Ini dia alat musik tiup Minang berukir Tabuik Pariaman yang mulai laris di pasaran (Video)

id ALAT MUSIK BERUKIR TABUIK

Pemuda asal Desa Sikapak Timur Kecamatan Pariaman Timur Kota Pariaman Sumatera Barat Olia Efendi (21) sedang menyusun alat musik tiup Minangkabau buatannya, di Pariaman, Senin (28/1). (ANTARA SUMBAR / Aadiaat M. S)

Pariaman, (Antaranews Sumbar) - Seorang pemuda di Desa Sikapak Timur, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatera Barat Olia Efendi (21) membuat alat musik tiup Minangkabau berukir tabuik yang dipasarkan melalui internet ke sejumlah daerah di Indonesia.

"Rata-rata pemesannya sih dari luar Sumbar," kata dia di Pariaman, Senin.

Ia mengatakan ada lima jenis alat musik tiup Minangkabau yang dibuat dan dipasarkan oleh pemuda yang baru menyelesaikan studinya di salah satu perguruan tinggi di Kota Pariaman itu.

Alat musik tiup tersebut yaitu saluang, sampelong, pupuik lambok, bansi,dan sarunai yang bahannya sama-sama dari bambu.

Alat musik tiup tersebut dijual mulai dari harga Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per unit yang mana rata-rata penjualannya melalui internet setiap bulannya baru sekitar 10 unit.

Penjualan tersebut akan meningkat pada waktu tertentu yang mana pembelinya mahasiswa Institut Seni Indonesia Padang Panjang.

"Kalau mereka pesannya langsung banyak," ujarnya.

Ia mengatakan ciri khas alat musik tiup buatannya yaitu berukir gambar tabuik dan rangkiang pada rumah gadang Minangkabau.

Ukiran tersebut tidak saja untuk ciri khas namun untuk memperkenalkan tabuik yang merupakan salah satu tradisi budaya dan menjadi even pariwisata di Kota Pariaman.

Untuk mengikir bambu tersebut, Fendi menggunakan cas telepon genggam yang dimodifikasi sehingga menghasilkan panas.

"Panas tersebutlah yang akan membakar bagian luar bambu pada alat musik tiup ini," katanya.

Ia menyampaikan kemampuannya dalam membuat alat musik tiup Minangkabau tersebut didapatkan secara auotodidak ketika aktif pada salah satu sanggar seni di Pariaman.

Keinginannya untuk membuat alat musik tiup tersebut baerawal dari mulai punahnya perhatian generasi muda dalam melestarikan kebudayaan Minangkabau.

Selain sibuk membuat alat musik tiup, dia juga memiliki kesibukan mengajarkan pelajar di desa tersebut menggunakan tambua tasa. (*)



Pewarta :
Editor: Mukhlisun
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar