Pekanbaru, (AntaraSumbar) - Arus balik Idul Fitri 1436 H/2015 M, pada hari ketiga jurusan Sumatera Barat - Provinsi Riau dan sebaliknya ramai lancar, tidak ada kendala berarti.
"Dalam kondisi seperti ini perjalanan Sumbar-Riau memakan waktu sekitar 8-12 jam," ujar Hos, (35) th salah seorang warga Pekanbaru yang sedang berlibur ke Pasaman Barat, di Pekanbaru, Selasa.
Hos menyebutkan hanya ada satu titik rawan kemacetan saja yang perlu diwaspadai saat pulang ke Provinsi Riau, yakni sepanjang jalur lintas Bukittinggi-Payakumbuh. Karena di sini jalannya sempit dan dikitari pemukiman, juga ada simpang empat yang merupakan arah arus mudik lainnya. Sehingga ada upaya buka tutup jalan oleh petugas kepolisian agar tidak macet total.
"Kemacetan H+3 belum puncaknya, karena masih akan ada arus balik lagi menjelang anak sekolah dan pegawai kantoran masuk yakni esok," urainya.
Luci (40) th, warga Duri, saat dijumpai di lokasi peristirahatan sebelum kelok sembilan, Selasa, mengaku, sengaja pulang pada H+3, karena tidak ingin terjebak macet. Walau masa liburan masih tersisa dua hari lagi, namun ia tetap memilih lebih cepat tiba.
"Kami pilih berangkat malam, selain biar agak sepi, juga mengantisipasi cuaca panas," urainya.
Karena menurut prediksinya jika terjebak macet saat siang hari di lintas Bukittinggi-Payakumbuh, akan terasa gerah dan gelisah walau ada "air conditioner" mobil, ternyata tidak membantu akibat suhu udara yang cenderung panas.
"Memang kalau jalan malam bahayanya adalah rasa kantuk, tetapi bisa diantisipasi dengan melakukan istirahat pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sepanjang jalan," paparnya.
Berdasarkan pengamatan antara pada arus balik H+3 Idul Fitri 1436 H dari arah Pasaman Barat menuju Provinsi Riau - Pekanbaru, tidak ada kendala berarti, baik jalan rusak, atau lonsor, bahkan kecelakaan tragis.
Suasana arus kendaraan dua arah hampir berimbang, walau masih terbanyak menuju Riau.
Dari arah Provinsi Riau didominasi kendaraan pribadi benomor polisi BA, sebaliknya dari arah Sumbar dipadati mobil pribadi bernomor polisi BM. Ada satu-satu B, L, BH, BK dan sebagainya.
Sepanjang penjalanan dari Pasaman Barat hingga Bukittinggi arus kendaraan jarang sehingga kecepatan bisa dipacu 80km/jam. Namun dari Bukittinggi menuju Payakumbuh kendaraan mulai padat merayap dan mengalami antrian panjang akibat persimpangan empat di jalan lintas tersebut. Ada sekitar 10Km kemacetannya.
Berbeda saat memasuki kelok 44 kendaraan lancar. Termasuk kelok sembilan. Terlihat jalur ini banyak pemudik kendaraan pribadi mencoba berhenti melepaskan kelelahan sejenak pada badan jalan yang terdapat pedagang.
Demikian juga di tepian Danau Maninjau tidak kalah jadi pilihan untuk mengopi sebelum mulai memasuki kelok terbanyak di Indonesia terebut.
Diperkirakan puncak arus balik baru akan terjadi Selasa siang hingga malamnya, karena Rabu 22/7 semua karyawan swasta khususnya Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah mulai masuk kerja.
Beberapa pos pengamanan yang dibuka pada sepanjang jalur mudik terlihat aman terkendali tidak ada penanganan kejadian luar biasa. Hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang mencoba memanfaatkan pelayanan peristirahatannya.
Demikian juga dengan arus balik beroda dua yang jumlahnya tidak kalah ramai, terlihat membentuk kelompok. Mereka menikmati perjalanan dengan melakukan peristirahatan pada setiap SPBU yang dilintasi.
Tidak jarang pengemudi tidur diemperan dan pelataran SPBU yang tersedia guna melepas penat.
Diberitakan arus mudik terpavorit warga Provinsi Riau, khususnya Pekanbaru adalah Sumbar. Sehingga tidak asing lagi setiap parkiran kendaraan baik roda empat maupun dua, dipenuhi bernomor polisi BM.
Cuaca yang hampir tidak ada turun hujan sangat mendukung arus mudik pengguna roda dua. (*)
