Pemuda asal Solok ini lebih tertarik mengembangkan batik tulis lokal

id batik tulis,batik tulis Salingka Tabek,batik minang,berita solok

Pemuda asal Solok ini lebih tertarik mengembangkan batik tulis lokal

Yusrizal memperlihatkan batik hasil olahannya di Kabupaten Solok, Sumbar, Jumat (31/1) (Antara sumbar/Tri Asmaini)

​​​​​​​Arosuka (ANTARA) - Pengusaha muda Yusrizal (27), asal Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok mengembangkan batik tulis "Salingka Tabek" sehingga bisa dipasarkan keluar daerah, seperti ke Riau, Jambi, dan Jakarta.

"Usaha Batik Salingka Tabek saya ini awalnya mulai pada pertengahan 2017 dan akhirnya diproduksi akhir 2017," kata Pemilik usaha batik "Salingka Tabek" Yusrizal di Koto Baru, Jumat.

Ia mengatakan ide untuk memulai usahanya, karena ada teman yang keluarganya mengadakan pesta, dan seragam keluarganya menggunakan batik tulis. Sementara harga sehelai kain batik tulis mencapai Rp300 ribu lebih.

Jadi, tingginya minat pemakaian batik menjadikan Yusrizal ingin memulai usaha batik tulis.

"Jadi awalnya saya belajar otodidak, melalui YouTube, bagaimana membuat batik tulis dan berbagai motifnya," ujarnya.

Kemudian, kelompoknya dibina Koperindag Kabupaten Solok pada 2018. Ia juga dibawa Pemda setempat untuk studi banding ke Yogyakarta pada November 2019.

Saat ini, pihaknya sudah memproduksi batik tulis mulai harga Rp200 ribu, batik cap mulai Rp150 ribu, dan batik tanah liek (tanah liat) Rp480 ribu.

Menurutnya, dengan harga yang cukup bersaing, omzet batiknya sebulan bisa mencapai Rp12 juta hingga Rp20 juta.

Hingga saat ini, usaha batiknya sudah memiliki sembilan orang tenaga kerja. Yang mendesain motif tiga orang, tiga orang pencantingan dan tiga orang untuk pewarnaan.

"Kami kesulitan mencari SDM. Masih banyak masyarakat disini yang berpikir lebih menguntungkan ke sawah dari pada membatik, padahal permintaan cukup banyak tapi tidak terpenuhi," ujarnya.
Yusrizal memperlihatkan batik hasil olahannya di Kabupaten Solok, Sumbar, Jumat (31/1) (Antara sumbar/Tri Asmaini)


Batiknya sendiri memiliki motif khas yang berusaha disesuaikan dengan kearifan lokal Kabupaten Solok, seperti bareh (beras) Solok, Nagari Kapujan, Masjid Tuo, padi dan lainnya.

Untuk membuat satu helai batik tulis, bisa menghabiskan waktu sehari hingga empat hari tergantung motif.

"Sebulan kami bisa menghasilkan sekitar 40 helai, bisa lebih kalau kami mempunyai karyawan baru," ujarnya.

Sedangkan unuk pemasaran Ia bekerja sama dengan agen travel agar membawa turis dari luar daerah ketempatnya. Selain itu, perantau dari Solok juga ikut mempromosikan batiknya keluar daerah.

Ia juga sudah memasarkan batiknya melalui aplikasi online, dan media sosial yang ada. Batiknya juga sering mengikuti pameran di dalam dan luar daerah, seperti Jakarta.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar