Ketika seorang guru terpaksa jual ini, untuk bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19

id berita pasaman barat, berita sumbar, nasib guru, jualan kolang kaling, covid-19

Ketika seorang guru terpaksa jual ini, untuk bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19

Salah satu guru honor sekolah swasta menjual buah kolang kaling di Pasaman Barat karena sekolah mereka diliburkan dampak COVID-19. (antarasumbar/Istimewa)

Dampak Covid-19 ini sekolah diliburkan oleh pemerintah. Akibatnya tidak bisa lagi mengajar dan membuat saya sulit untuk bertahan hidup karena gaji yang didapatkan tidak seperti biasanya,
Pasaman Barat (ANTARA) - Akbar Pujaya Koto (29) seorang guru honorer SD Swasta di Simpang Empat, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, terpaksa beralih profesi menjadi penjual buah kolong kaling karena sekolahnya diliburkan sejak wabah virus corona penyebab pandemi COVID-19.

Padahal profesi guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di negeri ini.

"Dampak Covid-19 ini sekolah diliburkan oleh pemerintah. Akibatnya tidak bisa lagi mengajar dan membuat saya sulit untuk bertahan hidup karena gaji yang didapatkan tidak seperti biasanya," katanya lirih di Simpang Empat, Kamis.

Menurutnya iuran uang SPP dari orang tua murid menjadi macet. Karena itu, ia mencoba bagaimana caranya untuk bisa bertahan hidup dan mendapatkan uang lagi.

Langkah yang ia ambil adalah dengan beralih profesi sementara dari guru menjadi penjual kolang-kaling sampai saat ini.

"Saya memiliki istri dan satu orang anak. Istri saya juga bekerja sebagai guru honorer dan tidak dapat gaji karena sekolah diliburkan juga," jelasnya.

Ia menyebutkan saat ini pihaknya hanya bisa untuk bertahan hidup karena jual beli kolang kaling yang juga belum terlalu ramai.

Ia berharap pemerintah hendaknya memperhatikan dan memberikan bantuan secara merata kepada para guru honorer yang terdampak COVID-19.

"Kami berharap ada bantuan dan solusi karena pekerjaan utama kami tidak ada lagi. Kami hanya guru honorer sekolah swasta," harapnya. ***3***

Pewarta :
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar