New Delhi, (Antara/AFP) - Kementerian Luar Negeri India pada Selasa meminta China menarik pasukannya, yang dianggap memasuki wilayah sengketa, yang diakui New Delhi di daerah terpencil pegunungan Himalaya. "Kami meminta China mempertahankan 'status quo' di wilayah ini (di perbatasan barat)," kata juru bicara Syed Akabruddin, "Yang saya maksud adalah 'status quo' sebelum peristiwa terjadi." Ia menekankan ada perbedaan persepsi terkait batas terdefinisi di wilayah perbatasan yang didominasi masyarakat Buddha di Ladakh, India, sebagai akar permasalahan antara dua negara tetangga tersebut. Ia mengatakan ada berbagai mekanisme yang memungkinkan penyelesaian masalah perbatasan tersebut dengan damai dan apabila pasukan kedua negara bertemu maka "mereka harus menahan diri dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menghindari peningkatan ketegangan". Akbaruddin menambahkan pihaknya sudah memanggil Duta Besar China untuk india di New Delhi atas dugaan penyerangan yang dilakukan pada 15 April saat sepeleton Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah merangsek maju dan mendirikan kamp. Pertemuan antara kedua komandan juga disipakan untuk menyelesaikan insiden tersebut. "Saya ingin menyampaikan bahwa kami telah menyelesaikan beberapa insiden sebelumnya secara damai dan besar harapan kami kali ini hal yang sama bisa dilakukan," kata dia menambahkan. China menyangkal pasukannya telah memasuki wilayah India mengingat itu merupakan pelanggaran atas perjanjian antara kedua negara yang ditandatangani pada 1993 dan 1996 guna menjamin perdamaian di sepanjang apa yang disebut dengan Garis Kontrol Aktual (LAC). Menanggapi reaksi Beijing yang menuduh serbuan tersebut hanya "spekulasi" semata, Akbaruddin menjawab: "Itu bukan sesuatu yang kami buat-buat." Ketegangan di wilayah perbatasan bukan hal baru dan media-media di India kerap melaporkan berbagai pergerakan yang diambil pasukan China termasuk pembangunan pemusatan senjata dan infrastruktur militer China di garis depan perbatasan Tibet. Hubungan antara dua negara tetangga berwilayah besar tersebut kerap ditandai dengan saling lempar kecurigaan -- sebuah warisan akibat perang perbatasan pada 1962 yang terjadi di Ladakh dan di timur laut provinsi Arunachal Pradesh. Harian The Hindu di India melaporkan baru-baru ini Perdana Menteri Li Keqiang merencanakan kunjungan ke New Delhi pada bulan mendatang sebagai bagian untuk mempererat hubungan antara dua negara yang memiliki populasi terbesar di dunia tersebut. Pergerakan pasukan China tersebut menjadi perhatian sejumlah negara tetangga China terkait penghormatan Beijing atas wilayah perbatasan dan menambah daftar panjang masalah sengketa perbatasan mereka. China saat ini bersitegang dengan Vietnam dan Filipina terkait kawasan Laut China Selatan. Mereka juga bersengketa dengan Jepang atas kepemilikan kepulauan di Laut China Timus, serta Perdana Menteri jepang pada Selasa sempat bersumpah akan "mengusir dengan kekerasan" apabila ada pendaratan oleh China di pulau yang menjadi sengketa. (*/jno)