PLTBm datang, 1.233 rumah warga Mentawai benderang

id PLTBm Mentawai,Mentawai Benderang,Bambang Brodjonegoro

PLTBm datang, 1.233 rumah warga Mentawai benderang

Menteri PPN/Kepala Bappenas RI, Bambang Brodjonegoro (dua kanan) melihat secara langsung ruang pengumpulan bambu yang digunakan sebagai bahan baku penghasil listrik pada PLTBm, yang berada di desa Saliguma, Kepulauan Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Selasa (17/9). (ANTARA/Fandi Yogari)

Mentawai  (ANTARA) - Masih sulitnya akses jalan di Kepualauan Mentawai, membuat banyak wilayah di daerah tersebut belum teraliri listrik. Namun kini, harapan masyarakat mentawai untuk bisa menikmati listrik di rumah sendiri bisa terwujud.

Selasa siang, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro secara meresmikan pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa (PLTBm) di Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

"Jadi ada tiga pembangkit listrik tenaga biomasi di Pulau siberut yakni Saliguma, Madobag dan Mototonan. Dengan kehadiran pembangkit listrik ini masyarakat di beberapa desa dapat memikmati penerangan dengan listrik" Kata Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI, usai meresmikan pengoperasian PLTBm, di Siberut, Selasa.

Bambang menjelaskan keberadaan pembangkit listrik ini selain terbarukan, bahan baku listrik sendiri berasal dari masyarakat. Sehingga selain menerangi juga memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.

"Bahan baku bambu dari masyarakat yang mereka tanam dan dibeli oleh PLTBm seharga Rp700 per kilogram, sehingga ini memberikan manfaat mereka tidak hanya mendapatkan listrik tetapi juga mendapatkan uang dari penjualan bambu," katanya.

Dia menyebutkan teknologi pembangkit listrik dari bambu ini merupakan yang pertama kali ada di Indonesia. oleh sebab itu, PLTBm ini akan diperluas guna memberikan penerangan untuk daerah yang belum teraliri listrik.

"Jadi ini teknologi yang pertama dan ini akan diperluas agar daerah lain di mentawai juga dapat diterangi dengan ini" kata dia.

selain di Mentawai, pembangkit ini akan di dorong pada daerah terpencil lain seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB) namun tidak menggunakan bambu.

"Kita dorong di daerah dan pulau pulau kecil lainnya, seperti di NTB tetapi tidak menggunakan bambu, namun kayu gamal yang bentuknya sama sepeti bambu," sebutnya.

Kendati sudah teraliri listrik, namun PLTb ini baru mampu mengaliri listrik pada masyarakat selama 12 jam saja, namun ke depan itu akan digabungkan sehingga tercipta interkoneksi listrik.

"Rencananya ketiga pembangkit listrik itu akan digabungkan melalui jaringan listrik sehingga hasilnya akan maksimal diterima warga," katanya.

Pengaliran listrik ini akan diperluas terutama di seluruh daerah Kabupaten Mentawai. Karena masih banyak desa di Kabupaten Mentawai yang perlu listrik. Untuk nilai investasi pada pembangunan tiga pembangkit listrik tenaga tersebut mencapai Rp150 miliar.

Pembangkit listrik tenaga biomassa itu merupakan hibah dari Millenium Challenge Corporation (MCC) kepada Bappernas dan kemudian Bappernas menghibahkannya pada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mentawai.

"Kita mendorong daerah-daerah yang belum teraliri listrik dan lokasinya relatif terisolasi itu kita dorong dengan menggunakan energi terbarukan, bisa bambu serta bisa yang lain," katanya lagi.

Di sisi lain Direktur Bisnis Regional Sumatera Wiluyo Kusdwiharto mengungkapkan rasa terima kasih pada Mentri PPN atas dukungan dan support dalam pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan tersebut.

"PLTb ini telah lama dinantikan oleh masyarakat Mentawai sehingga mereka kini dapat menikmati listrik," kata Wiluyo.

Dengan adanya tiga unit PLTb tersebut, membuat PLN juga mendapatkan pelanggan baru serta menambah biaya produksi PLN pada pengelolaan PLTb.

Ia mengatakan untuk tiga unit PLTb itu ada 1.233 pelanggan yang teraliri listrik dengan rincian aliran listrik yakni Saliguma 250 kilowatt, Madobag 300 Kilowatt dan Matotonan 150 kilowatt dengan total keseluruhan 700 kilowatt

Dengan masuknya 3 PLTb, hal itu meningkatkan nilai elektrifikasi untuk mentawai dari awalnya 46 persen menjadi 51 persen.

"Kita mengharapkan 3 tahun elektrifikasi di Mentawai bisa mencapai 100 persen," Ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Menrawai Yudas Sabbalaget mengatakan PLTb ini sangat membantu masyarakat Mentawai dalam menikmati aliran listrik.

Selain itu, melalui PLTb tersebut terjadi sebuah sirkulasi ekonomi baru yang mana masyarakat dapat menjual bambu kepada pembangkit listrik dan masyarat juga membayar listrik kepada PLN.

Ia mengungkapkan, selama ini masyarakat belum teraliri listrik sepenuhnya. Hal itu dikarenakan sulitnya medan dan belum asanya akses jalan yang menghubungkan antar desa sehingga PLN kesulitan dalam memberikan layanan listrik pada masyarakat Mentawai.

Untuk penggunaan listrik energi terbarukan dengan menggunakan bambu ini, Pemkab Mentawai menyediakan lahan yang sudah ditanami bambu seluas 250 hektar.

"Itu untuk mengantisipasi kurangnya ketersedian bahan baku bambu untuk pembangkit listrik karena dalam satu hari dibutuhkan bambu sebanyak 40 ton," Ujar Yudas.

Sementara itu, salah seorang warga Kepulauan Siberut yang telah menikmati aliran listrik, Leo Saabbang (43) mengatakan bahwa aliran listrik yang mereka dapatkan sangat membantu kehidupan mereka, terutama saat malam hari.

"Sebelumnya kami hanya menggunakan lampu minyak (lampu togok) dan menghabiskan minyak 1 liter per hari dengan harga Rp10ribu per liter" Katanya.

Di rumahnya sendiri telah terpasang meteran listrik dengan memasukkan pulsa token. Menurutnya, penggunaan listrik daripada penggunaan lampu minyak akan lebih hemat.

Pria yang kegiatan hariannya sebagai petani ini mengatakan aliran listrik yang mereka terima dalam satu hari hanya 12 jam, namun itu tidak menjadi masalah karena aktifitas saat di rumah mereka lakukan di malam hari.

Masyarakat Silaguma telah menerima aliran listrik sejak Dessmber 2018 dan tidak dipungut biaya dalam kurun waktu tersebut. Namun sejak diresmikannya PLTb ini, maka per 1 Oktober 2019 akan mulai membayar listrik pada PLN. (*)
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar