Jakarta, (Antara) - Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan ada enam indikator kinerja ekonomi yang mengalami perbaikan dalam satu dekade terakhir, termasuk di antaranya pertumbuhan ekonomi yang bisa mencapai kisaran enam persen. "Angka pertumbuhan ekonomi rata-rata berkisar lima-enam persen dalam evaluasi sepuluh tahun perekonomian nasional, ini termasuk baik," kata Enny dalam pemaparan proyeksi ekonomi Indonesia 2015 di Jakarta, Kamis. Enny menambahkan indikator lainnya yang membaik adalah peranan pertumbuhan investasi yang meningkat dari 23 persen menjadi 31 persen pada 2013, serta kinerja perbankan nasional yang terus mengalami perbaikan sejak 2004. "Kinerja perbankan terlihat dari perkembangan aset yang rata-rata tumbuh 16,41 persen, Dana Pihak Ketiga yang tumbuh 15,88 persen serta pertumbuhan kredit yang mencapai 21,62 persen," paparnya. Selain itu, Indef mencatat persentase angka kemiskinan menurun dari 16,66 persen pada 2004 menjadi 11,25 persen pada 2014, serta penurunan tingkat pengangguran terbuka dan peningkatan pekerja formal dari 29,38 persen menjadi 39,9 persen pada 2013. Enny menambahkan, indeks pembangunan manusia meningkat 7,45 persen dari sebelumnya hanya tercatat sebesar 68,7 persen pada sepuluh tahun yang lalu, menjadi kisaran 73,45 persen pada 2013. Menurut dia, enam indikator tersebut memang mengalami perbaikan, namun masih terdapat beberapa catatan, seperti pertumbuhan ekonomi yang masih didominasi sektor non-"tradeable" dan penyebaran investasi yang belum merata. "Selain itu, penurunan pengangguran terbuka masih banyak yang hanya bergeser ke sektor informal, dan penurunan angka kemiskinan serta peningkatan indeks pembangunan manusia masih berjalan lambat," jelas Enny. Meskipun enam indikator ekonomi membaik sejak 2004, namun ada 10 indikator yang nisbi mengalami kegagalan, seperti melebarnya ketimpangan yang terlihat dari naiknya gini ratio 0,5 serta gejala deindustrialisasi karena kontribusi sektor industri terhadap PDB menurun. Kemudian, neraca perdagangan dari sebelumnya surplus pada 2004 sebesar 25,06 miliar dolar AS, namun menjadi defisit 4,06 miliar dolar AS pada 2013, dan tingginya pertumbuhan ekonomi yang tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan. "Elastisitas satu persen pertumbuhan, dalam membuka lapangan kerja menurun dari 436 ribu menjadi 164 ribu atau turun 272 ribu. Efisiensi juga memburuk yang disebabkan oleh inefisiensi birokrasi, korupsi dan keterbatasan infrastruktur," ungkap Enny. Indikator lainnya yang memburuk adalah "tax ratio" yang turun 1,4 persen, kesejahteraan petani yang turun 0,92, utang pemerintah yang mencemaskan serta APBN yang naik namun disertai oleh defisit keseimbangan primer. "Tahun 2004, keseimbangan primer surplus 1,83 persen dari PDB, tahun 2013 menjadi defisit 1,19 persen. Postur APBN menjadi semakin tidak proposional, boros dan semakin didominasi pengeluaran rutin serta birokrasi," tutur Enny. (*/jno)