Potensi Pengembangan Wisata Galo-galo di Batu Busuk

id galo galo

Potensi Pengembangan Wisata Galo-galo di Batu Busuk

Perakitan sarang bagi koloni galo-galo. (Antara/HO-Unand)

Padang (ANTARA) - Selama tiga bulan terakhir, dosen Universitas Andalas di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM Unand) telah melakukan berbagai kajian dan survei untuk menilai kesesuaian pengembangan galo-galo di Batu Busuk. Survei mendapatkan bahwa kebun di depan rumah ketua RW III Batu Busuk merupakan salah satu lokasi yang sesuai untuk penempatan koloni galo-galo.

Penempatan koloni ini mempertimbangkan posisi strategis yang berada di pinggir jalan menuju lubuk Mande Rubiah. Lokasi ini ke depannya bisa menjadi wahana agroedu-wisata bagi keluarga. Pengunjung tidak hanya menikmati lubuk pemandian, namun juga bisa mempelajari galo-galo dan menikmati madunya secara langsung. Galo-galo ini merupakan serangga lebah tak bersengat (stingless) yang relatif aman dikunjungi, bahkan bagi anak-anak.

Penempatan koloni atau sarang galo-galo saat ini ditujukan sebagai demplot dan sarana kegiatan pelatihan beternak galo-galo di Batu Busuk. Menurut Rusdimansyah, SPt, MSi, Dosen Fakultas Peternakan Unand yang menjadi peneliti pakar pada kegiatan tersebut, kondisi Batu Busuk sangat sesuai sebagai lokasi pengembangan galo-galo. Tersedia banyak tanaman nangka, manggis, durian yang menjadi sumber getah atau resin bagi galo-galo. Sementara itu sebagai sumber pakan, terdapat cukup banyak tanaman hias penghasil madu yang ditanam oleh masyarakat di halaman rumahnya. Penanaman tanaman hias bunga di sepanjang perjalanan menuju Mande Rubiah akan memberikan efek ganda dari sisi keindahan destinasi wisata dan kepraktisan dalam penyediaan pakan.

Pengembangan galo-galo dalam jumlah besar tentu saja membutuhkan pakan dalam jumlah besar pula. Hal ini bisa terpenuhi jika masyarakat juga menyediakan tanaman hias di sekitar koloni sarang galo-galo untuk memenuhi kebutuhan pollen bagi galo-galo. Tim bersama anggota HKm saat ini sedang memperbanyak beberapa jenis tanaman hias sumber pakan di pembibitan Batu Busuk. Beberapa jenis tanaman sumber pakan dapat diperbanyak dengan mudah melalui setek seperti Melastoma, Xanthostemon dan Dombeya, namun beberapa tanaman lainnya seperti Antigonon leptosus atau Air Mata Pengantin (AMP) lebih mudah diperbanyak melalui benih. Oleh karena itu perlu mengintroduksikan tanaman sumber pakan kepada masyarakat ke depan untuk ditanam dan diperbanyak secara mandiri.

Ada empat koloni yang ditempatkan di Batu Busuk sore itu (6/11). Koloni yang ditempatkan adalah 2 koloni Heterotrigona itama yang berwarna hitam dan berukuran kecil, namun memiliki produktivitas madu yang tinggi, Tetragonula minangkabau dan Tetragonula cf. sarawakensis. Jenis Itama merupakan favoritnya para peternak galo-galo karena produktivitas madu yang tinggi. Jenis Minangkabau adalah species yang paling banyak ditemui di sekitar Kampus dan sekitar Limau Manis, sedangkan Sarawakensis tergolong kepada species yang cukup produktif jika dibandingkan dengan sesama jenis Trigona yang berukuran kecil, serta memiliki perkembangan yang cepat. Ada satu lagi koloni yang juga tergolong produktif dan banyak dibudidayakan peternak yaitu Geniotrigona thorasica yang berwarna agak kecoklatan dan tubuh berukuran agak besar.

Sayangnya sore itu kondisi koloni jenis ini belum siap untuk dibawa ke Batu Busuk. Pemisahan koloni dari koloni asal merupakan tahapan yang penting dalam pengembangan galo-galo. Tahapan ini tergolong sensitif karena jika waktu dan kondisi pemisahan koloninya tidak tepat, bisa mengakibatkan kegagalan mendapatkan koloni yang baru dan bahkan dapat merusak koloni semula. Koloni lainnya akan segera menyusul ditempatkan melihat pada kesiapan koloni yang saat ini sedang dikembangkan di Fakultas Peternakan Unand.

Demplot galo-galo dilakukan sebagai sarana pembelajaran bagi mitra masyarakat Batu Busuk. Demplot yang ada bertujuan untuk memotivasi masyarakat agar mampu mengembangkan potensi kepemilikan galo-galo yang sebenarnya relatif banyak ditemui di Batu Busuk, baik pada kayu rumah-rumah tua, celah pada dinding batu atau ada di pohon-pohon yang ada di Hutan Kemasyarakatan (HKm) Padang Janiah Batu Busuk. Identifikasi beberapa koloni galo-galo yang ditemui pada Selasa (23/11) menunjukkan bahwa jenis Tetrogonula minangkabau merupakan jenis yang paling banyak ditemui dari sekitar lingkungan perumahan warga Batu Busuk, diikuti oleh jenis jenis galo-galo Tetragonula fuscobalteata, di samping beberapa jenis Tetrogonula lainnya yang menurut Rusdimansyah, MSi perlu identifikasi secara lebih spesifik.

Berbeda dengan ternak lainnya seperti sapi atau ayam, ternak lebah tanpa sengat relatif minim dalam hal perawatan sehingga tidak menghabiskan waktu peternak. Ini merupakan kelebihan utama dari sisi pengusahaan. Peternak atau pemilik koloni tetap dapat melakukan kegiatan yang menjadi prioritas sehari-hari karena ternak galo-galo ini mandiri dalam hal pemenuhan pakan yang berupa pollen atau serbuk sari. Beternak galo-galo pun tidak membutuhkan keahlian khusus. Demplot dan kegiatan pelatihan yang akan diadakan nantinya di Batu Busuk tentu saja salah satunya bertujuan untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.

Madu galo-galo yang khasiatnya digadang-gadang lebih tinggi dibandingkan madu lebah ini memiliki harga yang menggiurkan. Jika 3-4 sarang dalam satu bulan dapat menghasilkan 1 L madu yang harganya bervariasi dari 600 ribu hingga 1 juta per liter, dapat dibayangkan berapa penghasilan yang akan diperoleh oleh peternak. Tak heran harga 1 koloni sarang galo-galo berukuran besar sangat mahal, mencapai harga hingga 1 juta rupiah. Mendapatkan koloni yang kuat serta waktu yang tepat untuk pemindahan atau pemisahan koloni ternyata sangat krusial. Dengan demikian jika peternak sudah memiliki pengetahuan dan teknik pemisahan koloni dari koloni yang sudah diternakkan atau memindahkannya dari koloni yang terdapat di alam, maka biaya pembelian koloni dapat diminimalisir. Peternakpun juga dapat menjual koloni sarang yang ia miliki. Itulah kenapa peternakan galo-galo memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan di daerah wisata Batu Busuk.

Penulis merupakan koordinator kegiatan Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan LPPM Unand dalam Mendampingi Pengembangan Wisata di Batu Busuk tahun 2021.

Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2022