Tari Balet dan Ketahanan Diri

id durability, berita padang, berita sumbar

Tari Balet dan Ketahanan Diri

Business concept. Strands of different color join together to form a strong steel cable representing different people coming together to form a strong team. (Getty Images/iStockphoto/KenDrysdale)

Padang (ANTARA) - Seorang mentor yang juga guru saya, memberikan s motivasi luar biasa pagi ini. Dalam percakapan di telepon yang lebih kurang satu jam , ia memberikan berbagai nasihat yang membuat saya berpikir dan mengambil banyak hikmah dan pelajaran hidup. Salah satu yang saya tangkap darinya adalah bahwasanya kita harus memiliki daya tahan (durability) dalam hidup.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian daya tahan adalah kemampuan bertahan terhadap segala pengaruh dari luar yang dapat merugikan (penyakit, serangan musuh, godaan dan sebagainya).

Guru saya ini menceritakan sebuah kisah yang membuat saya tercenung setelahnya. Saya akan ceritakan kembali di tulisan ini dalam versi saya sendiri.

Alkisah, ada seorang perempuan yang cantik. Sebut saja namanya Joe. Dia sangat menyukai tari balet. Dia pandai menari, dan memiliki tubuh serta persyaratan fisik yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang penari yang lihai. Dia menyadari potensinya itu, lalu dia berlatih tanpa henti, siang dan malam untuk membuatnya mampu menari dengan performa terbaik.

Joe menyadari potensinya itu namun dia juga tahu, dia belum menemukan momentum untuk menjadi seorang penari balet profesional. Dia belum menemukan wadahnya.

Pada suatu hari, dia menonton sebuah festival tari balet di kota. Tentu saja dia sangat girang dan bersemangat mengikuti acara tersebut. "Barangkali inilah kesempatan saya untuk menunjukkan kemampuan saya kepada penyelenggara acara tersebut," pikir Joe.

Joe kemudian mengikuti acara dengan hati yang buncah. Dia menonton liukan tubuh para penari di panggung. Seketika dia bersorak dalam hati.

"Saya bisa menari seperti itu, sungguh saya bisa. Bahkan bisa lebih baik dari itu," gumamnya.

Selepas acara yang spektakuler itu, Joe bersegera menemui ketua penyelenggara acara.

"Berkenankah Bapak melihat saya menari? Saya juga bisa menari seperti para penari tadi, bahkan saya bisa lebih baik," ujarnya berbinar.

Sang penyelengggara terkejut dengan sapaan yang tiba-tiba itu. Tapi karena semangat dan binar mata Joe, dia kemudian memberikan Joe kesempatan.

Joe menari dengan sepenuh hati. Ibarat seekor kupu-kupu menawan yang terbang dengan lincah menantang matahari. Meliuk, melambai, meloncat. Begitulah penampilan Joe saat itu. Sangat indah dan memukau.

Namun di tengah tariannya yang belum usai itu, sang penyelenggara pergi dari ruangan itu dengan tergesa. Joe terkejut. Berbagai prasangka muncul di hatinya, "Jelekkah tarianku? Tidak sukakah dia melihat tarianku?" Joe larut dalam banyak pikiran negatif dan kesedihan.

Selepas hari yang menyedihkan itu, Joe memutuskan berhenti menari. Dia tidak pernah latihan lagi. Dia membuang semua sepatu dan aksesoris menarinya jauh-jauh. Mengubur semua harapan dan impian.

Sepuluh tahun kemudian, di sebuah acara, Joe kembali bertemu dengan lelaki penyelenggara tari balet bertahun lalu tersebut. Laki-laki itu terkejut melihat Joe. "Mengapa engkau sekarang gendut dan tidak secantik dulu?" tanyanya heran.

Joe yang langsung mengenal lelaki itu menjawab dengan sedih, "Sejak Bapak meninggalkan saya dengan tergesa malam itu, saya memutuskan berhenti menari. Saya merasa penampilan saya jelek sekali sehingga Bapak tidak tahan melihat saya."

Sang lelaki terperangah. "Aku pergi dengan tergesa malam itu bukan karena penampilanmu yang jelek, jujur saja aku sangat terpesona, dan ingin merekrutmu sebagai penari profesional. Namun malam itu, ketika aku menontonmu, aku tiba-tiba teringat kunci mobilku yang tertinggal, aku berlari mengambilnya, dan ketika aku kembali ke ruangan, engkau sudah tak ada lagi di sana."

Saya terdiam mendengar kisah tersebut. Kisah yang mungkin sudah terlalu sering diceritakan, ditulis dan dikaji dalam banyak pertemuan. Tapi jujur saja, itu pertama kali saya mendengarnya.

Kisah penari balet itu membawa saya pada kesadaran. Membuat saya tercenung beberapa jenak hingga akhirnya saya memutuskan untuk menuliskannya.

Ada tiga poin yang saya catat dari cerita yang dikisahkan oleh guru saya itu.

Pertama, kita harus memiliki daya tahan (durability) dalam hidup. Daya tahanlah yang membuat seorang pejuang mampu menjadi pemenang. Seseorang tidak akan pernah menjadi juara jika dia tidak kuat menghadapi badai topan kehidupan. Tidak ada seseorang yang sukses dalam hidup ini tanpa mengalami gelombang dan ombak yang hampir menenggelamkan. Nyaris mustahil. Mereka yang tampil sebagai juara telah melewati ribuan kilometer jalan terjal yang berduri, jatuh bangun silih berganti.

Maka jika ingin berhasil, milikilah daya tahan. Cas selalu semangat setiap waktu. Bisa dengan banyak cara. Membaca, bergaul dengan orang-orang kreatif dan positif, dan menurut saya yang tak kalah penting adalah milikilah seorang guru dan mentor yang cocok dengan kebutuhan kita. Yang tak bosan berbagi semangat, bukan yang suka menjatuhkan.

Kedua, Perbaharui terus niat dan tumbuhkan motivasi itu dari dalam diri. Jika kita memiliki cita-cita, impian demi seseorang, maka percayalah, ketika dia membuat kita kecewa, kita akan jatuh berantakan. Jiwa larut dalam kecewa. Semangat hancur binasa.

Oleh karena itu, lakukanlah sesuatu itu karena dirimu, untuk dirimu, bukan karena seseorang yang lain. Bukan untuk orang lain. Pupuklah cita-cita yang mulia itu dengan motivasi dari dalam. Tidak bergantung pada orang lain. Pendapat orang lain perlu. Itu benar. Jangan sampai timbul rasa sombong dan merasa tidak butuh orang lain, namun motivasi dari dalam diri harus jauh lebih besar porsinya. Karena itulah salah satu hal yang akan mampu membuat kita tegar, teguh dan tetap bertahan.

Ketiga, berprasangka baik atas segala keadaan. Ada banyak hal yang seringkali tidak seperti kita dugakan. Kita sangka seseorang yang tidak membalas senyuman ketika berpapasan di jalan, adalah karena ia benci pada kita. Padahal bisa jadi dia tengah banyak pikiran. Atau ada hutang jatuh tempo yang membuat dia galau. Sehingga dalam setiap langkahnya, dia sibuk dan fokus memikirkan itu saja.

Atau di lain keadaan, dalam sebuah janji pertemuan, ada seseorang yang terlambat dua jam dari waktu yang ditentukan. Jangan langsung marah dan meradang. Bisa jadi tetangga sebelah rumahnya meninggal semalam, dia sibuk membantu menyelenggarakan, dan paginya ketiduran. Dia lupa mencas ponsel untuk mengabarimu kondisinya saking kelelahan.

Ah ... ada banyak kemungkinan yang kita tak tahu, sehingga pilihan terbaik yang dapat kita lakukan adalah berprasangka baik. Memenuhkan hati dan kepala kita dengan hal-hal positif. Karena berpikiran positif itu mampu menyehatkan jiwa dan badan. Membuat kita memandang hidup ini dengan lebih terang dan lapang.

Semoga kita tidak menjadi seperti Joe, yang mengubur impiannya untuk menjadi seorang penari balet, karena tidak tahannya ia dengan badai kehidupan.

Terima kasih karena telah berbagi pagi ini, guru. Terima kasih karena telah menginspirasi.

*
Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar