PMI Pasaman butuh anggaran Rp250 juta untuk pengadaan peralatan unit transfusi darah

id PMI Pasaman,RSUD Tuanku Imam Bonjol,pengadaan peralatan unit transfusi darah,Pasaman, Sumatera Barat

PMI Pasaman butuh anggaran Rp250 juta untuk pengadaan peralatan unit transfusi darah

Launching ruangan Unit Tranfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Pasaman beberapa waktu lalu.ANTARA/Heri Sumarno

Lubuk Sikaping (ANTARA) - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat membutuhkan anggaran sekitar Rp250 juta untuk pengadaan peralatan Unit Transfusi Darah (UTD).

Kepala Markas PMI Pasaman Rosben Aguswar di Lubuk Sikaping, Rabu mengatakan keberadaan UTD sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan kebutuhan darah jangka panjang didaerah tersebut.

"Untuk solusi jangka panjang, PMI Pasaman butuh peralatan Unit Transfusi Darah (UTD). Harga peralatan ini sekitar Rp250 juta," terang Rosben Aguswar.

PMI Pasaman kata Rosben sudah menyiapkan ruangan khusus untuk UTD yang terintegrasi langsung dengan markas dan RSUD Tuanku Imam Bonjol.

"Untuk ruangan dan tenaga medisnya sudah disiapkan. Tinggal menunggu peralatan UTD ini saja," tambahnya.

Dikatakan Rosben, kalau alat itu sudah ada, kemungkinan kasus kekurangan stok darah di PMI Pasaman akan bisa diminimalisir.

"Karena dengan alat itu memungkinkan kita melakukan penukaran darah dengan PMI lain. Disamping itu bisa jadi tempat pengolahan dan penyimpan darah secara mandiri. Saat ini masih menompang ke RSUD Tuanku Imam Bonjol," katanya.

Rosben menyebut, pihaknya sejak beberapa waktu belakangan intensif melakukan upaya untuk mendapatkan dana untuk pengadaan peralatan UTD tersebut kepada Pemkab dan DPRD Pasaman.

"Kita sangat berharap agar alokasi anggaran tersebut yang ditompangkan di dinas kesehatan dapat terealisasi. Agar masyarakat tidak lagi mengalami kelangkaan stok darah saat berobat di rumah sakit," katanya.

Bahkan kata dia pihaknya juga telah berkomunikasi dengan Benny Utama yang kini jadi anggota DPR RI dari Dapil Sumbar.

"Kita berharap semua pihak juga bisa membantu. Karena ini demi kemanusiaan," katanya.

Rosben juga menyebut PMI Pasaman juga ikut kena imbas kebijakan efisiensi anggaran dari Pemkab Pasaman.

"Bantuan hibah dari APBD Pasaman yang dulunya mencapai Rp500 juta, menurun drastis hanya bersisa Rp200 juta. Tapi semangat kita tidak akan pernah kendor menghadapi situasi ini. Tugas yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan kita dituntut untuk tidak mengeluh dalam menghadapi kondisi seberat apa pun," katanya.

Kondisi yang tidak biasa sedang dialami oleh PMI Pasaman yaitu stok darah yang ada sejak sepekan terakhir dalam kondisi minus.

"Stok darah di PMI Pasaman sejak sepekan terakhir sedang minus, hanya tiga kantong darah. Apa yang sedang terjadi bukan kondisi yang biasa karena stok darah di PMI selama ini selalu dalam posisi berlebih alias surplus," katanya.

Meskipun demikian, pihaknya terus mengupayakan lakukan aksi donor darah dengan sistem jemput bola ke nagari-nagari yang ada dengan melibatkan puskesmas setempat.

"Terus dilakukan aksi donor darah ke nagari-nagari bersama petugas puskesmas. Agar kebutuhan stok darah terpenuhi," katanya.

Ia mengatakan saat ini rata-rata per bulan masyarakat Pasaman dirumah sakit membutuhkan donor darah sekitar 150 kantong.

"Dengan aksi donor yang rutin kita lakukan per bulan rata-rata dapat terkumpul 160 kantong. Namun untuk antisipasi kebutuhan bagi masyarakat Pasaman yang berobat ke luar daerah, sudah kita bangun kerjasama dengan PMI Pasaman Barat dan Kota Bukittingi serta Kota Padang," ungkapnya.

PMI Pasaman juga rutin memberikan apresiasi kepada pihak yang memberikan donor darah tergiat didaerah setempat.

Pewarta :
Uploader: Jefri Doni
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.