Rabu.
Menurutnya peluncuran produk itu dilakukan di lokasi penyulingan nilam milik Sutar, Jorong Bandarejo, Nagari Lingkuang Aua Bandarejo, Kecamatan Pasaman.
Produk biochar yang diluncurkan memanfaatkan limbah jagung, nilam, eceng gondok, jerami padi, kakao/cokelat, kopi, hingga bambu.
Biochar tersebut berfungsi sebagai pembenah tanah serta penangkap dan penyimpan emisi karbon dioksida (CO) dalam jangka panjang.
Program ini merupakan kolaborasi antara reclimate Sdn. Bhd. dan Koperasi Produsen Hidup Basamo Sepakat.
Kolaborasi tersebut difokuskan pada implementasi kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sesuai Peraturan Presiden, dalam rangka mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca nasional.
Dia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif menyukseskan program tersebut.
“Mari kita manfaatkan teknologi ini dengan baik. Pasaman Barat siap berkontribusi bagi dunia, dimulai dari pemanfaatan limbah di ladang kita sendiri,” katanya.
Dengan peluncuran ini, Pasaman Barat menempatkan diri sebagai salah satu daerah di Sumatera Barat yang serius menggarap potensi pasar karbon nasional sebagai sumber pendapatan baru sekaligus upaya pelestarian lingkungan.
Manajer Operasional Koperasi Produsen Hidup Basamo Sepakat Fitra Jaya, menjelaskan bahwa program tersebut sejalan dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi hingga 43,2 persen pada 2030 melalui kolaborasi internasional.
Dia menyebutkan, inovasi ini mengolah limbah pertanian lokal seperti jagung, nilam, kakao, kopi, eceng gondok, jerami, dan bambu menjadi produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kualitas tanah sekaligus menjadi aset dalam perdagangan karbon internasional.
Menurutnya, biochar yang diluncurkan bukan sekadar pembenah tanah, melainkan teknologi "soil charger" yang mampu menangkap dan menyimpan emisi CO dalam jangka panjang.
“Proyek ini terafiliasi dengan organisasi karbon internasional seperti gold standard dan verra,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengolahan limbah seperti jerami, bambu, dan kulit kakao yang sebelumnya tidak bernilai kini berpotensi menjadi komoditas ekspor dalam bentuk kredit karbon (carbon credit).
Pewarta: Altas Maulana
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026
