Jakarta, (Antara) - Putri dari Mantan Presiden Soekarno, Rachmawati, menangis setelah sidang pengujian keberadaan Ketetapan Majelis Permusyawarah Rakyat (TAP-MPR) Nomor 1/MPR/2003 tentang peninjauan kembali materi dan status hukum MPR Tahun 1960 sampai 2002, yang secara tidak langsung menyebutkan Bung Karno sebagai pengkhianat bangsa. "Sudah lima presiden saya minta Tap MPRS dicabut, dari mulai Suharto tapi semua tidak memberikan jawaban yang konkrit, saya seperti dibohongi," ata Rachmawati, sambil menangis usai sidang di Mahkamah Konstitusi (MK) Jakarta, Senin Menurut dia, tuduhan terhadap Presiden Soekarno sebagai pengkhianat telah memberikan dampak yang buruk secara hukum dan politik bagi keluarganya. Rachmawati melihat pemerintah sama sekali tidak memiliki moral dalam menetapkan Presiden Soekarno sebagai pahlawan, akan tetapi disisi lainya dianggap sebagai pengkhianat. "Saya tidak tahu ada agenda pragmatis apa, hingga pemerintah mempermainkan TAP MPRS ini," kata Racmawati. Dirinya mengakui, sejak jaman orde baru telah mengusahakan untuk mencabut TAP MPRS ini akan tetapi semuanya tidak memberikan respon positif. "Tapi semua tidak memberikan jawaban yang konkrit, saya merasa seperti dibohongi. Saya menjabat sebagai wantimpres, tak satupun pejabat dan presiden yang meninaju kembali Tap MPR no 1/2003 itu," lanjut Rachmawati, sambil terisak. Sehingga, dirinya meminta MK untuk menyatakan frasa "baik karena bersifat final" dalam Pasal 6 TAP-MPR Nomor 1/MPR/2003 tentang peninjauan kembali materi dan status hukum MPR Tahun 1960 sampai 2002 bertentangan dengan UUD 1945. Bukan hanya itu, tekanan politik dalam bentuk teror, intimidasi dan perampasan hak sering kali terjadi ketika melakukan kegiatan. Dalam sidang istimewa MPRS Tahun 1967 mengatakan Presiden Soekarno telah melakukan kebijkasaan yang secara tidak langsung menguntungkan G 30 S/PKI. Sedangkan dalam Pasal 6 TAP-MPR Nomor 1/MPR/2003 tentang peninjauan kembali materi dan status hukum MPR Tahun 1960 sampai 2002, ada frasa "baik karena bersifat final".
Rachmawati Menangis Sukarno Dicap Pengkhianat Bangsa
Rachmawati. (Antara)
