Parik Malintang (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat meningkatkan kesiapsiagaan bencana guna menghadapi dampak cuaca ekstrem yang diprediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerpa daerah itu hingga 18 September.
"BMKG telah mengeluarkan prediksi dari tanggal 11 sampai 18 (September) untuk beberapa wilayah provinsi termasuk Sumatera Barat akan terjadi hujan dengan intensitas sedang sampai lebat," kata Kepala Pelaksana BPBD Padang Pariaman Emri Nurman di Parik Malintang, Selasa.
Ia mengatakan BPBD telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring dengan informasi yang dikeluarkan oleh BMKG tersebut guna meminimalisir terjadinya korban.
BPBD, lanjutnya juga telah mempersiapkan personel untuk menanggulangi dampak bencana serta berkoordinasi dengan pihak terkait jika dampak cuaca ekstrem itu terjadi.
"Alhamdulillah, sampai saat ini tidak ada dampak (cuaca ekstrem) yang terjadi di Padang Pariaman, mudah-mudahan tidak terjadi," katanya.
Ia menyampaikan cuaca ekstrem di Padang Pariaman yang terjadi semenjak beberapa hari yang lalu dan diperkirakan berlangsung hingga 18 September tersebut dapat mengakibatkan sejumlah bencana mulai dari banjir, longsor, dan pohon tumbang.
Namun, lanjutnya pihaknya telah memetakan kawasan-kawasan yang terjadi bencana tersebut mulai dari Kecamatan Batang Anai, Ulakan Tapakis, V Koto, dan Sungai Limau rawan terjadi banjir.
Sedangkan kawasan rawan longsor sering terjadi daerah perbukitan di antaranya Kecamatan Sungai Garinggiang, V Koto, V Koto Timur dan sejumlah kecamatan lainnya. Lalu untuk pohon tumbang biasanya tersebar di 17 kecamatan di Padang Pariaman.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi banjir dan cuaca ekstrem seiring dengan sebagian besar wilayah Indonesia memasuki peralihan dari musim kemarau ke hujan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Senin, mengatakan curah hujan tinggi dalam periode peralihan ini dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi.
“Sejak akhir Agustus hingga September, sebagian besar wilayah sudah memasuki peralihan musim. Fenomena ini ditandai dengan hujan lebat, petir, hingga angin kencang,” katanya.
