"Mambantai Adat", Tradisi Sambut Ramadhan di Sijunjung

id mambantai adat, tradisi, sambut, ramadhan

"Mambantai Adat", Tradisi Sambut Ramadhan di Sijunjung

Terlihat daging kerbau yang sudah disembelih, kemudian dimasukan didalam kantong plastik dan siap dibagikan ke anggota-anggota tobo kongsi di acara mambantai adat di perkampungan adat Sijunjung. (aciak)

Satu lagi sisi menarik yang bisa dilihat di daerah perkampungan adat Sijunjung, yaitu sebuah daerah yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, melalui keputusan bupati Sijunjung No:188.45/KPTS-BPT-2014, serta peraturan gubernur Sumatera Barat No: 31 a /Budpar-SKGUB-CB/V-2014, dan diusulkan sebagai warisan dunia di UNESCO.

Sisi menarik tersebut adalah sebuah acara atau prosesi yang disebut Mambantai Adat. Artinya adalah sebuah rangkaian adat tardisi yang sudah turun temurun yaitu menyembelih kerbau yang dilaksanakan tiap tahunnya menjelang memasuki bulan Ramadhan atau bulan puasa, dan diikuti oleh masyarakat yang masuk dalam perkumpulan tobo kongsi di daerah nagari setempat.

Dalam menghadapi bulan ramadhan tahun 1437 H/ 2016 M, Sabtu (4/6) pagi sekitar pukul 02.30 Wib, ada 18 ekor ternak kerbau disembelih di daerah perkampungan adat tersebut.

Pagi itu kesibukan mulai terlihat di masing-masing pondok kelompok tobo kongsi ini, ada suasana tegang yaitu ketika kaki kerbau mulai diikat kemudian kerbau direbahkan.

"Yang membuat suasana tegang disini adalah kalau-kalau kaki kerbau yang sudah diikat lepas dan kerbaunya mengamuk, " kata Rajo Gumantar, salah seorang pengurus tobo kongsi surau lakuak.

Di sisi lain, katanya menambahkan, ada juga suasana bercanda, yaitu ketika kerbau sudah disembelih, kemudian darah kerbau yang mengalir dari leher, lalu diambil oleh salah seorang anggota dan baju yang dipakailah jadi sasarannya, hal ini dilakukan sambil ketawa, dan ada juga yang tersenyum melihat kejadian tersebut.

Disini bukan seberapa banyaknya ternak kerbau yang disembelih dalam mambantai adat ini, tetapi yang dilihat adalah sebegitu banyaknya makna yang terkandung di dalam rangkaian prosesi kegiatan ini mulai dari membeli kerbau.

Selanjutnya membuat pondok oleh masing-masing kelompok tobo kongsi di areal lokasi pembantaian tersebut, sampai dengan acara menikmati atau menyantap daging kerbau itu sendiri setelah di masak oleh masing-masing keluarga anggota tobo kongsi itu.

"Karena banyaknya ternak kerbau yang disembelih itu bisa belasan dan bisa juga meencapai puluhan, kondisi ini bisa turun naik tiap tahunnya," ujar A.Datuak Lubuok Kayo, ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Nagari Sijunjung.

Sebab, turun naiknya ternak kerbau yang akan disembelih tersebut tergantung dengan banyak atau sedikitnya kelompok tobo kongsi di daerah nagari setempat.

Karena kerbau yang akan disembelih ini adalah kepunyaan masing-masing kelompok tobo kongsi yang dibeli secara bersama-sama, dengan cara uang yang dikumpulkan oleh masing-masing pengurus tobo kongsi sejak mulai kelompok tobo kongsi ini dibuat sampai kelompok tobo kongsi ini dibubarkan, artinya keberadaan tobo kongsi hanya setahun sekali.

Dimulai pada minggu pertama setelah bulan ramadhan berakhir, atau seminggu setelah hari lebaran, kemudian dibubarkan pada hari akan memasuki bulan ramadhan, atau tepatnya pada malam harinya setelah acara mambatai adat walaupun dibuat setahun sekali, tetapi kelompok tobo kongsi ini tetap eksis tiap tahunnya.

Masing-masing satu kelompok tobo kongsi, mempunyai anggota puluhan orang dan bisa mencapai ratusan orang, dengan tempat rapat atau diskusinya di surau-surau yang ada di Nagari setempat, sehingga, nama tobo kongsi tersebut disesuaikan dengan nama suraunya, disurau-surau inilah mereka mulai berangsur-angsur mengumpulkan uang untuk membeli ternak kerbau yang akan disembelih ditempat lokasi pembantaian tersebut nantinya.

Kalau dilihat sepertinya makna kebersamaan dan kegontong-royongan lah yang paling mengental dalam acara prosesi mambantai adat ini.

Pasalnya seminggu sebelum memasuki Ramadhan mambantai adat ini sudah mulai diperbincangkan di tobo kongsi surau masing-masing, artinya membicarakan tentang pembagian kerja, disini masing-masing anggota dibebankan tugas, siapa yang akan membawa tiang buat pondok.

Kemudian siapa yang akan membawa daun kelapa buat atap pondok, dan siapa yang akan membawa tiang pancang untuk mengikatkan kerbau di lokasi pembantaian tersebut, pokoknya tidak ada yang tidak mendapat tugas kerja, dan ini sudah tersusun rapi, dalam musyawarah tersebut.

Hari Jumat, seusai sholat Jumat mulailah seluruh tobo-tobo kongsi ini bergontong-royong membuat pondok ditempat lokasi pembantaian tersebut, kemudian sampailah dihari H, yaitu hari Sabtu , hari yang telah disepakati untuk acara mambantai adat ini oleh tiga unsur yaitu Ninik mamak, Alim Ulama, dan Cerdik Pandai dalam musyawarah di Balai-balai adat Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang bertempat di kawasan Cagar Budaya Perkampungan Adat ini.

Sabtu sore itu, ternak kerbau yang akan disembelih, sudah mulai dihela atau ditarik dari tempat tobo kongsi masing-masing menuju tempat pembantaian yaitu ditepi Batang Sukam Tapian Diaro, daerah kawasan perkampungan adat, seusai Magrib seluruh anggota tobo kongsi yang ada di nagari ini mulai menuju lokasi pembantaian, dan kemudian tidur di pondok masing-masing, sambil menunggu kerbau akan dibantai (disembelih).

Setelah selesai kerbau dibantai (disembelih), kembali pembagian tugas pada masing-masing anggota. Ada yang menguliti kerbau, ada yang memotong dagingnya, dan ada juga memberihkan perut kerbau tersebut.

Rasa kekompakan atau kegontong royongan mulai kembali terlihat, kemudian daging mulai dibagi per anggota, hanya jantung, rabu, kaki, tangan kerbau yang dilelang langsung secara terbuka.

Disamping daging ini dibagikan per anggota tobo kongsi, daging ini juga bisa beli oleh orang umum, kemudian selanjutnya masing-masing keluarga sudah membawa daging kerumahnya untuk dimasak,

Sabtu malamnya seusai shalat magrib, seluruh anggota tobo kongsi kembali berkumpul di surau masing dengan membawa rantang nasi dengan lauknya daging kerbau yang sudah disembelih tadi. Di sini semuanya pembukuan mulai ditutup, dan begitu juga semuanya saling bersalaman dalam memasuki bulan suci Ramadhan.

"Disisi lain makna religiusnya juga ada terlihat di acara prosesi ini," ucap Samiun Malin Malelo salah seorang tokoh agama Sijunjung.

"Dengan prosesi mambantai adat ini, tampaklah meriahnya menyambut Ramadhan tiap tahunnya," ujar Samiun Malin Malelo yang juga menjadi imam tetap di mesjid raya Al Ikhlas, Sijunjung.(*)

CATATAN :

1. Mambantai adat : Adat tradisi menyembelih kerbau dalam menyambut bulan suci ramadhan, yang dilakukan oleh tobo-tobo kongsi yang ada di Nagari Sijunjung.

2. Kelompok Tobo kongsi : Kelompok masyarakat, yang berkumpul di masing-masing surau, kemudian bermufakat serta bergotong royong dalam mengerjakan lahan pertanian, dan bisa juga dalam bentuk pekerjaan lain yang tidak bisa dikerjakan oleh satu orang.

3. Pondok : semacam tenda yang terbuat tiangnya dari bambu, atapnya dari daun kelapa.