Padang, (Antara) - Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitaa Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat, menggelar kembali Festival Jepang Bunkasai guna mengenalkan budaya negeri Sakura tersebut pada 18 hingga 20 April 2016.
"Bunkasai ini digelar yang kedua belas kali dengan mengambil tema dua generasi keberadaan budaya Jepang Bakumatsu dan Meiji," kata Ketua Panitia kegiatan itu, Aulia Razak di Padang, Rabu.
Dia menyebutkan sama seperti pergelaran bunkasai sebelumnya, tahun ini tujuan tetap mengenalkan budaya Jepang ke masyarakat Indonesia khususnya Sumbar.
Hal yang berbeda dalam pagelaran tahun ini yakni temanya. Bila tahun lalu lebih pada pengenalan murni budaya Jepang secara keseluruhan ,tahun ini membagi kategori generasi kebudayaan tersebut.
Dua generasi di Jepang yakni Bakumatsu yang menonjolkan kemurnian budaya tradisional Jepang dikolaborasikan dengan Meiji yang merupakan budaya semi modern Jepang.
Untuk itu, tambah dia rangkaian kegiatan terfokus pada dua generasi tersebut seperti lomba cosplay atau busana animasi, lomba tarian dan menyanyi hingga pementasan drama singkat.
"Secara tersirat tema ini mengingatkan masyarakat pentingnya menjaga kebudayaan di masa lampau yang bermanfaat," sebutnya.
Karena ini diadakan di Padang tentunya, kegiatan tersebut bertujuan mengajak masyarakat Minangkabau untuk terus menjaga kebudayaan tradisional agar lestari dari serangan budaya global yang menguat saat ini, ujarnya.
"Dibanding tahun sebelumnya animo masyarakat yang berkunjung dn ikut serta mengalami peningkatan," lanjutnya.
Sebagai contoh dalam hal keikutsertaan peserta, yang tahun ini juga diramaikan dari sekolah luar Sumbar seperti Jambi, Riau dan Sumatera Selatan.
Hal ini membuktikan bahwa Bunkasai mulai diminati oleh masyarakat di luar Sumbar. Sekaligus juga membuktikan bahwa peminat kebudayaan di Indonesia bertambah, katanya.
Senada dengan itu, Dekan Ilmu Budaya Gusti Asnan menilai minat kegiatan Bunkasai ini telah menjadi agenda rutin sekolah di Sumbar.
Sebagai contoh, sebut dia saat kunjungan ke Pasaman, sekolah di daerah tersebut menanyakan perihal Bunkasai tersebut.
Hal ini juga membuktikan bahwa banyak sekolah yang mulai memperkuat kurikulum bahasa dan budaya Jepang, ujarnya. (*)
