Logo Header Antaranews Sumbar

810 hektare tanaman padi di Pariaman gagal panen akibat banjir

Rabu, 24 Desember 2025 17:57 WIB
Image Print
Kondisi tanaman padi yang akan dipanen di Kota Pariaman, Sumbar yang terendam banjir akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November lalu. Antara/HO-Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman 

Pariaman (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) mencatat setidaknya 810 hektare lahan sawah dari sekitar 1.627 hektare luas persawahan di daerah itu gagal panen akibat terendam banjir yang disebabkan oleh bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November lalu.

"Kondisinya bermacam-macam, ada yang hanyut juga ada yang terendam pada fase pembungaan dan penyerbukan sehingga tidak dapat menghasilkan padi," kata Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Marlina Sepa di Pariaman, Rabu.

Ia menyampaikan kondisi tanaman padi lainnya yang terdampak bencana yaitu padi yang akan dipanen oleh petani terendam air banjir terlalu lama sehingga komoditas tersebut menjadi menghitam dan tidak dapat dikonsumsi.

Ia menyebutkan akibat peristiwa tersebut setidaknya kerugian yang dialami oleh petani Pariaman akibat bencana alam yang terjadi lebih dari Rp900 juta.

Ia mengatakan pihaknya telah melaporkan kondisi tersebut kepada Kementerian Pertanian (Kementan) RI guna meminta bantuan agar petani di daerah itu dapat kembali menanam padi sebab modalnya kemungkinan sudah habis.

"Data sudah masuk ke Kementan RI, Pariaman akan mendapatkan bantuan Optimasi Lahan (Oplah). Biasanya dalam Oplah tersebut petani mendapatkan benih dan mudah-mudahan petani Pariaman juga mendapatkan pupuk," katanya.

Ia berharap Kementan RI dapat menyalurkan bantuan untuk petani yang terdampak bencana tersebut segera agar proses penanaman padi dapat cepat dilakukan karena dikhawatirkan juga berdampak pada ketahanan pangan daerah itu.

Selain meminta bantuan bibit dan pupuk, lanjutnya Pemkot Pariaman juga meminta Kementan RI untuk melakukan rehabilitasi jaringan irigasi usaha tani di Pariaman yang rusak akibat bencana hidrometeorologi.

"Irigasi yang rusak tersebut ada di beberapa lokasi, kalau dijumlahkan bagian yang rusak mencapai 2,6 kilometer," ujarnya.

Irigasi tersebut juga berdampak pada ratusan hektare sawah di Pariaman sehingga dapat mempengaruhi ketahanan pangan daerah itu.

Selain padi, kata dia komoditas lainnya di Pariaman juga mengalami kerugian yaitu tanaman jagung dan cabai mati karena terendam air banjir terlalu lama serta juga ada yang hanyut.

Diketahui Pariaman merupakan salah satu daerah di Sumbar yang terdampak cuaca ekstrem yang terjadi dari 21 hingga 28 November. Setidaknya Pemkot Pariaman merilis daerah itu mengalami banjir di 121 lokasi, longsor enam lokasi, dan puluhan pohon tumbang.



Pewarta:
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026