Abuja, (Antara/Xinhua-OANA) - Lebih banyak bertani, kurang pendidikan mungkin bukan keinginan anak usia sekolah di seluruh masyarakat desa di Nigeria Utara, tapi mereka tak bisa menolaknya. Di belahan negara Afrika Barat tersebut, orang tua --kebanyakan dari mereka adalah petani penggarap-- lebih banyak mendorong anak mereka untuk bergabung dengan mereka di lahan pertanian; menyiangi rumput, menanam dan memanen. Mereka tidak mendorong anak mereka bersekolah dan mengejar cita-cita mereka. Sebanyak 15 juta anak diperkirakan bekerja di sektor pertanian, menjadi pelayan rumah tangga, menjajakan dagangan dan bahkan menjadi pengemis di bagian utara Nigeria. Dua tahun lalu, Bank Dunia pertama kali menyuarakan keprihatinan ketika seorang pejabat organisasi global tersebut mengatakan dalam pertemuan puncak ekonomi di Abuja, Ibu Kota Nigeria, wilayah utara negeri itu memiliki jumlah tertinggi anak putus-sekolah di dunia. "Di sini, kami lebih suka anak-anak kami membantu kami di kebun daripada bersekolah. Buat anak-anak ini atau buat kami, orang tua mereka, memperoleh uang sangat sulit sebab kami adalah petani. Sebagai petani, kami harus bekerja ekstra keras untuk memperoleh uang dan menabung, sebelum kami dapat mengirim mereka ke sekolah," kata Mallam Maiunguwa Yakubu, Wakil Kepala Desa Gari Mallam Tanko, sebagaimana dilpaorkan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa malam. Desa tersebut berada di Daerah Pemerintah Lokal Kargako di Negara Bagian Kaduna, Nigeria Barat-laut. Menurut Dana Anak PBB (UNICEF), 40 persen anak yang berusia enam-11 tahun di Nigeria tidak mengikuti pendidikan dasar; Wilayah Nigeria Utara mencatat anak paling rendah anak yang bersekolah di negara paling padat penduduk di Afrika itu. Karena para orang tua tak bisa memikul biaya yang berkaitan dengan pendidikan anak mereka, seperti seragam dan buku pelajaran, banyak anak tidak bisa bersekolah sebab tenaga mereka diperlukan untuk membantu keluarga mereka di rumah atau memperoleh penghasilan tambahan buat keluarga mereka. "Setiap orang memerlukan bantuan. Anak kamu dapat membantu kamu di lahan, jika kamu mempunyai banyak anak," kata Yakubu. Namun ia menyatakan setiap orang tua sebenarnya memiliki keinginan untuk melihat anak mereka mengenyam pendidikan. "Kami semua mau anak kami berada di sekolah. Memperoleh pendidikan juga baik untuk setiap anak sebab pada saat mereka belajar di sekolah dan mencapai tingkat tertentu, ia juga akan bisa memberi dan tampaknya membawa berkah buat keluarga dan masyarakat. Bahkan masyarakat akan menghargai anda dan cara anda telah mendidik anak anda. Tapi kami miskin, kami tak bisa menanggung biaya pendidikan untuk semua anak kami," ia menambahkan. Bahkan saat anak-anak mendaftar ke sekolah, banyak anak tak bisa menyelesaikan jejang pendidikan dasar akibat tenaga kerja anak yang kadangkala disebabkan oleh kesulitan ekonomi. Menurut data UNICEF saat ini, 30 persen murid putus sekolah dasar dan hanya 54 persen bisa meneruskan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama. "Kami selalu mendorong para orang tua agar mengirim anak mereka ke sekolah sebab kami tahu pendidikan ringan. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang kami kira, jika anak-anak memilikinya, masyarakat akan bertekmbang. Pendidikan adalah landasan kuat buat setiap aspek kehidupa," kata Samuel Barde, guru di sekolah negeri di Daerah Pemerintah Lokal Kargako. Sebanyak 40 persen anak, dari seluruh penduduk, saat ini mengikuti pendidikan di sekolah di masyarakat desa dan kebanyakan anak tersebut berhenti bersekolah pada tingkat sekolah dasar, kata Barde. (*/jno)
Berita Terkait
Karier kepelatihan John Herdman dimulai sejak usia 17 tahun
Selasa, 20 Januari 2026 10:25 Wib
Kemenhaj Sumbar prioritaskan pendamping lansia lunasi Bipih
Kamis, 1 Januari 2026 13:05 Wib
Dokter ungkap tantangan tangani pasien kanker payudara usia muda
Senin, 13 Oktober 2025 21:31 Wib
TNI AD ubah syarat usia dan tinggi badan bagi calon prajurit
Rabu, 1 Oktober 2025 19:33 Wib
Presiden LaLiga: Yamal gagal raih Ballon d'Or karena usia muda
Kamis, 25 September 2025 4:40 Wib
UNP dukung pembuatan modul ajar Mulok PAUD bernuansa Minangkabau berbasis flipped book
Rabu, 24 September 2025 9:35 Wib
Stop nikahkan anak usia dini, ini akibatnya
Minggu, 21 September 2025 16:26 Wib
Indeks pengasuhan anak usia dini salah satu solusi turunkan stunting
Senin, 15 September 2025 21:04 Wib
