Tata Kelola MGAS Jangan Terpaku Pada "Lifting"
Jumat, 20 Desember 2013 15:11 WIB
Balikpapan, (Antara) - Pemerintah dinilai harus mengubah strategi tata kelola migas nasional dari saat ini cenderung terpaku mengacu pada pencapaian "lifting", menjadi tata kelola yang komprehensif dengan strategi peningkatan cadangan.
"Tujuan tata kelola migas harus mencari keseimbangan dengan meningkatkan cadangan yang lebih besar, jangan hanya monolitik "lifting" yang sifatnya pragmatis jangka pendek untuk pemenuhan dana APBN," kata Kepala Ekonom Energi Petronomist.com, Darmawan Prasodjo, di sela "Media Visit & Gathering Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), di Balikpapan, Jumat.
Menurut Darmawan, tata kelola migas yang hanya mementingkan target "lifting" sifatnya hanya jangka pendek dan mengarah pada kebijakan yang pro asing.
Ia menjelaskan, untuk memenuhi "lifting" membutuhkan tiga komponen yaitu padat kapital, padat teknologi, dan risiko tinggi.
"Butuh modal besar, teknologi yang kompleks, dan kemampuan mengelola risiko yang sangat tinggi. Ini faktor-faktor penting yang harus dikelola dalam jangka panjang bukan hanya sekedar pemenuhan target APBN setiap tahunnya," tegasnya.
Darmawan yang juga Komisaris Utama Ametis Ametis Energi Nusantara ini menuturkan, untuk mengkapitalisasi faktor-faktor tersebut dibutuhkan permodalan yang sangat kuat.
Ia menggambarkan, bahwa Pertamina sebagai perusahaan milik negara memiliki kekuatan permodalan dan sumber daya manusia, namun perusahaan migas skala global seperti Chevron masih lebih kuat.
"Chevron dan perusahaan asing lainnya punya akses permodalan dari pasar modal Amerika Serikat, sehingga cost of capitalnya jauh lebih rendah dibanding Pertamina," ujarnya.
3 unsur
Darmawan mengutarakan, setidaknya tiga unsur pengelolaan migas di masa datang yang harus berlatar multi dimensi yaitu bagaimana membangun industri migas nasional, mengelola sumber daya alam dengan kekuatan sendiri jangka panjang.
Kedua, lifting migas yang tidak hanya sekedar pemenuhan target APBN, dan ketiga tidak bagaimana mengelola peningkatan cadangan dan produksi.
Saat ini cadangan minyak nasional hanya 3,6 miliar barel, sementara lifting hanya 830.000 barel per hari, sehingga praktis cadangan tinggal 11 tahun untuk bisa ditingkatkan lagi.
"Tata kelola migas yang komprehensif dan holistik itu mengedepankan kekuatan sendiri dalam jangka panjang dengan menambah nilai dari sumber daya alam ("resource") menuju peningkatan cadangan dengan membangun industri migas nasional," ujarnya.
Untuk itu tambah Darmawan, dalam rangka meningkatkan produksi migas nasional, pemerintah harus cepat dan berani mengembangkan energi non konvensional.
Saat ini negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China gencar mengembangkan energi non konvensional dengan target melampauai produksi migas negara-negara Arab.
Darmawan menambahkan, mengembangkan lapangan offshore dan energi non konvensional memang bukan kegiatan yang murah, karena diperlukan teknologi khusus untuk memperoleh produksi yang maksimal.
Untuk mengembangkan energi non konvensional dibutuhkan dana berkali-kali lipat dari investasi di energi konvensional.
"Pemerintah seharusnya berani mengambil kebijakan yang dapat meringankan investor, dengan insentif pajak atau dari bagi hasilnya," ujarnyaa. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dukung ATR/BPN dalam pelaksanaan KKN Pertanahan, Gubernur DIY: Tata kelola yang baik lahir dari kolaborasi
11 February 2026 14:56 WIB
Wako Padang Panjang harapkan Baznas 2025--2030 kelola zakat lebih profesional dan berkelanjutan
31 December 2025 4:43 WIB
Pemusnahan Arsip Resmi Pertama, LLDIKTI Wilayah X tegaskan tata kelola kearsipan
22 December 2025 11:45 WIB
Kelola BMN dengan tertib dan akuntabel, Kementerian ATR/BPN terima anugerah reksa bandha 2025
19 December 2025 18:26 WIB
Kesbangpol Sawahlunto Gerakkan "Ruko Hibah Parpol" Perkuat Tata Kelola Dana Hibah Partai
07 December 2025 15:18 WIB
Perkuat tata kelola digital, LLDIKTI Wilayah X tekankan pentingnya clearance belanja SPBE
24 November 2025 13:19 WIB
Wawako Payakumbuh tekankan pentingnya tata kelola keuangan yang akuntabel
06 November 2025 12:22 WIB
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018