Afrika Selatan Panggil Duta Besar Israel Masalah Permukiman Yahudi

id Afrika Selatan Panggil Duta Besar Israel Masalah Permukiman Yahudi

Johannesburg, (ANTARA/Xinhua-OANA) - Pemerintah Afrika Selatan, Kamis (6/12), memanggil duta besar Israel guna menyampaikan keprihatinan dengan tindakan Israel untuk membuat 3.000 rumah buat pemukim Yahudi di wilayah Palestina yang didudukinya, kata seorang pejabat senior pemerintah. "Pagi ini Departemen (Kerja Sama dan Hubungan Internasional) memanggil Duta Besar Israel (Dov Segev-Steinberg) untuk menyampaikan keprihatinan," kata Wakil Menteri Kerja Sama dan Hubungan Internasional Ebrahim Ebrahim dalam taklimat rutin tentang masalah internasional. "Kami merasa kami harus melakukan ini untuk memperlihatkan betapa prihatin kami mengenai ini," kata Ebrahim sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Jumat. Ia memperingatkan pembanguna lebih lanjut permukiman Yahudi akan benar-benar merusak penyelesaian dua negara dengan mengucilkan Jerusalem Timur, Ibu Kota Negara Palestina pada masa depan, dan dengan mengancam kelangsungan hidup dan persinggungan wilayah Negara Palestina masa depan. Pada Rabu (5/12), Pemerintah Afrika Selatan mengeluarkan pernyataan yang mengutuk keputusan Israel untuk membuat 3.000 rumah baru di darah yang disebut E1 di Tepi Barat Sungai Jordan. Afrika Selatan menyeru masyarakat internasional untuk melipat-gandakan upayanya yang ditujukan bagi penyelesaian politik langgeng dan berkesinambungan. Afrika Selatan menyerukan terutama penerapan penyelesaian dua negara --yang menetapkan Negara Palestina dengan Jerusalem Timur sebagai Ibu Kotanya hidup berdampingan dalam kedamaian dan keamanan dengan Israel di dalam perbatasan yang diakui internasional. Penyelesaian tersebut dilandasi atas perbatasan yang ada pada 4 Juni 1967, kata Ebrahim. (*/sun)

Pewarta :
Editor: Antara Sumbar
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.