Rekaman Suara Kokpit Pesawat "Air Algerie" Tidak Bisa Dipahami

id Rekaman Suara Kokpit Pesawat "Air Algerie" Tidak Bisa Dipahami

Paris, (Antara/Reuters) - Rekaman suara dalam kokpit pesawat Air Algerie, yang jatuh pada Juli di Mali utara dan menewaskan 116 penumpang serta awaknya, tidak bisa dipahami, kata penyelidik, Kamis. Pesawat jenis McDonnell Douglas MD-83 tujuan Aljir itu jatuh pada 24 Juli di selatan kota Gossi, Mali, dekat perbatasan dengan Burkina Faso. Pakar di Paris memeriksa dua kotak hitam, yang diambil dari tempat pesawat itu jatuh. Tim tidak berhasil mengambil informasi dari salah satunya, kata Remi Jouty, presiden penyelidik kecelakaan udara Prancis BEA dalam jumpa pers. Perekam suara dalam pesawat berusia 18 tahun itu menggunakan sistem audio magnetik, sistem yang sudah tidak digunakan lagi dan diganti dengan teknologi digital pada pesawat-pesawat yang lebih baru. Alat perekam itu pecah atau kusut dan harus diperbaiki namun percakapan pilot masih tetap tidak bisa dipahami. "Ada suara-suara dalam rekaman itu namun tidak bisa dipahami," kata Jouty yang diminta mendukung penyelidikan oleh Mali. "Peralatan itu sepertinya sudah merekam namun kami belum tahu kenapa ia tidak bekerja, kecuali bahwa ini bukanlah akibat dari kecelakaan itu sendiri," katanya kepada media seraya menambahkan bahwa indikasi pertama menunjukkan bahwa ini hanya masalah teknis sederhana saja. Para pejabat Prancis mengatakan mereka menduga cuaca buruk merupakan penyebab paling memungkinkan terjadinya kecelakaan penerbangan AH5017 itu namun mereka tidak meyingkirkan kemungkinan lain. "Kami mencoba menhindari teori-teori yang terlalu terburu-buru," kata Jouty. Pilot telah meminta izin untuk mengubah rute akibat badai saat mereka terbang melintasi wilayah utara setelah lepas landas dari ibukota Burkina Faso, Ouagadougou. Pesawat jet itu kemudian terbang memutar menghindari pusat badai, namun saat itu ia perlahan-lahan kehilangan ketinggian dan kecepatan, demikian menurut data dari kotak hitam lain yang diungkapkan BEA di markasnya pada Kamis. Setelah berhasil kembali ke alur asalnya, pesawat itu tiba-tiba berputar balik ke kiri dan turun secara berputar-putar. Pesawat jatuh ke tanah dalam kecepatan tinggi dan akibatnya "sangat luar biasa", kata Jouly. Konsentrasi serpihan-serpihan pesawat di satu lokasi membuat para pakar yakin bahwa pesawat itu pecah saat menyentuh tanah dan bukannya meledak di udara, kata Jouty. Laporan pertama akan dipublikasikan pada pertengahan September, kata kepala komite penyelidikan Mali untuk insiden tersebut. (*/sun)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.