Simpang Empat (ANTARA) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ikut menurunkan tim ke lokasi pengungsian di Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) untuk memulihkan kondisi anak-anak di sana, baik fisik maupun psikologis.
Pada Minggu pagi, IDAI bersama Forum Anak Pasaman Barat mengajak puluhan anak-anak pengungsian di halaman Kantor Bupati Pasaman Barat senam, bermain, hingga bernyanyi bersama.
"Pada gempa Pasaman Barat ini kami fokus untuk menangani dan memberikan pelayanan kepada anak-anak terdampak gempa, baik medis ataupun non medis," kata Wakil Ketua IDAI Sumbar dr Asrawati, di Simpang Empat, Senin.
Ia mengatakan IDAI Sumbar usai gempa telah menurunkan tim ke sejumlah lokasi terdampak gempa yaitu Malampah, Kabupaten Pasaman, Nagari Kajai, dan posko utama pengungsian di halaman Kantor Bupati Pasaman Barat.
Baca juga: Enam SD di Pasaman Barat rusak akibat gempa
"Tim diturunkan ke lokasi untuk memberikan perawatan dan penanganan anak-anak yang terdampak gempa, sekaligus menyurvey kondisi yang ada di posko pengungsian" katanya.
Khusus untuk pemulihan trauma anak, katanya, ia mengatakan mesti diatasi secepatnya karena akan berpengaruh pada perilaku dan tumbuh-kembang anak ke depannya.
"Oleh karena itu kami memberikan tindakan bermain agar anak-anak hidup dalam keadaan gembira dan menyenangkan, ini berdampak tekanan darah yang bagus, nadi, dan suhu tubuh," katanya.
Asrawati menjelaskan keadaan yang nyaman akan mempengaruhi pikiran, membuat tidur anak nyenyak, dan ujungnya nanti diharapkan bisa mempengaruhi perilaku.
Baca juga: Trauma gempa susulan, korban gempa masih bertahan di tenda pengungsian
Dengan membuat anak-anak gembira juga akan membantu keluarnya hormon endorfin, dan secara bertahap diharapkan bisa melupakan kesedihan atas bencana yang terjadi.
"Kondisi yang menyenangkan ini harus diciptakan di lokasi-lokasi pengungsian, demi pemulihan trauma dan psikologis anak-anak," katanya.
Pada bagian lain, dari laporan tim yang turun ke lokasi IDAI juga menemukan kasus anak-anak yang mulai terkena penyakit seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan diare.
Selain itu dari temuan lapangan di sisi non medis kebutuhan anak-anak adalah pakaian, makanan bergizi karena anak masih dalam tahap tumbuh dan berkembang.
"Jika bisa menu seimbang untuk pemenuhan kalori, ini kami harapkan bisa menjadi perhatian di lokasi pengungsian," katanya.
Baca juga: Listrik dan air bersih di Translok Timbo Abu Talamau masih mati
