Menantang maut di jalur Sitinjau Laut

id sitinjau laut, jalan darat, jalan nasional

Kendaraan melewati panorama I Sitinjau Laut pada Sabtu (6/4). (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)

Padang (ANTARA) - Sudah menjadi rahasia umum di kalangan sopir truk dan bus jalur Sitinjau Laut yang merupakan jalan nasional menghubungkan Kota Padang, Sumatera Barat dengan Kabupaten Solok, bahwa rute itu dikenal sebagai momok yang menakutkan.

Tanjakan yang ekstrem, turunan tajam, tikungan maut, jurang yang menganga di sisi jalan hingga ancaman longsor dari perbukitan pada jalan dengan panjang 15 kilometer menjadi tantangan yang harus ditaklukan para pria sejati pemegang kemudi.

Sore itu ditemani secangkir kopi sembari menghisap sebatang rokok, Usman, salah seorang pengemudi truk tengah bersiap berangkat membawa muatan berisi hasil bumi ke Jakarta.

Sebenarnya sejak siang semua barang yang akan dibawa sudah selesai dimuat, akan tetapi ia memilih berangkat selepas isya dengan alasan berangkat siang cuaca terlalu panas.

Jika memaksakan diri berangkat siang hari, salah satu risiko yang harus dihadapi adalah ban kendaraan rawan meledak karena panas.

Selain itu, karena akan melewati Sitinjau Laut salah satu jalur yang dikenal berat, berangkat malam adalah pilihan karena dirasa lebih aman dan kendaraan dari arah lawan lebih terlihat dengan adanya cahaya lampu

Tak lupa, sebelum berangkat, Usman yang membawa muatan dengan berat sekitar 35 ton tersebut memastikan lagi kendaraannya dalam kondisi prima.

Ia mengecek ulang air radiator, tekanan angin ban, dan memastikan rem benar-benar berfungsi. Menempuh perjalanan ke ibu kota negara kali ini hanya dilakukan seorang diri karena sudah terbiasa dilakoni.

Kadang, sesekali ia ditemani ponakan sebagai teman di perjalanan. Namun, sore itu ponakannya tidak bisa ikut berangkat.

Butuh waktu setidaknya empat hingga lima hari di jalan untuk sampai Jakarta dengan jarak tempuh sekitar 1.330 kilometer.

Berangkat dari Padang selepas isya tantangan pertama yang harus ditaklukan Usman adalah tanjakan Panorama I Sitinjau Laut. Tanjakan berbentuk huruf U tersebut dikenal terjal dan pada sisi kiri kemiringannya sekitar 30 derajat.

Kendati jalannya cukup lebar mencapai sekitar 16 meter, bagi yang tak biasa melewati bisa-bisa kendaraan "kehabisan napas" atau mati mesin di tengah tanjakan.

Beruntung di Panorama I selalu ada Petugas Pos Kamling Jalan Raya (PKJR) yang senantiasa siaga membantu mengarahkan kendaraan yang melewati area itu.

Kehadiran PKJR di Panorama I amat membantu sopir truk dan bus karena biasanya mereka akan menyetop kendaraan dari arah berlawanan untuk memberi kesempatan kepada pengemudi truk melibas tanjakan.

Tidak ada pilihan lain selain persneling satu bagi para sopir truk untuk melahap tanjakan di Panorama I Sitinjau Laut. Biasanya mereka memilih mengambil jalur ke kanan agar lebih landai sehingga kendaraan lajunya lebih mudah.

Di sini peran petugas PKJR vital karena menyetop kendaraan dari arah atas memberi kesempatan truk dan bus yang mendaki.

Jika di tengah pendakian truk "kehabisan napas", dengan cekatan petugas PKJR menyiapkan pengganjal ban kendaraan mulai dari kayu balok hingga bongkahan batu besar. Setelah ban belakang kendaraan diganjal, baru kendaraan bisa mencoba ulang menaklukan tanjakan.

Tak jarang dijumpai di tengah tanjakan kendaraan mengalami kerusakan, mulai dari mati mesin, pecah ban, hingga patah as sehingga harus berhenti di tengah.

Tentu saja hal ini menjadi masalah baru karena ruang gerak kendaaran lain yang hendak lewat menjadi lebih sempit. Bahkan, masalah itu menyebabkan antrean panjang karena kendaraan hanya bisa lewat satu jalur.

Yang lebih ekstrem, terkadang di Panorama I juga ada truk yang membawa minyak sawit atau semen curah yang muatannya tumpah ke jalan.

Akibatnya, jalan menjadi licin dan tak jarang kendaraan yang melewati menjadi selip ban, biasanya solusi yang dilakukan adalah menabur bubuk sekam sehingga jalan menjadi kasar.
Kendaraan melewati panorama I Sitinjau Laut pada Sabtu( 6/4) (Antara Sumbar/Ikhwan Wahyudi)


Sebaliknya jangan kira bagi mereka yang berkendara dari arah Solok menuju Padang akan bisa dengan mudah melewati jalur Sitinjau Laut dengan asumsi jalannya menurun.

Berdasarkan pengalaman yang dijumpai selama ini, kecelakaan justru lebih banyak terjadi pada kendaraan yang berangkat dari Solok menuju Padang karena rem blong sehingga tak sedikit yang akhirnya berakhir di jurang atau menabrak tebing perbukitan.

Jika hujan turun dengan deras maka ancaman lain yang menghantui pengemudi di Sitinjau Laut adalah longsor karena berada di area perbukitan pada sejumlah titik menjadi rawan longsor.

Tidak hanya itu, selepas Panorama I tanjakan berikutnya yang juga harus ditaklukan adalah Panorama II dengan rute tanjakan yang panjang. Ibarat neraka jalanan, jika keterampilan mengemudi tak memadai, risikonya hanya satu, yakni celaka.

Topografi perbukitan kawasan Taman Hutan Raya Bung Hatta membuat jalur ini penuh dengan tanjakan dan turunan dan karena statusnya sebagai jalan nasional, jalur Sitinjau Laut ramai dilalui kendaraan mulai dari minibus, bus, hingga truk.

Menurut Usman, jika kendaraan prima dan muatan tidak melebihi daya angkut tak terlalu sulit untuk melewati Sitinjau Laut.

"Akan tetapi bagi mereka yang baru pertama kali memang ekstra waspada dan hati-hati," katanya.

Ia menceritakan selama ini pengalaman melewati jalur tersebut salah satu kuncinya adalah kesabaran.

"Biasanya sesama sopir solidaritasnya juga tinggi, jadi kalau ada kendala akan saling bantu," ujarnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, sepanjang 2018 kecelakaan di Sitinjau Laut didominasi oleh truk. Kecelakaan tersebut mulai dari kendaraan yang hilang kendali, terperosok ke got, rem blong, masuk jurang, menabrak kendaraan lain, menghantam tebing, tertimpa material longsor dari perbukitan, hingga kendaraan yang terbakar.

Salah satunya, pada Desember 2018 terjadi longsor yang materialnya menimpa satu bus, truk, dan minibus hingga terseret ke pinggir jurang dan membuat lima orang luka-luka serta satu orang meninggal dunia.

Pembangunan Jembatan

Pakar transportasi publik Universitas Andalas (Unand) Yosyafra, Phd. menilai pembangunan jembatan di Panorama I dan II di kawasan Sitinjau Laut merupakan solusi mengatasi beratnya jalur tersebut.

"Jalur Sitinjau Laut masuk salah satu yang terberat di Indonesia, tidak semua sopir kendaraan besar bisa melewatinya, apalagi derajat kemiringan lebih dari delapan persen sehingga salah satu solusi adalah membangun jembatan di Panorama I dan II," kata dia

Dia mengatakan rencana untuk membangun jembatan di Panorama Sitinjau Laut sudah diapungkan sejak lima tahun terakhir karena jalur yang ada sekarang dinilai cukup berat bagi kendaraan besar.

"Desainnya sudah selesai, kajian lingkungan juga sudah, mudah-mudahan tahun ini bisa dikerjakan," kata dia.

Ia menilai jika jembatan selesai akan memudahkan kendaraan berat yang kelebihan dimensi dan muatan.

"Selama ini kerap terjadi kecelakaan karena derajat kemiringan jalan yang tinggi serta kendaraan yang lewat melebihi ukuran dan muatan," ujarnya.

Yosyafra mengatakan kalau kendaraan kelebihan muatan susah menanjak dan kalau kelebihan dimensi sulit berbelok di tikungan tajam.

Secara standar jalan, saat ini kawasan Sitinjau Laut sudah memenuhi standar jalan nasional dengan lebar minimal delapan meter.

Ia juga menyoroti permukaan jalan yang saat ini dari beton kecenderungannya lebih mudah aus oleh ban kendaraan sehingga perlu diperkasar permukaannya.

"Dengan demikian kendaraan berat seperti truk yang membawa minyak kemudian tumpah akhirnya jalan lebih licin,"

katanya.

Ia menilai persoalan di Sitinjau Laut cukup kompleks mulai dari kecelakaan yang sering terjadi, kendaraan tidak mampu menanjak, hingga rem blong saat turun.

Untuk pembangunan jembatan tersebut, ia menyampaikan desainnya menggunakan jalur baru, sedangkan jalur lama tetap digunakan.

"Jadi konsepnya sama dengan Jembatan Kelok Sembilan yang menyediakan dua pilihan jalan, yaitu jalan lama dan jembatan baru," katanya.

Ia mengimbau pemerintah provinsi perlu mendesak pemerintah pusat agar pembangunan jembatan ini cepat direalisasikan.

"Apalagi Kota Padang berkepentingan karena jika sejumlah jalur putus mulai dari ke Bukittinggi, Solok, dan Pesisir Selatan maka bisa terisolasi," kata dia.

Jalur Sitinjau Laut merupakan salah satu jalan utama yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Provinsi Jambi.

Vitalnya keberadaan jalur ini seharusnya membuat pemangku kepentingan terkait segara menindaklanjuti solusi yang terbaik agar tidak ada lagi kecelakaan angkutan di jalur tersebut.

Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar