Logo Header Antaranews Sumbar

KBRG, Berawal dari Ciloteh di Udara

Sabtu, 6 Desember 2008 20:57 WIB
Image Print

Keluarga Besar Rumah Gadang (KBRG), merupakan sebuah wadah berkumpul dan bergurau perantauan Minangkabau yang hobby bercengkrama di udara melalui pesawat atau lebih akrab disebut "ngebrik".Pada awal dibentuknya organisasi tersebut, oleh para perintis diberi nama Rumah Gadang 780 dengan ketua umum pertamanya adalah Uda St Saladin (Indrajaya). Dicantumkannya angka 780, dikarenakan kalangan "breaker" tersebut, memang berceloteh ria di udara pada frekwensi 147,800 MHZBerbeda dengan organisasi perantauan lainnya yang lebih bersifat kedaerahan dan persamaan profesi, di lembaga yang resmi dibentuk 6 Mei 1988 ini, seluruh anggota tak memiliki profesesi yang beragam. Mulai pengusaha, pegawai negeri, pedagang hingga mahasiswa.Keragaman itu lahir selain karena mottonya yang mencerminkan kebersamaan, "saciok bak ayam, sadanciang bak basi" juga dikarenakan tak adanya hierarki perbedaan mencolok. Malah antara sesama anggota, sapaan akrab yang diperkenalkan adalah "uda" dan "Uni" tanpa melihat perbedaan usia.Seiring dengan perkembangan zaman dan pertambahan jumlah anggota, akhirnya 7 Februari 1997, nama Rumah Gadang 780 resmi berganti dengan Keluarga Besar Rumah Gadang (KBRG). Meskipun terjadi pergantian nama, frekwensi yang dipakai tetap 147,800 MHZ.Drs H Rainal Rais yang dipercaya menjadi ketua umum, ternyata mampu menjadikan kapal bernama KBRG menjadi sebuah organisasi besar dan menasional. Namun demikian, tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan anggota serta berupaya menciptakan lapangan kerja yang baru tak berubah.Dalam perjalanan waktu, kapal KBRG semakin besar dan kian meluas. Sehingga Rainal Rais selaku nahkoda merasa perlu untuk membentuk cabang-cabang baru."Alhamdulillah, saat ini KBRG telah memiliki 15 cabang di seluruh Indonesia dengan jumlah anggota tetap sebanyak 1000 orang.(ted)