"Matahari Malam" untuk para penyadap Bukik Gadang

id lampu tenaga surya

Wamen ESDM Arcandra Tahar saat peresmian lampu penerangan umum tenaga surya di Sawahlunto pada Minggu (23/2) (Antara Sumbar/Afut Syafril)

Padang (ANTARA) - Bias matahari memberi banyak arti bagi kehidupan, dari tumbuhan hingga binatang mengandalkan pusat tata surya tersebut.

Kadang dipuja oleh indah, sering pula dicaci karena terik yang menyengat. Satu kali dalam rotasi matahari diganti oleh bulan yang memantulkan cahayanya dikala pekat beradu senyap malam.

Bahkan, ilmuwan Thomas Alva Edison menciptakan lampu untuk ketidakpuasan atas bulan menggantikan matahari pada tahun 1879. Namun, 140 tahun sejak ditemukannya lampu pijar, sebagian masyarakat Indonesia masih pasrah pada cahaya bulan tiap malam, tanpa pernah tersentuh lampu.

Beberapa di antara penjuru pulau, sudah teraliri listrik namun masih minim penerangan. Satu cerita datang dari barat Nusantara, tepatnya Sumatera Barat. Seorang kepala desa, yakni Kades Bukik Gadang, Slamet, bertutur setiap rumah hampir sudah memiliki lampu, namun di jalanan adalah hal lain.

"Di sini kalau malam sedikit ngeri, karena lingkungannya banyak hutan dan jalanan berkelok-kelok curam melawan bukit, namun tidak ada lampu penerangan sama sekali," kata Slamet.

Dengan usianya yang mulai renta, Slamet menunjuk bawah bukit tepat di antara rerimbunan hijau. Pada tempat yang ia tunjuk di situlah banyak warga menggantungan hidupnya, sebagai petani karet.

Bukik Gadang, berdekatan dengan Kota Sawahlunto, namun sepanjang jalan benar saja kata Slamet, jarak pandang seakan tidak mampu menembus pekatnya malam yang tanpa adanya penerangan sama sekali.

Slamet menuturkan bahwa banyak penyadap karet yang terpaksa mengakhiri kesibukannya dalam memeriksa pepohonan sebelum senja. Hal itu dikarenakan tidak adanya lampu jalanan yang menaungi ketika malam, sehingga malam menjadi teror tersendiri bagi para petani melibas jalanan pulang.

"Kalau ada lampu memadai, penyadap bisa tenang ketika senja, tidak terburu-buru, sehingga hasil sadapan karetnya juga lebih maksimal, tentu saja perekonomian lebih meningkat," ujar Slamet menjelaskan.

Selain ancaman tersesat di hutan dan jatuh di jalan tebing ketika malam, hewan malam juga menjadi ancaman tersendiri, babi hutan misalnya, yang kadang sering menyerang atau merusak pohon yang masih muda.

Tidak dipungkiri, Bukik Gadang memang satu desa yang berada di antara hutan dan kota. Curamnya jalanan dan lebatnya hutan pepohonan menjadi masalah besar ketika malam tanpa penerangan. Atau bahkan hujan akan menjadikan banyak hal datang lebih buruk.

Lampu Tenaga Surya

Ada harapan baru dari Slamet ketika terang yang ia rindukan mulai membayang. Desa yang ia pimpin, mendapatkan lampu jalan bertenaga sinar matahari atau panel surya.

Senyumnya tersimpul di raut kerutan wajahnya yang semakin termakan usia. Senja tersingkir, ketika lampu tersebut berpendar secara otomatis memancar.

Lampu tersebut akrab disebut Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS). Berbahan tiang besi kokoh di pinggir jalan raya, berpanel surya segi empat diatasnya, dengan ditopang batu baterai untuk menyimpan energi matahari.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memilih infrastruktur lampu tersebut sebab akrab dengan kebutuhan masyarakat. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar telah meresmikan 388 PJU-TS yang dipusatkan di Desa Bukik Gadang, Kota Sawahlunto.

PJU-TS yang diresmikan hari ini meliputi pembangunan PJU-TS di Kota Sawahlunto (200 titik); Kabupaten Solok (20 titik); Kabupaten Agam (50 titik); Kabupaten Sijunjung (85 titik); dan Kabupaten Payakumbuh (33 titik).

Peresmian ini melengkapi seluruh pembangunan PJU-TS yang dibangun oleh Kementerian ESDM tahun 2018 di Sumatera Barat dengan total sebanyak 740 titik.

Arcandra mengatakan bahwa lampu bertenaga surya ini menjadi solusi untuk penerangan jalan di daerah yang belum terjangkau listrik PLN sekaligus bentuk nyata kehadiran pemerintah yang bermanfaat bagi rakyat.

"Uang yang Bapak Ibu bayarkan, kita (Pemerintah) kembalikan dalam bentuk infrastruktur, termasuk PJU-TS ini," terang Arcandra di Desa Bukik Gadang, Kota Sawahlunto.

Arcandra menjelaskan, selain bertujuan untuk mengurangi tingkat kecelakaan, pemasangan PJU-TS juga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Setiap proyek pemasangan PJU di berbagai daerah di Indonesia selalu melibatkan tenaga kerja lokal.

Sebanyak 21.800 PJU TS telah terpasang di penjuru nusantara pada tahun 2018. Nilai investasi satu pasang lampu adalah Rp20 juta dengan daya tahan mampu sampai 20 tahun.

Total investasi untuk lampu surya jalanan adalah Rp436 miliar. Kemudian tahun 2019, Arcandra menyebutkan telah menyiapkan sebanyak 21.800 lampu lagi untuk ditambah titiknya tiap daerah terpencil.

Wali Kota Sawahlunto Deri Asta, mengaku kehadiran PJU-TS ini sangat diperlukan, mengingat di Sawahlunto memiliki daerah geografi yang berbukit-bukit dan jaringan listrik pinggir jalan yang belum memadai. Di samping itu, setiap tahunnya penerangan jalan di Kota Sawahlunto membutuhkan tagihan kurang lebih Rp 2 miliar dan sangat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Sawahlunto.

"Dengan kehadiran PJU-TS sangat bermanfaat sekali. Dengan penghematan Rp 2 miliar, sangat berarti bagi APBD kota Sawahlunto," ujar Deri.

Sebagai informasi, untuk wilayah perkotaan, PJU-TS memiliki manfaat menghemat penggunaan energi listrik di kawasan jalan utama, jalan kawasan perumahan, kawasan industri, dan fasilitas umum lainnya. "Dan kami berharap tahun depan ditambah lagi untuk wilayah Kota Sawahlunto," tutup Deri.

Salah satu warga Sawahlunto, Joko bahkan berniat untuk mengajak masyarakat lainnya untuk merawat lampu surya tersebut. Sebab, baginya lampu tersebut sangat membantu kegiatan perekonomian masyarakat, utamanya di malam hari.

"Apakah kami diizinkan untuk merawat dan mengawasi lampu ini, kalau boleh nanti kami akan berkonsultasi dengan dinas terkait," ujar Joko memberikan tanggapan setelah peresmian.
Pewarta :
Editor: Ikhwan Wahyudi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar