Padang, (AntaraSumbar) - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat (Sumbar) mencatat ekspor daerah itu pada Agustus 2015 turun 11,40 persen dibandingkan Juli yang mencapai  mencapai angka 144,1 juta dolar Amerika Serikat (AS).


"Ekspor Sumbar pada Juli seluruhnya berasal dari komoditas nonmigas dengan total nilai  sebesar 127,7 juta dolar AS," kata Kepala BPS Sumbar Yomin Tofri di Padang, Selasa.


Ia mengatakan  golongan barang yang diekspor pada  Agustus 2015 paling besar adalah lemak  dan  minyak hewan 82,1 juta dolar AS,  golongan karet dan barang dari karet sebesar 34,3 juta dolar AS dan ampas atau sisa industri makanan 2,3 juta dolar AS.


Negara tujuan ekspor nonmigas bulan Agustus 2015 terbesar adalah  India sebesar 38,1 juta dolar AS,  Amerika Serikat  30,1 juta dolar As, Bangladesh 17,1 juta dolar As, dan Singapura 15,1 juta dolar AS, kata dia.


Menurut dia, ekspor ke  India memberikan peran sebesar 36,02 persen terhadap total ekspor Sumbar  Agustus 2015, Amerika Serikat 19,68 persen, dan Singapura 9,81 persen.


Sedangkan menurut sektor, ekspor produk industri  Agustus 2015 turun sebesar 13,07 persen dibanding Juli 2015 dan ekspor hasil pertanian naik  22,42 persen, lanjut dia.


Ia melihat penurunan ekspor nonmigas  Agustus 2015  dibandingkan  Juli 2015 terjadi pada beberapa negara tujuan yaitu Malaysia 14,39 persen, dan Pakistan  12,53 persen.


Sementara  ekspor ke beberapa negara tujuan lain meningkat antara lain  India 0,74 persen, Amerika Serikat 0,10 persen, Singapura 28,11 persen, Selandia Baru 82,55 persen , Tiongkok 21,06 persen , dan Jepang 229,01 persen.


Sementara, Kepala  Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumbar  Puji Atmoko mengatakan  komoditas ekspor daerah itu masih didominasi oleh crude palm oil (CPO) atau minyak sawit serta karet dalam lima tahun terakhir.


"Hasil industri pengolahan  di sektor perkebunan masih menjadi komoditas ekspor utama di CPO berkontribusi sebesar 71 persen dan karet 16 persen," kata dia.


Namun ia menilai negara-negara tujuan ekspor sedang mengalami perlambatan ekonomi sehingga mempengaruhi ekspor dan salah satu cara menyiasati adalah melalui industri pengolahan, agar produk yang dijual memiliki nilai tambah.


Ke depan yang perlu dilakukan adalah meningkatkan nilai tambah CPO melalui industri pengolahan jika peningkatan produksi tidak dimungkinkan lagi, kata dia. (*)