Ikatan Keluarga Tanah Datar Lampung bantu anak penderita hidrosefalus di Lintau Buo Utara

id penderita hidrosefalus ,Ikatan Keluarga Tanah Datar,Tanah Datar

Ketua Tim Penggerak PKK Tanah Datar, Emi Irdinansyah dan ketua IKTD Lampung Merrywati mengunjungi Rizki, penderita Hidrosefalus Senin (12/8) (Antara Sumbar/Etri Saputra)

Batusangkar,  (ANTARA) - Ikatan Keluarga Tanah Datar (IKTD) Lampung membantu anak usia tujuh tahun yang menderita hidrosefalus atau kepala membesar di Jorong Duek, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

"Kami sangat prihatin dengan kondisi yang dialami Rizki. Kami akan menjadikan dia sebagai anak angkat IKTD Lampung dan membantu biaya rutin serta biaya BPJS yang menunggak," kata Ketua IKTD Lampung Merrywati di Batusangkar, Senin.

Ia mengatakan pertamakali mendengar berita seorang bocah penderita hidrosefalus itu dari keinginan ketua TP PKK Tanah Datar Emi Irdinansyah. Kemudian diperkuat dengan postingan di media sosial.

Melihat kondisi tersebut, IKTD Lampung didampingi TP PKK Tanah Datar langsung mendatangi rumah bocah penderita hidrosefalus tersebut dengan memberikan bantuan berupa pengobatan.

"Dengan memberikan biaya perawatan itu adalah bentuk kepedulian kami dirantau terhadap warga di Tanah Datar," ujarnya.

Sementara Emi Irdinansyah Tarmizi mengatakan, sebagai ketua tim penggerak PKK di Tanah Datar dia merasa prihatin dengan penyakit hindrosefalus yang dialami Rizki.

Ia berharap dengan bantuan yang diberikan IKTD Lampung sekaligus Owner dari Emersia Hotel tersebut mampu meringankan beban yang dialami Rizki dan keluarga.

"Bantuan berupa biaya rutin dan pelunasan BPJS yang menunggak dari IKTD Lampung semoga bisa membantu keluarga dari biaya pengobatan Rizki," katanya.

Sementara orang tua Rizki, Sri, mengatakan pada awalnya anaknya terlahir sama seperti anak biasanya tanpa cacat sekalipun.

Kemudian berusia sekitar tujuh bulan dia membawa anaknya untuk penyuntikan imunisasi. Setelah disuntik itu ia mengaku kondisi anaknya langsung drop, lalu berangsur-angsur kepala anaknya mulai membesar sampai sebesar penanak nasi.

Setelah dilakukan berobat kampung tidak juga kunjung sembuh, dia membawa anaknya berobat ke dokter di Batusangkar, dan dokter menyarankan dioperasi di Rumah Sakit M. Djamil Kota Padang.

"Kemudian Rizki yang berusia sembilan bulan waktu itu berhasil dioperasi dengan pemasangan selang dikepalanya, dengan biaya pengobatan ditanggung dari Jamkesda," ujarnya.

Ia mengaku setelah operasi pertama tersebut, dokter menyarankan Rizki untuk harus dioperasi kembali yang jatuh tempo sekitar enam bulan yang lalu. Namun karena tidak ada biaya ditambah BPJS menunggak Rizki batal dioperasi.

Ia mengaku, untuk keperluan sehari saja merasa pas-pasan dan terkadang kurang. Dia bersama suami terpaksa bergantian pergi kesawah karena kondisi Rizki yang tidak bisa ditinggal sendirian.
Pewarta :
Editor: Joko Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar