Jakarta, (ANTARA) - Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan ada enam perusahaan yang tutup pada Oktober 2012 sebagai dampak ketidakpastian hukum dan ketiadaan jaminan keamanan bagi pengusaha untuk terus mengembangkan usahanya di Indonesia. "Bagaimana perusahaan mau terus berproduksi jika terus didemo. Rencana investasi terganggu karena tidak ada kepastian keamanan di dalam negeri," katanya kepada ANTARA seusai peluncuran buku "Rumah Ekonomi Rumah Budaya" di Jakarta, Selasa. Dia mengatakan, situasi keamanan yang tidak kondusif di Indonesia menjadi pertimbangan pengusaha untuk menutup atau merelokasi pabrik. Ia memperkirakan, jika permasalahan buruh tidak kunjung selesai, maka akan banyak perusahaan yang tutup. Menurut Franky, saat ini kondisinya sudah semakin berat karena tidak ada yang peduli dengan situasi keamanan di industri. Pemerintah menurut dia, belum bisa memberikan perlindungan kepada pengusaha dan hanya mengeluarkan kebijakan yang sifatnya pencitraan saja. Dia meminta pemerintah untuk bertindak tegas dalam penegakan aturan dan hukum terutama terkait masalah ketenagakerjaan. Hal ini penting dilakukan, menurut Franky karena untuk menjaga keseimbangan iklim usaha yang terus berkembang saat ini. Franky mengatakan, terganggunya investasi karena faktor keamanan merupakan hal yang konyol dan patut dipertanyakan ke pemerintah. "Rencana investasi terganggu karena tidak ada kepastian keamanan bukan karena iklim investasi dalam regulasi, itu konyol," katanya. Menurut dia, berbagai negara sudah mempertanyakan masalah keamanan di Indonesia, dan hal itu menandakan kondisinya sudah sangat serius. Untuk itu dia meminta pemerintah untuk memperhatikan dan mengeluarkan langkah tegas agar masalah ini terselesaikan. (*/sun)