Zimbabwe: Resiko Wabah Kolera Dibesar-besarkan
Jumat, 22 November 2013 7:07 WIB
Harare, (Antara/Xinhua-OANA) - Pemerintah Zimbabwe, Rabu (20/11), menuduh satu kelompok internasional mengeluarkan pernyataan yang berlebihan mengenai resiko wabah kolera di Ibu Kota negeri itu, Harare.
Zimbabwe juga menjamin masyarakat bahwa wabah kolera tersebut, yang menewaskan 4.000 orang pada 2008, takkan terulang.
Direktur Lembaga Kesehatan Stanley Mongofa mengatakan kepada Xinhua kebanyakan tempat di kota tersebut menerima air minum, termasuk satu daerah yang menjadi pusat wabah kolera mematikan lima tahun lalu.
Mongofa menanggapi laporan setelah 160 halaman dari Human Rights Watch dengan judul "Trobuled Water: Burst Pipes, Contaminated Wells, and Open Defecation in Zimbabwe's Capital". Warga Harare, katanya, memiliki sedikit akses ke air minum dan layanan kesehatan dan sering memilih air minum dari sumur yang tercemar air comberan dan buang air besar di semak.
"Jika mereka mengatakan kondisi yang terjadi selama wabah kolera 2008 masih ada, saya akan bertanya, 'mengapa kita tidak menghadapi wabah kolera dalam lima tahun belakangan?'," kata Mongofa, yang sangat enggan mengomentari laporan tersebut, sebagaimana diberitakan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis malam.
Human Rights Watch menyatakan lembaga itu mengeluarkan laporan tersebut dari penelitian yang dilakukan pada 2012 dan 2013 di Harare, termasuk 80 wawancara dengan warga di pinggiran yang padat penghuni.
Direktur Afrika Selatan organisasi itu Tiseke Kasambala mengatakan kondisi yang memungkinkan penyebaran wabah kolera pada 2008 masih ada di Harare sehingga kehidupan banyak warga terancam penyakit yang ditularkan melalui air tersebut. Lembaga itu mengutip beberapa warga yang menggambarkan air pembuangan mengalir ke dalam rumah mereka dan jalanan karena pipa pecah.
Kolera adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang usus manusia. Penyakit kolera yang parah dan muntah dapat mengakibat dehidrasi cepat dan ketidak-seimbangan elektrolit, dan dalam beberapa kasus mengakibatkan kematian.
Penyebaran terutama terjadi karena orang minum air atau menyantap makanan yang telah tercemar oleh kotoran orang yang terinfeksi.
Mungofa mengakui wabah kolera 2008 sangat parah akibat masalah ekonomi di negeri itu. Namun sejak 2009, lingkungan ekonomi makro telah sangat membaik demikian juga dengan pasokan air di Harare.
Pekerjaan perbaikan sudah dimulai dalam kegiatan air utama di kota Harare. Namun seluruh proyek tersebut, yang dilakukan oleh Machinery Engineering Corporation China, akan memerlukan waktu tujuh tahun.
Saat ini, Harare memproduksi sebanyak 600 mega liter air per hari sementara keperluan kota itu berjumlah 1.200 mega liter untuk 2,5 juta warga dan sebanyak dua juta lagi pelanggan dari empat kota kecil satelit.
Kota tersebut telah melakukan penjatahan air untuk mengendalikan kekurangan air. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Pasaman Barat perkuat mitigasi resiko hukum melalui kerja sama dengan kejaksaan
12 February 2026 16:46 WIB
Bank Nagari Sawahlunto edukasi nasabah hadapi resiko social engineering perbankan
19 June 2025 13:30 WIB
Satpol PP-Damkar Sawahlunto perkuat Satlinmas hadapi resiko kebakaran
25 November 2024 20:21 WIB, 2024
BNPB ingatkan sawahlunto waspadai resiko bencana tampungan air di perbukitan
11 May 2024 13:42 WIB, 2024
Sarasehan HKBN 2024, Hendri Septa Berbagi Pengalaman Tentang Upaya Pengurangan Resiko Bencana
26 April 2024 18:13 WIB, 2024
BPBD Agam susun dokumen rencana kontijensi pengurangan resiko bencana
02 November 2023 16:04 WIB, 2023
Pelaku Usaha di Pasaman dibekali Bimtek implementasi perizinan berusaha berbasis resiko
06 September 2023 17:23 WIB, 2023
Kurangi resiko bencana, BPBD hadirkan Bocah Siaga Bencana di Bukittinggi
16 August 2023 18:46 WIB, 2023
BPBD Agam gelar pembekalan teknis KSB untuk kesiapsiagaan antisipasi resiko bencana
07 November 2022 12:56 WIB, 2022
Bupati Agam terbitkan SE pencegahan-pengurangan resiko bencana karhutla
05 April 2022 15:29 WIB, 2022
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018