Tradisi budaya turun mandi masih lestari di Batusangkar

id Bupati tanah datar

Keluarga Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi usai prosesi trun mandi dan aqiqah anaknya. (ANTARA SUMBAR/ Etri)

Batusangkar (ANTARA) - Tradisi aqiqah dan turun mandi yang merupakan sebuah prosesi syukuran kepada sang pencipta atas lahirnya seorang bayi dari anak atau kamanakan di Minangkabau masih lestari di Batusangkar.

"Ini bertujuan memperkenalkan bayi tersebut kepada masyarakat. Bahwa telah lahir keturunan baru dari sebuah keluarga atau suku tertentu dan memperkenalkannya ke dunia," kata Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi di Batusangkar, Sabtu.

Hal itu dikatakannyausai melakukan prosesi aqikah dan turun mandi cucunya di gedung Indojelito Batusangkar.

Ia mengatakan prosesi turun mandi tersebut bukan hanya acara seremonial saja melainkan salah satu upaya untuk melestarikan adat budaya Minangkabau Adat basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

"Kalau secara syara, akikahnya kita laksanakan, secara adat prosesi turun mandi kita lakukan sebagai upaya melestarikan tradisi di Minangkabau," katanya.

Sebagai kepala daerah, ia mengajak masyarakat di daerah itu untuk melestarikan tradisi yang telah turun menurun di Minangkbau tersebut. Menurutnya banyak nilai yang terkandung dalam tradisi itu.

Diantaranya terjalinnya silaturahmi antara anak, bako, cucu, dan kamanakan. Sehingga hubungan antara keluarga yang memiliki jarak selama ini akan tersatukan sama lainnya.

Ia menilai tradisi tersebut merupayakan budaya yang banyak mengandung budi pekerti yang harus diikuti masyarakat. Tidak perlu mengadakannya berbesar-besar karena acara ini bagian dari melestarikan budaya.

Ia mengatakan dalam pelaksanaan upacara turun mandi mesti memiliki persyaratan-persyarakan yang harus dilakukan, seperti perlengkapan, kemudian arak-arakan menuju sungai batang air tempat dilaksanakannya tradisi tersebut.

Namun menurutnya seiring perkembangan zaman budaya turun mandi bergeser proses pelaksanaannya dari biasanya di sungai-sungai pindah ke rumah, namun tidak merobah nilai hakikat dari budaya itu.

"Kalau sekarang kita mencari batang air mungkin susah, yang jelas proseai adat turun mandi ini tidak merobah nilai sebenarnya dari turun mandi tersebut" ujarnya.***
Pewarta :
Editor: Miko Elfisha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar