Obama Didesak Balas Tindakan Rusia Soal Larangan Adopsi Anak
Senin, 24 Desember 2012 14:34 WIB
Washington, (ANTARA/AFP) - Puluhan ribu penandatangan petisi menyerukan Presiden Amerika Serikat Barack Obama meningkatkan tekanan diplomatik yang menyebabkan Moskow mengusulkan satu undang-undang yang melarang warga AS mengadopsi anak-anak Rusia.
Beberapa anggota parlemen Rusia mengecam prakarasa itu Ahad, tetapi seorang anggota senior Duma, majelis rendah parlemen Rusia, menyatakan mungkin masih ada satu jalan lain bagi tindakan-tindakan lebih lunak.
Dua petisi di laman Gedung Putih meminta AS mengenakan sanksi-sanksi terhadap para anggota parlemen Rusia yang mendukung satu rancangan undang-undang yang salah satu dari dokumen-dokumennya mengatakan itu akan "membahayakan kehidupan dan kesejahteraan ribuan anak angkat Rusia."
Moskow menganggap larangan adopsi sebagai balasan atas satu undang-undang hak asasi manusia yang mengizinkan penyitaan aset-aset dari para pejabat Rusia yang terlibat dalam kematian seorang pengacara Rusia tahun 2009.
Berdasarkan undang-undang AS, para pejabat yang sama juga akan dilarang memasuki AS. Undang-undang itu juga dijuluki Magnitsky Act setelah Sergei Magnitsky, pengacara itu, mengungkapkan apa yang ia katakan rencana penyelewengan uang sejumlah 235 juta dolar AS.
Lebih dari 40.000 orang menandatangani salah satu dari petisi-petisi, yang mengatakan mereka "sakit hati" atas tindakan Rusia itu.
Para anggota parlemen Rusia melanggar semua batas kemanusiaan, pikiran sehat dan memilih membahayakan kehidupan dan kesejahteraan ribuan anak angkat Rusia, sejumlah dari mereka, sakit dan cacat, mungkin tidak memiliki peluang selamat jika larangan bagi adopsi internasional diberlakukan, kata petisi itu.
Para pengaju petisi mendesak pemerintah Obama "mengidentifikasi mereka yang terlibat dalam menyetujui rancangaa undang-undang itu bertanggung jawab sesuai dengan Magnitsky Act."
Satu petisi kedua, yang ditandatangani oleh lebih dari 5.000 orang, meminta Magnitsky Act diperluas ke para pendukung undang-undang ini di Duma Rusia.
Menurut peraturan Gedung Putih akan ada satu tanggapan resmi jika petisi itu mencapai 25.000 tanda tangan dalam 30 hari.
Anggota parlemen Rusia Iirina Yarovaya, yang memimpin komite keamanan Duma, mengecam petisi-petisi itu.
Prakarsa-prakarsa seperti tu "melanggar batas-batas hukum internasional, hubungan internasional dan satu hak kedaulatan satu negara," kata Yarovaya dalam pernyataan yag dikutip kantor berita Rusia Interfax.
Seorang anggota parlemen lainnya, Vycheslav Nikonov mengemukakan kepada Radio Moscow Echo bahwa jika Washington melaksanakan petisi-petisi itu, maka akan menimbulkan komplikasi-komplikasi diplomatik yang sangat serius."
Nikobov adalah seorang anggota senior komite hubungan internasional Duma.
Pembangkang era-Sovyet Lyudmila Alexeyeva mendukung prakrasa AS itu, kata kantor berita Interfax.
"Menurut konstitusi kita, para anggota parlemen tidak memiliki hak untuk menyetujui undang-undang yang melanggar hak asasi manusia," kata aktivis hak asasi manusia itu.
Duma menyetujui larangan adopsi itu dalam satu sidang cepat dengan 420 suara setuju dan tujuh menolak Jumat sementara para pemrotes berada gedung itu menuntut tindakan itu ditolak.
Majelis Tinggi yang dikuasai Kremlin kini diperkirakan akan menyetujui rancangan undang-undang itu sebelum disampaikan kepada Presiden Vladimir Putin untuk ditandatangani.
Pemimpin Rusia itu mengindikasikan ia siap menandatangani tindakan itu agar dapat disahkan menjadi undang-undang pada 1 Januari.
Antara tahun 2008 dan 2011, para warga AS mengadopsi 55.177 dari 14.660 anak Rusia yang diadopsi oleh para warga asing, kata data yang diberikan kepada AFP oleh kantor Pavel Astakhov, komisioner hak anak-anak Putin. (*/jno)
Pewarta : 172
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polisi didesak usut tuntas kasus pembunuhan gadis penjual gorengan
20 September 2024 13:05 WIB, 2024
UMNO tarik dukungan ke PM Muhyiddin Yasin, desak mundur secara terhormat
08 July 2021 7:49 WIB, 2021
Transfer musim panas, City dan United didesak untuk tarik Lionel Messi dari Barca
17 August 2020 6:01 WIB, 2020
LPSK didesak proaktif dampingi saksi mahasiswa tewas tertembak di Kendari
15 October 2019 6:07 WIB, 2019
Pasca-kerusuhan, Presiden Jokowi didesak bangun kembali Wamena Papua
03 October 2019 14:32 WIB, 2019
Tabrakan maut Cipularang - KNKT didesak selidiki tabrakan beruntun Cipularang
02 September 2019 14:43 WIB, 2019
Jaksa Agung didesak ajukan peradilan umum anggota TNI diduga pelaku rasialisme mahasiswa Papua
28 August 2019 18:20 WIB, 2019
Pasca OTT Dirkeu AP II, Pemerintah didesak evaluasi perekrutan direksi BUMN
01 August 2019 8:55 WIB, 2019
BPKP didesak percepat audit RSUD, Bupati Pesisir Selatan: dua tahun kok belum selesai
18 June 2019 10:39 WIB, 2019
Terpopuler - Berita
Lihat Juga
Komitmen BNI dukung Sumbar menuju destinasi wisata dunia, kucurkan Rp2,2 miliar
08 February 2018 12:50 WIB, 2018
BNI hadir sebagai penyalur program Indonesia pintar di Dharmasraya dan Solok
07 February 2018 20:36 WIB, 2018
59 nagari di Sijunjung Berkomitmen capai 100 persen ODF hingga 2019
06 February 2018 20:39 WIB, 2018