Asita sebut aksi demo ke istana sebagai upaya terakhir tuntut penurunan harga tiket pesawat

id ian hanafiah

Ketua Asita Sumbar, Ian Hanafiah. (ANTARA SUMBAR/Miko Elfisha)

Padang, (Antaranews Sumbar) - Aksi demonstrasi ke Istana Negara 28 Februari 2019 adalah upaya terakhir yang bisa dilakukan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) untuk menuntut turunnya harga tiket pesawat agar pariwisata di daerah tidak mati.

"Berbagai upaya telah dilakukan Asita baik pusat maupun daerah, tetapi belum ada hasil maksimal. Mungkin hanya demonstrasi cara satu-satunya," kata Ketua Asita Sumbar Ian Hanafiah di Padang, Selasa.

Menurutnya demonstrasi itu akan diikuti oleh seluruh DPD Asita dari seluruh Indonesia, termasuk Sumbar.

Ia sebenarnya menyayangkan harus menggunakan cara turun ke jalan untuk menuntut agar pemerintah lebih peka terhadap persoalan pariwisata di daerah. Tetapi jalan lain dinilai memang telah buntu.

"Sepertinya sudah Standar Operasional (SOP) dari negeri ini harus dihebohkan dulu, baru action," katanya.

Efek negatif tingginya harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar telah dirasakan oleh berbagai pihak di daerah mulai dari pengusaha mikro (UMKM), pengusaha travel, hotel dan banyak pihak terkait.

Anggota Asita Sumbar menurut Ian juga merasakan tekanan yang sama hingga beberapa harus gulung tikar. Beberapa lagi harus menghentikan operasional di kantor dan mengalihkannya ke rumah pribadi untuk mengurangi biaya.

"Kami belum data semua, tetapi efek negatifnya benar-benar luar biasa bagi Asita," kata Ian.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian menyebut mahalnya tiket mengakibatkan jumlah kunjungan wisatawan turun drastis.

Data dinas itu, jumlah penumpang di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Januari 2019 mencapai 271.674 orang, mengalami penurunan sebesar 29,57 persen dibanding Desember 2018 yang tercatat sebanyak 385747 orang.

Bila dibandingkan dengan bulan Januari 2018, yang tercatat 353.007 orang, jumlah penumpang bulan Januari 2019 mengalami penurunan sebesar 23,04 persen.

Sementara Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang bulan Januari 2019 mencapai rata-rata 44,24 persen atau mengalami penurunan sebesar 14,35 poin dibanding bulan Desember 2018 yang tercatat sebesar 58,59 persen.

Dibandingkan Januari 2018, TPK Januari 2019 mengalami penurunan sebesar 3,10. persen. Sedangkan untuk Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel Non Bintang bulan Januari 2019 mencapai rata-rata 27,02 persen atau mengalami penurunan sebesar 7,37 poin dibanding bulan Desember 2018 yang tercatat sebesar 34,39 persen.

Bila dibandingkan dengan bulan Januari 2018, TPK bulan januari 2019 mengalami penurunan sebesar 1,53 persen.

"Tidak ada cara lain. Agar pariwisata kembali bergairah, harga tiket harus kembali seperti semula," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar