Washington, (Antara/Xinhua-OANA) - Amerika Serikat, Ahad (23/3), menyampaikan keprihatinan dengan keputusan Pemerintah Georgia untuk memanggil mantan presiden Mikheil Saakashvili untuk ditanyai dalam penyelidikan beberapa kasus pidana. "Tak seorang pun di atas hukum, tapi dilancarkannya banyak penyelidikan secara berbarengan yang melibatkan mantan presiden menimbulkan keprihatinan hukum mengenai pembalasan politik, terutama ketika lembaga hukum dan kehakiman masih rapuh," kata wanita Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Marie Harf di dalam satu pernyataan. Jaksa penuntut di Georgia, Sabtu (22/3), mengumumkan mereka telah memanggil Saakashvili untuk ditanyai pada Kamis mengenai sejumlah kasus pidana, termasuk kemungkinan penyidikan kematian perdana menteri Zurab Zhvania pada 2005. Perdana Menteri saat ini di negeri tersebut Irakli Garisbashvili telah mengancam akan memasukkan mantan presiden itu ke dalam daftar orang yang dicari jika ia gagal hadir, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin. Saakashvili, seorang sekutu AS, tak berada di Georgia sebab ia meninggalkan negaranya segera setelah masa jabatan keduanya berakhir pada November tahun lalu. Jaksa penuntut umum telah mengajukan dakwaan terhadap beberapa sekutu Saakashvili. "Sebagaimana dibahas pada tingkat paling tinggi ketika Perdana Menteri Garibashvili mengunjungi Washington pada Februari, Amerika Serikat mendesak para pemimpin Georgia untuk memusatkan energi negara tersebut pada masa depan, ekonomi yang kuat, pembaruan yang berlanjut pada sektor kehakiman, dan kemajuan cepat pada penyatuan Eropa-Atlantik," kata Harf. (*/sun)