
IDAI Sumbar beri layanan komprehensif bagi 631 anak terdampak bencana

Padang (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Sumatera Barat (Sumbar) turut memberikan respons tanggap darurat bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di provinsi setempat pada November hingga Desember 2025.
Kegiatan dari organisasi dokter anak itu difokuskan pada pelayanan kesehatan anak secara komprehensif, mencakup layanan medis, gizi darurat, serta dukungan kesehatan mental dan psikososial.
"Anak-anak khususnya bayi dan balita, merupakan kelompok paling rentan dalam situasi bencana sehingga membutuhkan intervensi khusus dan terintegrasi," kata Ketua IDAI Sumbar dr Asrawati.
Ia menerangkan IDAI Sumbar telah memberikan pelayanan kesehatan di posko pengungsian dan melalui kunjungan rumah (home visit) yang tersebar di tujuh kabupaten/kota terdampak.
Tujuh daerah itu adalah Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, Pasaman, serta Kota Padang.
Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, rujukan medis, deteksi dini gangguan tumbuh kembang, skrining gangguan tidur, gangguan kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD) pada anak.
IDAI mencatat hingga 16 Desember 2025 pihaknya telah memberikan pelayanan kesehatan terhadap 631 pasien anak dari lokasi bencana.
Kasus terbanyak yang ditemui adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebanyak 373 kasus atau sekitar 59 persen.
Selain itu IDAI Sumbar juga menemukan tingginya kasus campak di salah satu posko pengungsian yaitu di kawasan Matur, Kabupaten Agam.
"Tingginya angka penyakit campak ini menjadi salah satu perhatian yang serius, karena risiko penularan di lingkungan pengungsian cukup tinggi," jelasnya.
Ia menerangkan adanya kasus campak di posko pengungsian menunjukkan bahwa imunisasi tetap harus menjadi prioritas meskipun berada dalam kondisi bencana.
Selain kesehatan fisik, IDAI Sumbar juga mengupayakan pemulihan dampak psikologis pascabencana dengan pendekatan bermain, menggambar, bernyanyi, serta aktivitas ramah anak lainnya.
Sementara itu dari hasil skrining di Palembayan, Kabupaten Agam, menunjukkan 65 persen anak mengalami gangguan tidur.
Sedangkan sebagian anak lainnya teridentifikasi mengalami gangguan kecemasan yang memerlukan pemantauan dan rujukan lanjutan.
Untuk aspek pemenuhan gizi, IDAI Sumbar mengimplementasikan intervensi pemberian makan bayi dan anak dalam situasi darurat (PMBA/IYCF-E).
Hasil pendataan menunjukkan sekitar 400 bayi dan balita di lokasi pengungsian membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI).
"Kami melakukan pendataan, penyiapan, pengolahan, hingga distribusi MPASI ke posko pengungsian, disertai edukasi kepada orang tua agar pemberian makan tetap aman dan sesuai usia anak," jelas Asrawati.
Sebagai bagian dari perlindungan kelompok rentan, IDAI Sumbar juga mendorong pembentukan Ruang Ramah Ibu dan Anak (RRIA) di lokasi pengungsian.
Ruang ini dirancang aman, privat, dan nyaman bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia 0–5 tahun, dan dilengkapi fasilitas pendukung menyusui, PMBA, sanitasi layak, edukasi, dan konseling yang dikelola oleh petugas terlatih.
Dalam pelaksanaannya IDAI mencatat sejumlah kendala, di antaranya keterbatasan akses obat-obatan rutin untuk penyakit kronis anak seperti epilepsi, serta terbatasnya alat kesehatan di beberapa lokasi.
Oleh karena itu IDAI merekomendasikan penguatan ketersediaan obat di rumah sakit kabupaten atau kota, serta perlunya jaminan layanan kesehatan yang jelas bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana melalui koordinasi lintas sektor.
"Respons bencana untuk anak harus dilakukan secara terkoordinasi dan berkelanjutan agar dampak jangka panjang dapat dicegah," jelasnya.
Pewarta: Fathul Abdi
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
