Koperasi RJS sulap lahan tak produktif jadi bernilai ekonomis melalui banang cafe

id Banang Cafe, cegah maksiat, wisata kuliner, padang

Koperasi RJS sulap lahan tak produktif jadi bernilai ekonomis melalui banang cafe

Kawasan obyek wisata Banang Cafe (Ist)

Padang (ANTARA) - Koperasi Rumah Juang Sejahtera (RJS) Kelurahan Kampung Olo, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, menyulap lahan tidak produktif di sisi jembatan Siteba menjadi kawasan bernilai ekonomis sebagai unit usaha dengan nama Banang Cafe.

Banang Cafe merupakan unit usaha Koperasi RJS yang menjadi pesona baru jadi lokasi rekreasi dan wisata kuliner tradisional di Kota Padang.

"Banang kafe adalah usaha bersama, bukan milik pribadi atau tokoh tertentu. Kopersi punya akta dan badan hukum yang sah," kata Penasehat Koperasi RJS Osman Ayub yang diamini Ketua Koperasi Fernandes di Padang, Senin.

Osman menjelaskan, bila ada anggapan Banang Cafe milik pribadinya, hal itu merupakan pandangan yang keliru.

Begitu pula, tambahnya, Banang Cafe kalau dianggap atau disamakan dengan cafe-cafe remang-remang dan ada tindakan maksiat, juga suatu kesalahan.

Hal inilah yang perlu pihaknya menyampaikan ke publik dan pemangku kepentingan lainnya, khususnya masyarakat Kota Padang.

Malahan, kata Ketua Komisi III DPRD Padang itu, keberadaan Banang Cafe sudah menghilangkan dan memberantas maksiat dan tindakan negatif di kawasan itu.

Sebelum dikembangkan untuk lokasi unit usaha Koperasi RJS atau Banang Cafe tempat yang berada di pinggir banjir kanal dekat jembatan Siteba, dijadikan tempat berbuat maksiat dan transaksi narkotika.

Terkait lokasi jalan dipinggir banjir kanal itu penuh semak belukar sehingga potensi dijadikan lokasi maksiat dan hal negatif lainnya.

"Warga sudah resah dan tak tahu lagi cara untuk memberantas. Makanya digerakan untuk jadi lokasi produktif unit usaha Koperasi RJS,"tegasnya.

Buktinya kini usaha Banang Cafe menjadi lirikan banyak masyarakat dari berbagai golongan untuk menikmati makan siang dan minum kopi malam.

Menurut dia, banyak yang beranggapan bahwa cafe identik dengan muda - mudi dan remang - remang. Fakta itu berbeda dengan pengelolaan Banang Cafe yang secara terang benderang bila malam hari tiba.

"Tak ada yang ditutupi, apalagi jadi lokasi remang-remang. Bagi yang tak percaya silahkan untuk membuktikannya,"ujarnya.

Bahkan, keberadaan Banang Cafe mendapat dukungan dan respon positif masyarakat sekitar. Ke depan rencana koperasi menyediakan lapak-lapak untuk jualan kuliner tradisional, agar bisa termanfaatkan lokasi seluruhnya dan bergerak ekonomi masyarakat sekitar.

Apalagi, tambah dia, unit usaha Banang Cafe dikelola oleh para pemuda Nanggalo dan masyarakat sekitar dilibatkan sebagai pekerja. Jumlah personel pengelola sekitar 16 orang termasuk tenaga kebersihan.

Pembina Koperasi lainnya Israwendi menambahkan, dulu tidak pernah terbayang di lahan yang semak belukar akan dijadikan untuk membangun usaha Banang Cafe.

Lokasi jalan tidak produktif lagi, sehingga sepakat untuk digelar gotong royong para pemuda.

Terkait nama unit usaha Koperasi RJS diberi Banang Cafe karena diambil dari kepanjangan Batang Air Nanggalo, sebab letaknya dipelataran sungai tersebut.

Sebelum membangun unit usaha ini, pengurus kopersi sudah sowan dengan RT, RW, tokoh adat dan masyarakat yang sangat mendukung.
Badan Hukum Koperasi Juang Sejahtera miliki unit usaha Banang Cafe Nanggalo, Padang (Ist)
Ketua Koperasi RJS Fernandes menyebutkan, kini jumlah anggota koperasi 100 lebih orang. Maka pengelolaan unit usaha dengan melibatkan anak nagari yang tergabung dalam anggota.

Usaha Banang Cafe beroperasi sekitar lima bulan terakhir, buka mulai siang hingga pukul 23.00 malam.

"Semoga usaha bersama ini memberi nilai dan manfaat bagi anggota dan masyarakat lingkungan,"ujarnya.

Usaha selain Banang Cafe, juga ada simpan pinjam, boleh setiap anggota meminjam Rp1 juta dengan syarat hanya cukup Kartu Keluarga (KK) saja.

Setelah ada usulan, disurvei oleh tim koperasi dan bila layak dipinjamkan akan diberikan.

Ia mengatakan, bilamana tidak mau membayar atau macet, saksi bagi anggota keluarga yang lain tidak bisa meminjam lagi ke koperasi.

Ketua RT 02/RW05 Kelurahan Kampung Olo, Toni Ardi pada kesempatan yang sama menyampaikan, banyak keuntungan dengan dikelola lahan tidak produktif jadi Banang Cafe.

Sebab, sebelumnya semak belukar dan dijadikan tempat transaksi maksiat, ada nyabu dan muda mudi.

"Saya sering lihat mobil berhenti dan pernah juga dikejar pelaku maksiat, selalu lari dan bahkan ada hampir menabrak," ujarnya.

Namun, sejak ada Banang Cafe aktivitas negatif itu sudah hilang dan tidak ada lagi di kawasan itu.

Keuntungan kedua, tambahnya, pergerakan ekonomi bagi warga sekitar yang dilibatkan dalam pengelolaan Banang Cafe.
Kawasan Banang Cafe Nanggalo, Padang (Ist)
Pewarta :
Editor: Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar